Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bude Binda

Langkah kecil kita mengubah dunia. Berpuisi di Http://jendelakatatiti.wordpress.com.

Mengapa Lulusan Terbaik SLTA Tidak Mau Menjadi Guru?

OPINI | 26 February 2013 | 16:47 Dibaca: 416   Komentar: 0   2

Oleh Bude Binda

Membaca tulisan seorang Kompasianer tentang perbandingan hasil survei sebuah lembaga pendidikan yang menempatkan Indonesia di peringkat 40 dari 40 negara yang diteliti dengan hasil Uji Kompetensi Awal Guru saya menjadi terusik.

Mengapa hasil survei itu hasilnya sangat mengecewakan. Selama ini gurulah yang dituding sebagai biang keladi belum bagusnya pendidikan Indonesia. Lantas apa manfaat sertifikasi guru yang telah berjalan beberapa tahun? Sertifikasi guru yang berupa tunjangan profesi satu kali gaji pokok yang diberikan kepada guru yang telah memenuhi syarat sertifikasi. Tambahan penghasilan ini tentu saja telah berhasil menambah penghasilan guru, namun tak akan serta merta meningkatkan kualitas dan kinerja guru. Kinerja atau profesional kan suatu sikap yang tumbuh selama bertahun-tahun, bukan sulapan sim salabim mendapat tunjangan sertifikasi langsung profesional. Mimpi kali……

Sementara itu ada uji kompetensi awal guru. Uji itu dilaksanakan tahun lalu untuk guru sebelum dia menjalani pelatihan guru atau PLPG di mana hasilnya bagi yang lulus akan mendapat sertifikat pendidik sebagai tiket mendapatkan tunjangan profesi. Sementara bagi yang belum lulus akan mengulang sampai lulus. Uji kompetensi awal tentu saja menggambarkan kemampuan sebagian guru ya pesertanya yang tentu saja entah berapa persen dari guru seluruh Indonesia.

Ada juga Uji Kompetensi Guru. UKG ini dilaksanakan untuk guru yang  sudah mendapat tunjangan sertifikasi. Hasilnya pun belum memuaskan. Nilai lulus 70 (dari skala 1-100). Ternyata belum separuh dari seluruh peserta yang lulus (di kabupaten saya). Bahkan guru Bahasa Indonesia SMP yang saya tahu baru satu yang lulus dengan nilai 71. Saya termasuk yang belum lulus, nilai saya 61.

Mengapa kemampuan guru demikian memprihatinkan? Apakah di depan kelas penampilannya juga tidak meyakinkan?  Perlu penelitian lebih lanjut.

Lantas, dengan kurikulum yang diganti lagi-lagi sim salabim akan menyelesaikan persoalan. Tentu saja tak semudah itu meningkatkan kualitas, kinerja guru hanya dengan mengganti kurikulum. Apa lagi kurikulum 2013 masih penuh dengan pro dan kontra. Terutama dihapusnya mata pelajaran bahasa daerah dan hanya dimasukkan ke ekstra kurikuler serta berbagi jam dengan seni budaya, tak lagi berdiri sendiri.  Untuk SD menjadi kontroversi ketika IPA dan IPS dimasukkan ke dalam Bahasa Indonesia.

SDM GURU

Sekarang mari kita telaah sumber daya manusia seorang guru. Lulusan SLTA terbaik, dengan nilai yang bagus, atau katakan siswa yang pintar ternyata biasanya tidak masuk kuliah di jurusan atau fakultas keguruan. Mereka lebih memilih untuk mewujudkan keinginannya menjadi dokter, insinyur, pilot, pegawai bank. Guru belum menjadi cita-cita yang difavoritkan.

Barulah yang prestasinya menengah-bawah melanjutkan studinya ke jurusan kependidikan. Dari sinilah akan mulai tampak mengapa SDM guru belum semuanya unggul. Sehingga hasil uji kompetensi pun tak bisa menutupi kenyataan, kalau memang SDM guru mau tak mau mengakui memang masih rendah!

Iming-iming sertifikasi guru belum menjamin siswa terbaik masuk jurusan/fakultas keguruan. Silakan ingat-ingat teman Anda yang terpandai ke kelas, apakah dia menjadi guru atau melanjutkan studi sekolah guru? Satu kali gaji pokok belum lebih menggiurkan dibanding dokter. Fakultas kedokteran dengan  biaya yang sangat mahal, namun menjanjikan nilai ekonomi dan status sosial yang tinggi. Tak pernah fakultas kedokteran sepi peminat.

Saya pernah membaca kalau di Swedia guru merupakan siswa terbaik di sekolah menengah. SDM guru benar-benar unggul, mereka bahkan lebih pandai dibanding profesi lain (maksudnya lulusan terbaik menjadi guru, yang di bawah mereka baru menjalani profesi lain). Tak heran pendidikan di Swedia menjadi nomor satu di dunia bersanding dengan Korea.

Gaji guru di Swedia juga lebih tinggi dibanding profesi lain.

Jadi, kesimpulannya adalah sejak SDM guru kita sudah beda dengan negara yang pendidikannya terbaik di dunia. Dari segi penghasilan juga beda. Belum lagi bicara  fasilitas, perpustakaan, kurikulum.

Akan tetapi masih ada tentu saja secercah harapan, banyak guru yang walau mungkin tak lulus UKG namun punya semangat dan passion dalam melakukan upaya mencerdaskan bangsa seperti yang diamanatkan Pembukaan UUD 1945. Tetaplah optimis dunia pendidikan Indonesia, mari kita bersama-sama melakukan yang terbaik! Salam hormat saya.

BUDE BINDA

Banjarnegara, Selasa 26 Februari 2013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 12 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 12 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 13 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 16 jam lalu

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: