Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hyashintaonen

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2011

The Tragedy Of The Common (Tragedi Kepemilikan Bersama)

OPINI | 25 February 2013 | 11:27 Dibaca: 742   Komentar: 0   0

Resume Perkuliahan Komunikasi Lingkungan Dosen : Yohanes Widodo, M.Sc.

Oleh : Hyashinta Amadeus Onen Pratiwi


Tragedy of the Commons adalah kekejaman tanpa belas kasihan dalam bekerja demi merebut sesuatu. Jadi tragedy disini bukanlah suatu keadaan yang tidak membahagiakan. Hal ini sejalan dengan yang diaktakan oleh Whitehead yang mengatakan bahwa esensi kata tragedy disini bukanlah ketidakbahagiaan. Tragedy of the Commons terkait erat dengan sumber daya karena yang ingin dikuasai dalam hal ini adalah sesuatu yang memang merupakan modal manusia. Sumber daya ini berlimpah dan merupakan milik bersama.

Tragedy of the Commons menarik untuk dibahas karena berkaitan erat dengan kehidupan kita sebagai sebuah populasi. Malthus berpendapat bahwa pertumbuhan populasi bersifat geometrical dan hal ini menjadi masalah. Mengapa? Baik secara teoritis maupun biologis, setiap organisme dalam populasi membutuhkan energi untuk berkembang. Energi ini tidak hanya digunakan saat bekerja tetapi juga saat bersantai atau rekreasi. Pada intinya energi ini dibutuhkan dalam segala aktivitas. Populasi terus berkembang sedangakan alam bersifat tetap. Hal ini membuat peledakan populasi menjadi sebuah tantangan bagi kita.

Permasalahan populasi ini tidak hanya membutuhkan solusi teknis berupa segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi. Ilmu pengetahuan, teknologi, secara tidak langsung telah menimbulkan dampak bagi lingkungan tempat manusia hidup. Oleh karena itu dibutuhkan solusi yang lebih mendasar yaitu perlunya kesadaran dari setiap orang untuk secara bijak bersahabat dengan alam. Adam Smith menyatakan perlu adanya kontrol dari orang – orang sebagai suatu prosedur untuk mewujudkan populasi yang optimal. Mustahil untuk membuat pertumbuhan populasi menjadi nol atau dengan kata lain meminimalisir populasi. Oleh karena itu yang diperlukan adalah mengoptimalkan populasi. Bukan secara kuantitas, tetapi secara kualitas.

Tragedy of Freedom in a Commons

Hal yang menjadi sumber masalah di sini adalah pemahaman mengenai makna kebebasan. Pada umumnya kebebasan diartikan sebagai hak untuk melakukan apa saja sesuka hati. Hal inilah yang turut menjadi pemicu munculnya banyak eksploitasi berlebihan dan masalah lingkungan yang merugikan banyak pihak. Dengan kata lain seperti yang ditulis oleh Garrett Hardin dalam thesisnya “Freedom in a commons brings ruin to all”.

Contoh dalam kasus ini adalah penggunaan lahan pertanian untuk investasi pribadi di bidang property real estate yang saat ini menjadi bisnis yang menggiurkan. Lahan hijau di perkotaan semakin berkurang dan banjir tidak terelakkan lagi. Kalimantan yang dikenal sebagai paru-paru dunia pun tak luput menjadi objek untuk membangun bisnis sawit. Hutan dibakar untuk dijadikan pemukiman atau perkebunan. Dampaknya memang bukan jangka pendek, tetapi jangka panjang.

Tragedy of the Commons juga menyangkut masalah polusi. Pembuangan sampah atau limbah ke perairan (sungai, laut, danau, selokan, dll) berupa bahan kimia, sampah rumah tangga, maupun bahan radioaktif. Polusi juga terjadi di udara akibat asap kendaraan, sisa pembakaran, maupun asap pabrik. Sampah/limbah yang dibuang di daratan pun menyebabkan masalah lingkungan. Pikiran sempit bahwa apa yang kita buang tidak sebanding dengan besarnya ala mini, membuat kita berpikir sampah/limbah tersebut akan hilang dengan sendirinya. Pemikiran semacam ini yang membuat jumlah sampah dan limbah semakin meningkat tanpa adanya pengolahan yang mumpuni.

Penumpukan limbah ini akhirnya menjadi polusi. Polusi tentunya merugikan populasi yang ada di lingkungan tersebut. Perlu diingat bahwa polusi terkait dengan lingkungan. Semakin besar jumlah populasi, semakin besar pula jumlah sampah/limbah yang dihasilkan. Hal ini berkaitan dengan banyaknya barang privat yang dimiliki oleh manusia, serta aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah yang juga menjadi alasan mengapa populasi perlu dikontrol dan dioptimalkan.

Di negara maritim, eksploitasi laut yang berlebihan juga terjadi. Hal ini mengakibatkan hampir punahnya banyak spesies laut dan terganggunya keseimbangan alam. Negara maritim pada umumnya menganut asas “Freedom of the seas” sehingga kebebasan ini dijadikan sebagai acuan. Oleh karena itu The National Park memberikan solusi lain dalam mengatasi tragedi umum yang terjadi yaitu menganggap sumber daya sebagai milik bersama (bukan milik pribadi), mengalokasikannya secara tepat dan bijaksana, serta kesadaran untuk terus menjaga serta melestarikannya bersama-sama.

How to Legislate Temperance?

Tragedy of the Commons dapat diselesaikan dengan menggunakan moralitas dan hati nurani. Moralitas disini tidak cukup hanya berupa gambar, fotogarafi. Mengapa? Karena sebuah gambar dapat mempunyai 1000 arti, tetapi butuh 10000 kata untuk membuktikan bahwa arti tentang gambar itu valid. Hal ini disebabkan sebuah gambar diambil hanya pada salah satu adegan padahal butuh kejelasan secara total untuk dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Oleh karena itu diperlukan juga kata-kata. Moralitas yang ada sekarang ini tidak lepas dari kehidupan masa lalu. Hukum yang ada di masyarakat juga mengikuti etika yang memang sudah ada sejak dulu. Inilah yang menjadi alasan perlunya hukum secara tertulis mengingat manusia terus berkembang dan berubah. Etika dan moralitas pun secara tidak langsung mengalami perubahan. Moralitas dan etika tidak bisa hanya berupa hukum tidak tertulis, tetapi butuh hukum tertulis.

Berbicara masalah hukum, tentunya tidak lepas dari peran pemerintah. Dibutuhkan pemimpin pemerintahan yang benar-benar mempunyai integritas. John Adams berkata kita membutuhkan “a government of laws, not men”. Pelanggaran terhadap moralitas seperti korupsi telah menghasilkan “government by men, not laws”. Oleh karena itu perlu hukum yang tegas dan pemimpin yang tepat.

Kesimpulan

Pendekatan teknis terkadang tidak dapat menyelesaikan semua masalah. Oleh karena itu penyelesaian non teknis juga perlu dilakukan. Permasalahan perebutan sumber daya antara berbagai stakeholder dapat diselesaikan dengan konsep non teknis pengelolaan terpadu. Penyalahgunaan lahan, penggundulan hutan, sampah/limbah, polusi, eksploitasi laut tanpa disadari mempunyai dampak jangka pendek dan jangka panjang. Masalah lingkungan akan terus terjadi jika tidak ada kesadaran dari masing-masing individu. Oleh karena itu Tragedy of the Commons ini dapat diselesaikan dengan menggunakan moralitas dan hati nurani. Kesadaran pribadi diperlukan ketika memang sudah menemui jalan buntu untuk menyelesaikan masalah ini secara teknis.

Kebebasan yang tidak bertanggungjawab akan mengakibatkan penderitaan bagi banyak pihak. Seperti apa yang Garrett Hardin katakan dalam thesisnya “Freedom in a commons brings ruin to all”. Dampak yang hebat memang tidak terjadi di awal, tetapi ketika jumlah populasi meningkat dan keseimbangan alam mulai terganggu, maka permasalahan akan bertambah. Untuk menghindarinya, memang diperlukan semacam pemaksaan berbentuk aturan atau hukum tertulis, sanksi, dan atural non formal yang dibuat dan disepakati oleh masyarakat serta stakeholders. Disini, edukasi berperan penting untuk membentuk kesadaran akan kebebasan yang tidak merusak alam.

Referensi:

Hardin, Garrett. 1996. The Tragedy of the Commons.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Imbangi Valencia B, Indra Sjafrie Malah …

Djarwopapua | | 19 September 2014 | 14:17

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 7 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 8 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 8 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 11 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Calo Berkeliaran di Baitulharam …

Choirul Huda | 8 jam lalu

BPJS dAN KJS Sangat Membantu Masyarakat …

Sony Hertanta | 8 jam lalu

Penipuan Bermodus Penangkapan!!! (Silahkan …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Yuk, Jadi Pengguna Elpiji yang Cerdas dan …

Yoseph Purba | 8 jam lalu

Konsep Unik Band dengan Bertopeng …

Anto Karsowidjoyo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: