Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Tragedy of The Commons

OPINI | 25 February 2013 | 01:22 Dibaca: 356   Komentar: 0   0

Tragedy of The Commons

Artikel Garret Hardin “The Tragedy of The Commons” mengatakan bahwa sumber daya alam di dunia ini ditakdirkan akan mengalami kehancuran. Hal ini disebabkan oleh egoisme dan keserakahan manusia dan secara naluri mereka selalu mengutamakan dan ingin memperoleh kepentingan hanya untuk diri mereka sendiri. Contoh akan hal tersebut antara lain seperti ketika penggembala domba mencoba memelihara domba-dombanya di padang rumput yang tebuka untuk umum. Para penggembala domba tersebut terus menerus menambahkan dombanya untuk mereka pelihara di padang rumput tersebut karena hal ini akan menghasilkan keuntungan lebih banyak untuk mereka. Akan tetapi hal mereka tidak sadar bahwa persedian rumput itu terbatas. Apabila domba-domba si penggembala memakan rumput di padang secara berlebihan, persediaan rumput di ladang tersebut bisa saja habis tanpa sisa serhingga tidak ada lagi persediaan rumput untuk berikutnya.

Contoh “Tragedy of The Commons” sudah dapat dijelaskan melalui contoh para pengembala domba di atas, atau ketika para pelaut mencari ikan di laut yang tanpa mereka sadari hal yang mereka lakukan akan menyebabkan kepunahan dari jenis ikan yang mereka tangkap, yang mampu juga menyebakapan kepunahan jenis makhluk hidup lain.

Garrett Hardin menyatakan bahwa ledakan penduduk akan menyebabkan degradasi sumber daya alam karena mereka mendapatkan dan membutuhkan sumber daya alam yang lebih banyak daripada yang telah disediakan. la pun mengungkapkan bahwa masalah kependudukan merupakan bagian dari “no technical solution problems” (masalah yang tidak memiliki solusi teknis), karena hingga saat ini pun masalah mengenai kependudukan, terutama ledakan penduduk masih belum terpecahkan penyelesaiannya. Hardin menyatakan walaupun dengan hadirnya teknologi baru yang mampu memproduksi bahan makanan yang lebih banyak untuk  para penduduk, hal ini tidak dapat memuaskan antara kualitas kehidupan dan populasi itu sendiri. Sulit pula untuk menentukan batasan jumlah peduduk dan apa yang harus kita berikan untuk memuaskan mereka karena setiap individu memiliki kadar kepuasan yang berbeda-beda. Semakin banyak penduduk, semakin sedikit orang yang akan mau untuk berbagi antar sesama.

Hardin menyatakan salah satu cara untuk mengatasi tragedy of the commons adalah dengan memberikan batasan kepada penduduk tentang kebebasan mereka untuk bereproduksi. Dengan hal ini diharapkan akan mampu menurunkan tingkat populasi sehingga tidak melebihi batas maksimum dari tingkat sumber daya alam yang ada untuk mereka konsumsi dan pergunakan. Tetapi hal ini masih mengalami kesulitan untuk mencari cara yang paling efektif menerapkan hal ini yang kemudian dengan sukarela para penduduk mengikutinya. Sistem ini sulit diterapkan secara praktis karena secara tidak langsung mengambil hak yang miliki para penduduk akan kebebasan mereka untuk bereproduksi.

Tragedy of The Commons mengajarkan kita bahwa dalam mengejar keberlanjutan yang terbatas kita harus belajar untuk melihat hal-hal bukan hanya dari sudut pandang kita sebagai individu tetapi dari sudut pandang kita secara global. Sayangnya, sulit untuk membuat orang berempati dan berpikir secara global, bahwa kita hidup tidak sendiri dan diharuskan untuk selalu berbagi. Perlu digaris bawahi seperti yang Hardin katakan bahwa dunia yang terbatas hanya dapat mendukung populasi yang terbatas pula. Pertimbangan dan pemikiran secara global dan mengesampingkan kepentingan pribadi perlu lebih dikembangkan lagi demi keberlangsungkan hidup kita sebagai sesama makhluk hidup di dunia ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keluarga Pejabat dan Visa Haji Non Kuota …

Rumahkayu | | 30 September 2014 | 19:11

Me-“Judicial Review” Buku Kurikulum …

Khoeri Abdul Muid | | 29 September 2014 | 22:27

Spongebob dalam Benak Saya …

Irero 29 | | 30 September 2014 | 16:48

Sepak Bola Indonesia Kini Jadi Lumbung Gol …

Arief Firhanusa | | 30 September 2014 | 15:58

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 9 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 12 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 12 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 13 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

1 Medali Emas Malaysia Jadi Milik Indonesia …

Djarwopapua | 7 jam lalu

PDIP, PKB, Nasdem Berjuang Demi Rakyat …

Slamet Dunia Akhira... | 7 jam lalu

Pembangunan Sheet Pile Cideng – Thamrin …

Charles Erbianco | 7 jam lalu

Raja, Panglima Kuda Dan Pasukan Banteng …

Herwin Halman | 8 jam lalu

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: