Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Jadi Guru Sehari di Kelas Inspirasi

REP | 21 February 2013 | 23:35 Dibaca: 1012   Komentar: 0   1

13614607061689767165

Guru sehari dalam karikatur yang dihadiahkan ke sekolah…

Pagi itu, 20 Februari, aku berangkat dari Depok dengan kereta pertama pukul 05.10 WIB. Setelah turun di stasiun Tebet pada pukul 06.30 WIB aku langsung naik angkot no.44 menuju sebuah alamat: Jl. Bek Murad No.14 Jakarta. Itu adalah alamat SD N 01&02 Karet Kuningan yang menjadi tempatku mengajar di Hari Inspirasi bersama 12 teman lain. Ternyata bangunan sekolah yang sangat sederhana tersebut bagai terjepit diantara gedung-gedung pencakar langit mulai dari Sampoerna Square, WTC Kuningan dan sebuah apartemen.

Saat tiba di sekolah tersebut aku sangat terharu menyaksikan aktivitas pagi anak-anak sebelum belajar di kelas masing-masing. Ada yang jajan, bersenda gurau dengan teman-temannya, melamun, memerhatikanku dengan wajah heran hingga yang berlarian kesana-kemari. Sekolah tersebut terdiri atas dua bangunan tiga lantai berbentuk ‘L’ dengan halaman kecil yang hanya cukup untuk melaksanakan upacara bendera. Aku yakin bahwa bangunan tersebut sudah tua dan telah melahirkan ribuan lulusan. Namun, para guru dan murid merawat sekolah tersebut dengan sangat baik. Tak ada sampah yang berserakan, halaman dipenuhi aneka bunga, sementara dinding sekolah dipenuhi aneka photo mulai dari photo Presiden Soekarno hingga photo Gubernur Sutiyoso. Juga dua buah lemari yang penuh dengan piala.

1361463325593797725

Dua orang murid yang menjawab pertanyaanku dengan malu-malu…

13614640671081203939

Suasana sekolah…

Setiap pengajar dari Kelas Inspirasi mendapat jatah mengajar 3-4 kelas. Aku mendapat 4 kelas yaitu kelas 2-4 sejak pukul 07.30 pagi sampai pukul 11.50 siang. Bagaimana rasanya jadi guru sehari? Mari kuceritakan padamu.

Pertama, setelah berkenalan dengan para guru di ruang rapat, aku masuk ke kelas pertamaku. Kelas 2. Aku benar-benar gugup. Seumur hidupku, ini adalah pengalaman pertamaku mengajar anak-anak SD. Pertama-tama aku mengajarkan mereka permainan sederhana agar mereka berkonsentrasi. Lalu aku mengenalkan diriku dan pekerjaanku. Karena aku bekerja di NGO Lingkungan Hidup, maka agar mudah dipahami maka aku bilang bahwa ini ‘Polisi Lingkungan’. Kemudian kami bicara tentang hobi dan cita-cita. Anak-anak merasa gembira sebab di kelas ini mereka banyak bermain dan bernyanyi. Nah, karena aku tidak terbiasa jadi guru, aku merasa mati kutu saat ada anak-anak¬† yang tidak konsentrasi dan memilih menaruh kepalanya di meja, atau bermain dengan temannya, atau menggigit pensil atau membaca buku. Oh Tidakkkkkkkk. Ternyata jadi guru itu tidak mudah, maka hari saat itu hatiku memohon maaf pada belasan guru yang mungkin kesal akan kelakukanku saat kau SD, SMP, SMU bahkan ketika di bangku kuliah.

1361464930493028965

Para murid bernyanyi untuk para Guru Inspirasi…

Kedua, aku mendapat kelas 3. Metode yang kugunakan tak jauh berbeda dengan kelas sebelumnya, hanya saja model penyampaian pekerjaanku yang sedikit dimodifikasi. Di kelas ini ada dua anak yang mendominasi yang lain dan berbicara semaunya sendiri. Analisisku sih anak-anak ini suka mendengarkan berita di televisi dan nimbrung pembicaraan orangtua. Misalnya begini, saat kutanya “Siapa yang cita-citanya jadi Gubernur? seperti pak Jokowi?” beberapa anak nyeletuk “Ah, saya mah sukanya sama Foke.” Dan aku sungguh terkejut akan keterusterangan mereka. Beberapa anak di kelas ini kasar, suka bicara semaunya dan suka mengejek temannya. Tetapi aku percaya bahwa mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak yang baik. Aku berterima kasih bisa berbagi dan belajar bersama mereka.

Ketiga. Kelas 3 lagi. Jumlahnya hanya 9 siswa. Nampaknya kelas tersebut sedang bosan saat aku masuk.¬† Jadi setelah memperkenalkan diri, aku menghamparkan peta dunia di lantai dan meminta mereka berkumpul denganku. Aku menunjukkan tempat-tempat yang pernah aku kunjungi selama hidupku. Lalu aku meminta mereka untuk menunjukkan tempat manakah di bumi ini yang ingin mereka kunjungi dan untuk apa mereka kesana. Ada yang ingin ke Paris karena ia bercita-cita jadi model, ada yang ingin ke Spanyol karena ia penggemar Real Madrid, ada yang ingin ke Jepang karena ingin bertemu Kaptain Tsubasa, ada yang ingin ke Mesir untuk melihat Piramida, ada yang ingin ke Russia karena ingin melihat perang, ada yang ingin ke London karena ingin melihat Ratu Elizabeth. Dalam hati aku hanya bisa bilang ‘WOW, kalian keren sekali’

Keempat. Ini adalah kelas terakhir dengan siswa 36 orang. Siswa di kelas ini lumayan bisa bekerjasama dan hanya 2 anak yang tidak bisa konsentrasi. Saat kami membicarakan cita-cita, mereka saling mengejek saat ada temannya yang mengutarakan cita-cita berbeda dari yang mereka ketahui sebelumnya.”Kok jadi dokter sih, katanya mau jadi model?” celetuk seorang anak. Mereka lumayan kompak dan tidka lagi malu-malu saat kuminta bicara di depan kelas. Di kelas ini aku meminta anak-anak untuk menuliskan cita-cita mereka di selembar kertas yang pada akhir acara.

“Nah, sekarang berdiri berhadapan dengan temannya. Lalu saling berjabat tangan.” Kataku. Dengan malu-malu mereka menjabat tangan teman yang berdiri dihadapan mereka. “Katakan, ‘terima kasih teman’” Kataku dan mereka meniru dengan malu-malu “Terima kasih teman.” Lalu aku meminta mereka meletakkan telapak tangan kanan mereka di dada kiri mereka dan kami semua bilang, “Terima kasih diriku,” lalu “Terima kasih bu guru”. Pertemuan dengan kelas terakhir ini kututup dengan ucapan terima kasihku pada mereka dan mereka berterima kasih dengan Wussshhh ala Superman “duk duk duk duk *memukul meja*, tereret ret tereret ret wuuussshhh” dan aku keluar kelas dalam keadaan tertawa terbahak-bahak karena lucu.

13614627391775043820

Menanam pohon cita-cita

Beberapa murid mengerumuni Stefy, salah seorang guru yang manis dan jadi favorit. Saat aku berdiri di lorong dan memperhatikan akivitas anak-anak, beberapa murid langsung mencium tanganku saat bertemu, tapi sialnya aku lupa kelas berapa mereka. Ada yang mengintip malu-malu dan bertanya, “Bu Ika, besok ngajar disini lagi kan?” dan kujawab “Insya Allah, kalau pak Idris mengijinkan,” dan anak itu bertanya sebanyak 5 kali dan aku menjawabnya sebanyak 5 kali juga, hehehe.

Setelah kelas usai kami berkumpul di halaman. Pak Idris sang Kepala Sekolah menyampaikan ucapan terima kasih kepada kami para guru sehari. Juga menyemangati anak-anak agar belajar dengan giat agar cita-citanya tercapai. Setelah itu para perwakilan masing-masing kelas menggantung cita-cita mereka dipohon sawo yang sengaja kami bawa sebagai hadiah untuk ditanam di halaman sekolah. Menjadi guru dadakan meski hanya sehari membuatku lumayan lelah. Tapi, aku sungguh senang karena aku bisa tertawa, bernyanyi dan terbahak-bahak bersama anak-anak dengan kelakukan mereka yang lucu. Semoga kami menjadi inspirasi bagi mereka dan mereka semakin giat belajar untuk menggapai cita-cita.

Lilin telah dinyalakan
Untuk menerangi jalanmu
Membantumu melangkah
Berjalanlah terus, Nak
Raih cita-citamu…

Depok, 21 Februari 2013

Baca juga

‘Surat Inspirasi’ dari Anies Baswedan

We Called it Politic

365 Hari Bulan Madu Keliling Indonesia

Aku Ingin Hidup 100 tahun Lagi, Kata Kartini

Perempuan Lebih Berkuasa daripada Lelaki

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 6 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 10 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 11 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 12 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: