Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sahabat Potret

Membangun budaya menulis di kalangan perempuan dari Aceh untuk Indonesia. Sahabat POTRET adalah komunitas penulis selengkapnya

Alhamdulilah, Aku bisa Jadi Sarjana

OPINI | 26 February 2013 | 09:37 Dibaca: 130   Komentar: 0   1

Alhamdulilah, Aku bisa Jadi Sarjana

Oleh Nana

Anggota komunitas POTRET, Berdomisili di Banda Aceh

Anak adalah anugrah Tuhan yang tak ternilai harganya dan mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang terbaik .Cuma kandang-kandang, ada yang kurang beruntung dalam mendapat pendidikan di dasari oleh berbagai faktor di antaranya faktor lingkungan ,faktor keluarga dan masalah ekonomi.seperti contoh aku ini.

Aku terlahir dari keluarga kurang mampu dan mempunyai 5 saudara kandung. Ayah ku seorang nelayan yang bekerja pada boat orang. Sedangkan ibu ku seorang ibu rumah tangga. Dari sejak SD aku sekolah tidak pernah merasakan uang jajan/uang saku. Jangankan untuk uang saku, untuk membeli pelengkapan sekolah saja tida punya. Aku hanya menggunakan fasilitas bersekolah apa adanya/ fasilitas yang cukup amat kurang .

Aku masih teringat, dulu waktu SD, aku ke sekolah menggunakan tas kantong plastic. Buku yang aku gunakan juga apa adanya. Apalagi buku cetak, sering tidak ku beli karena keterbatasan biaya. Yanhg ku lakukan saat itu adalah meminjam buku dari kawan sebangku ku.

Hari –hari, ku lalui. Yang ada di benakku adalah bagaimana caranya aku bisa sekolah dan belajar seperti anak-anak yang lain. Kalau pun aku harus berjalan kaki ke sekolah dengan jarak yang cukup lumayan jauh dengan melewati sungai dan tambak-tambak sejak SD sampai SMP. Pada saat aku SMA, aku merasakan sangat kesulitan, karena aku ke sekolah harus menggunakan kedenradaan umum yakni naik labi-labi, karena jarak tempuh yang jauh. Orang tua ku hanya memberikan ongkos transport saja. Sedangkan yang lainnya tidak.

Kondisi semacam ini tidak membuat semangatku mendapatkan p[endidikan padam seperti kebanyakan anak perempuan lain yang bernasib sama. Kondisi ini menambah subur tumbuh semangat juang ku untuk mencari uang untuk biaya sekolah. Apa yang ku harus lakukan saat itu, aku harus mencari sumber pendapatan ku. Maka, sepulang sekolah aku mencari tiram dan isinya ku jual. Kadang-kadang aku ikut abangku untuk menjala ikan. Pada waktu subuh di saat orang masih tidur, aku dan abangku sudah bangun dan pergi ke sungai di belakang rumah untuk menjala udang, lalu dijual. Tugas ku hanya memilih udang dari jala dan memasukannya ke dalam keranjang. Sesudah udangnya terjual, aku diberikan uang sedikit dari hasil penjualan udang.

Kadang-kadang aku menjual kue ,es manis di sekolah. Tidak jarang pula aku berkerja membantu tante ku di rumahnya yang berprofesi sebagai seorang guru. Saat pulang dari rumahnya, aku sering diberikan uang dan uang itu ku simpan baik-baik untuk biaya sekolah.

Hari –hari ku pun lalui tanpa rasa lelah. Apapun aku kerjakan, asal halal. Memang kadang-kadang aku merasa sedih, apabila aku melihat kawan-kawan. Apa lagi di saat awal masuk sekolah dan lebaran. Mereka memakai baju baru, sepatu baru. Sedangkan aku cuma memakai baju bekas pemberian sepupukku. Tetapi, niat dalam hatiku tidak putus aku ingin sekolah sampai dengan kuliah. Aku berjuang untuk tercapai keinginan ku.

Alhandullilah akhirnya aku bisa kuliah. Aku boleh mengatakan bahwa untuk kuliah, akau membiayai diriku sendiri. Karena pada saat kuliah itu, hampir 95 % ku biayai sendiri dari transport, uang SPP,baju seragam dan lain-lain. Sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan emosi, pada saat kuliah aku sering merasa sedikit minder dari kawan-kawan ku. Dari sudut penampilan, tentu saja akan sangat berbeda. Mereka serba berpenampilan necis, gaul penuh dengan gaya dan baju yang beragam model dan berbagai macam bentuk sepatu. Sedangkan aku “baju yang ku pakai kadang-kadang kemeja punya bapak dan abangku. Begitu juga dengan sepatu, apa adanya

Namun, dengan nasehat orang tua ku dan aku berdoa setiap habis shalat agar dikuatkan iman dan diberikan ketabahan, perasaan minder pun akhirnya hilang. Hilang ditelan semangat untuk belajar. Sebab, yang ada di pikiran ku bagaimana caranya aku tamat mendapat gelar sarjana. Tentu saja, hari yang paling ku tunggu-tunggu akhirnya tiba. Aku wisuda dan mendapat gelar sajana (SE ).

Pengorbanan dan perjuangan yang tidak sia-sia. Aku bisa memetik hasil perjuangan itu. Aku bisa sekolah dan bekerja untuk memperbaiki kualitas hidup. Kendati pun waktu untuk bermain seusia ku hilang saat itu, aku sangat bahagia dan senang. Bagiku,pendidikan adalah yang utama. Doa dan senyum orang tua ku adalah semangatku. Aku begitu senang bisa sekolah walaupun serba kekurangan yang penting aku bisa sekolah. Orang tua ku sering memberikan aku nasehat agar aku tidak selalu memadang ke atas, tapi lihat lah di bawamu. Maknanya jangan melihat yang lebih dari orang lain, tetapi lihat lah orang-orang di bawah kamu yang sama sekali tidak bisa /tidak mempunyai kesempatan untuk bersekolah.

Sering kali aku meneteskan air mata, kala teringat masa lalu pada saat aku sekolah dulu. Jika ku bandingkan dengan anak-anak sekolah sekarang dengan latar belakang ekonomi yang lebih dan fasilitas tersedia semua, tapi tidak mau sekolah. Dari rumah katanya kepada orang tua ya ke sekolah, tetapi tidak sampai ke sekolah. Mereka cabut alias bolos sekolah. Alangkah sayang dan bodohnya mereka menyia-yia kesempatan yang Allah berikan kepada mereka di bandingkan anak-anak lain yang mau bersekola,h tetapi tidak bisa kesekolah karena berbagai faktor padahah pendidikan itu untuk kita sendiri. Mereka sering tidak sadar, karena merasa ingin mendapatkan kebebasan yang membuat mereka kelak terpuruk karena tidak dengan sungguh-sungguh bersekolah. Bersekolah dengan sungguh-sungguh, adalah jembatan menuju kehidupan yang lebih baik. Oleh sebab itu, pandai pandailah meniti buih, meniti kehidupan dengan sebagal persiapan sejak dini. Bersekolah mencari ilmu setinggi mungkin karena itu modal yang sangat penting untuk masa sekarang dan masa yang akan datang . Alhamdulilah, itulah ungkapan rasa syukur ku kepada Mu ya Allah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelantikan Presiden Jokowi Menggema di …

Ely Yuliana | | 20 October 2014 | 20:18

Jokowi Jadi Cover Story Tabloid ChinaDaily …

Rahmat Hadi | | 20 October 2014 | 20:13

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05

Hampir Tertipu dengan ‘Ancaman’ Petugas …

Niko Simamora | | 20 October 2014 | 19:49

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00



HIGHLIGHT

Trip to Banda Aceh #1 …

Rinta Wulandari | 8 jam lalu

Menjadi Manusia yang Sebenarnya …

Dayoe Yogeswary | 8 jam lalu

Inilah Akibat Buku Jendela Dunia …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Asa Negeri …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Jika Tak Dikelola, Kerbau bisa Terancam …

Panca Nugraha | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: