Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hari Aji Al Jatimi

Guru SMK yang bercita-cita ingin menjadi Chef

Di Manakah Letak Kebahagiaan itu ?

OPINI | 28 February 2013 | 05:52 Dibaca: 572   Komentar: 0   1

13620054491754384490

doc. pribadi

HAA.

Di dalam setiap benak manusia pastilah menginginkan kententraman dan kebahagian hakiki. Lalu yang menjadi pertanyaan, di mana letak kebahagian dan ketentraman itu? Di materikah? Di harta melimpahkah? Atau….?

Sobat, secara realita sering kali kita melihat banyak di antara manusia yang diberikan kelebihan oleh Allah berupa harta yang melimpah namun di sisi lain batin mereka terusik. Terusik untuk mencari cara mempertahankan kekayaan yang dia cari. Terusik untuk melanggengkan kekayaan. Terusik memikirkan nasib generasi ke depan, hingga muncul ucapan “semoga hartaku dapat dinikmati sampai tujuh turunan”. Dari sini saja muncul berbagai kemudharatan, makin banyaknya manusia menjual keyakinannya demi materi dunia, makin banyak pula manusia menggadaikan harga dirinya hanya demi syahwat harta semata.

Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang ini benarkah kepemilikan harta yang melimpah merupakan hakikat kebahagiaan?

Sobat, jika kita mendefinisikan arti kebahagiaan dari sisi harta, maka niscaya “Karun”, “Fir’aun” adalah generasi yang paling mulia. Namun seperti kita ketahui, justru karena harta dan ambisi mempertahankan kelanggengan harta tersebutlah yang akhirnya menjerumuskan mereka ke dalam lembah nista.

Bandingkan dengan kisah Rasulullah:Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.” (HR. Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: “Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang tiga hari berturut-turut semenjak tiba di kota Madinah sampai beliau wafat.”(Muttafaq’alaih)


Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tidak mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Hingga beliau tidur dalam keadaan lapar, tidak ada sesuap makanan pun yang mengganjal perut beliau. Ibnu Abbas menuturkan sebagai berikut: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarga beliau tidur dalam keadaan lapar selama beberapa malam berturut-turut. Mereka tidak mendapatkan hidangan untuk makan malam. Sedangkan jenis makanan yang sering mereka makan adalah roti yang terbuat dari gandum.” (HR. At-Tirmidzi)

Keadaan seperti itu bukan karena beliau tidak punya atau kekurangan harta. Justru harta melimpah ruah berada dalam genggaman beliau dan harta-harta pilihan diusung ke hadapan beliau. Akan tetapi, Allah Subhanahu wata’ala memilih keadaan yang paling benar dan sempurna bagi Nabi-Nya Subhannahu wa Ta’ala.


‘Uqbah bin Al-Harits berkata: “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami shalat Ashar. Seusai shalat, beliau segera memasuki rumah, tidak lama kemudian beliau keluar kembali. Aku bertanya kepada beliau, atau ada yang bertanya kepada beliau tentang perbuatan beliau itu. Beliau menjawab: “Aku tadi meninggalkan sebatang emas dari harta sedekah di rumah. Aku tidak ingin emas itu berada di tanganku sampai malam nanti. Karena itulah aku segera membagikannya.” (HR. Muslim)

Sungguh apa yang dilakukan Rasulullah adalah contoh terbaik bagi umat. Beliau tidaklah meletakkan puncak kebahagiaan dari sisi materi/harta namun Beliau menekankan letak kebahagiaan itu berada di sisi rohani-di dalam hati-hati  manusia.

Ketahuilah sobat, permisalan hati seperti sebuah benteng, sedang setan adalah musuh yang hendak memasuki benteng itu lalu menguasainya. Tidak mungkin benteng itu terjaga kecuali dengan menjaga pintu-pintunya dan orang tidak mengetahuinya tidak mungkin mampu menjaganya, begitu juga tidak mungkin menghalangi setan kecuali dengan mengetahui jalan masuknya.

Jalan-jalan masuk setan  banyak jumlahnya, di antaranya hasad (dengki), ambisi duniawi, marah, syahwat, cinta berhias, kenyang, tamak, terburu-buru, cinta harta, fanatik madzhab, berpikir yang tidak rasional, buruk sangka dengan kaum muslimin, dan lain-lain.

Seyogyanya seorang manusia menjaga dirinya dari sesuatu yang akan menjadikan orang berprasangka buruk kepadanya. Untuk mengobati kerusakan-kerusakan ini adalah dengan menutup pintu-pintu setan tersebut dengan membersihkan hati dan sifat-sifat jelek itu sehingga dengan bersihnya hati dari sifat-sifat itu berarti setan hanya bisa lewat, tidak bisa tetap padanya. Untuk menghalangi lewatnya dengan berdzikir kepada Allah dan memenuhi hati dengan takwa.

Perumpamaan setan seperti anjing lapar yang mendekatimu. Kalau sobat tidak punya makanan dia akan pergi hanya diusir dengan kata-kata. Tapi kalau sobat  punya makanan sedang dia lapar dia tidak akan pergi hanya dengan ucapan. Begitulah hati yang tidak memiliki makanan  untuk setan, setan itu akan pergi hanya dengan dzikir.

Sebaliknya hati yang dikalahkan oleh hawa nafsunya dia menjadikan dzikir itu hanya sebagai sambilan sehingga tidak mapan di tengahnya. Maka setanlah yang akhirnya menetap ditengahnya.

Jika sobat ingin tahu kebenarannya, perhatikan yang demikian itu pada shalatmu. Lihatlah bagaimana setan mengajak bincang-bincang dengan hatimu disaat semacam ini, dengan mengingatkan pasar, gaji pegawai, mengatur urusan dunia, dan lain- lain.


“Wahai Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu.”
) (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik

Wallahu ta’ala A’lam.

—————————————————————————————————————–

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cermin Hitam di Taman Nasional Sebangau …

Pratiwi Cristin Har... | | 23 October 2014 | 12:06

Pintarnya Mahasiswa Beralasan …

Giri Lumakto | | 23 October 2014 | 13:57

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Lee Chong Wei Positif Doping, Pelajaran …

Arnold Adoe | | 23 October 2014 | 18:40

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kaesang: Anak Presiden Juga Blogger …

Listhia H Rahman | 9 jam lalu

Seekor Babi Mati Bunuh Diri, Karena Setia …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Si Teteh Akhirnya Menjadi Kompasianer …

Tubagus Encep | 10 jam lalu

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 11 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Selusur Goa, Mengingat Kembali Stalaktit dan …

Mentari_elart | 9 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 9 jam lalu

Penderita Lumpuh Layu Itu Hidupi Dua Kakak …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Jalasveva Jayamahe, Mengembalikan Kejayaan …

Topik Irawan | 9 jam lalu

Buah Strawberry untuk Kesehatan Jantung …

Puri Areta | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: