Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Kusnandar Putra

Adalah guru SMP Islam dan Madrasah Aliyah Tanwirussunnah, Gowa. Diamanahkan "memegang" mata pelajaran IPA, IPS, selengkapnya

Cara Mengajar Sejarah Tanpa Membawa Buku

OPINI | 01 March 2013 | 06:37 Dibaca: 1029   Komentar: 5   3

بِسْمِ-اللهِ-الرَّحْمنِ-الرَّحِيم

Suatu saat penulis membawakan materi Proklamasi Indonesia pada pelajaran Sejarah di Kelas VIII. Namun, saat itu, tidak ada buku yang sejarah yang dibawa. Hanya bermodalkan laptop dan modem yang siap terjun ke dunia maya. Apa yang dilakukan penulis?

Membuka wikipedia.

13620927191671765758

http://id.wikipedia.org

Atau lebih tepatnya di http://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Indonesia. Nah, situs ini sangat membantu dalam mengajar sejarah. Pasalnya banyak penjelasan yang bisa dilebarkan, sehingga murid-murid lebih terbuka wawasannya.

1362092805482765613

http://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Indonesia

Ambil contoh sebagai berikut:

Saat itu, penulis hanya membaca teks yang tertera pada layar monitor,

“Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.”

13620931191863170921

Melink Laksamana Maeda (http://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Indonesia)

Disinilah letak keunikan tersendiri saat mengajar sejarah tanpa buku, alias lewat WIKIPEDIA, bisa memperluas pengetahuan. Di atas atas ada kode berwarna biru, lalu penulis tanya murid, “Siapakah Laksamana Maeda?” Penulis hanya mengelik kanan warna biru itu, maka terlihatlah siapa sosok Laksanamana Maeda.

13620933222058156475

Klik Kanan Saja

Hasilnya:

“Laksamana Muda Maeda Tadashi adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda pada masa Perang Pasifik. Laksamana Maeda memiliki peran yang cukup penting dalam kemerdekaan Indonesia, dimana beliau telah mempersilahkan kediamannya yang beradan di Jl. Imam Bonjol, No.1, Jakarta Pusat sebagai tempat penyusunan naskah proklamasi oleh Soekarno, Moh.Hatta dan Achmad Soebardjo, ditambah sang juru ketik Sayuti Melik, selain itu, beliau juga bersedia menjamin keamanan bagi mereka.”

1362093496501208396

Laksamana Maeda (http://id.wikipedia.org/wiki/Maeda_Tadashi)

Begitulah seterusnya, kapan ada kode link berwarna biru, maka masih ada penjelasan tambahannya. Bagi guru sejarah, tentunya sangat membantu fasilitas seperti ini. Akses seperti ini, tentunya bisa pula bagi guru mata pelajaran lain. Dengan membuka wikipedia, akan tampil banyak link yang sangat membantu pemahaman kita, siapkah tokoh itu, negara itu dimana, bagaimana gambarnya, semua akan tertera dengan jelas.

Seperti pada Peristiwa Rengasdengklok, di wikipedia terlihat gambar seperti ini:

13620939341262982439

Peristiwa Rengasdengklok (http://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Indonesia)

Keterangan-keterangan berwarna biru itulah, membuka wawasan terbaru. Siapakah Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana akan terjawab setelah mengeliknya. Dimanakah Rengasdengklok, akan terjawab pula setelah mengeliknya! Mudah ‘kan!

Namun, pada sejarah di wikipedia, tentunya membutuhkan penjelasan lainnya dari buku lain. Tentunya semalam sebelum berangkat ke sekolah. Artinya guru juga harus mampu menyaring berita dari wikipedia, sebab kadangkala ada hal yang tak benar pada opini. Perlu klarifikasi! Tentunya wikipedia sudah membantu, tapi ada tambahan yang bisa menyempurnakannya. Ambil contoh yang tidak dilansir dari wikipedia tentang proklamasi Indonesia:

Ada peristiwa penting yang tidak diketahui oleh sebagian orang, terutama generasi bangsa saat ini, bahwa detik-detik jelang pembacaan naskah proklamasi, upacara dimulai dengan pembacaan UUD 1945 yang berlandaskan Piagam Jakarta. Pembacaan itu dilakukan oleh Dr Moewardi yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia Suwirjo, kemudian setelah diawali pidato singkat, barulah Soekarno membacakan naskah proklamasi. Keterangan ini dikutip oleh Ridwan Saidi dari buku Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis oleh Sidik Kertapati.

Dan tahukah Anda? Ketika proklamasi dibacakan, tak ada satupun tokoh Kristen yang hadir dalam peristiwa bersejarah itu. Seharusnya, dalam suasana kemerdekaan dan untuk menunjukkan rasa persatuan, mereka hadir dalam acara tersebut.

Ada dugaan, ketidakhadiran kelompok Kristen itu dikarenakan keberatan mereka terhadap Piagam Jakarta yang diduga bakal dibacakan Soekarno dalam proklamasi kemerdekaan. Sementara tokoh-tokoh yang hadir ketika itu adalah: Mohammad Hatta, KH A Wahid Hasyim, Abikoesno Tjokrosoejoso, Soekarjo Wirjopranoto, Soetardjo Kartohadikoesoemo, Dr Radjiman Wedyoningrat, Soewirjo, Ny. Fatmawati, Ny. SK Trimurti, Abdul Kadir (PETA), Daan Jahja (PETA), Latif Hendraningrat (PETA), Dr. Sutjipto (PETA), Kemal Idris (PETA), Arifin Abdurrahman (PETA), Singgih (PETA), Dr Moewardi, Asmara Hadi, Soediro Soehoed Sastrokoesoemo, Djohar Noer, Soepeno, Soeroto (Pers), S.F Mendoer (Pers), Sjahrudin (Pers).

1362092503128949852

Piagam Jakarta (http://ruangjuang.wordpress.com)

Kenapa kalangan Kristen tak menghadiri acara penting dan sangat bersejarah itu? Belakangan diketahui, para aktivis Kristen itu sibuk kasak-kusuk melakukan konsolidasi dan lobi-lobi politik untuk meminta penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Dari “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi ” Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Semoga Alloh memberikan kita cahaya istiqomah sehingga kita meninggal dalam keadaan muslim. Amin.


Salam

www.kusnandarputra.blogspot.com

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 8 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 10 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 12 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 13 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: