Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Machmud Yunus

Suka menulis fiksi (novel dan cerpen), dan non fiksi. Sarjana Biologi lulusan FMIPA Universitas Brawijaya selengkapnya

Kisah Seribu Satu Malam

OPINI | 01 March 2013 | 14:17 Dibaca: 726   Komentar: 0   1

13621221001016586074

breathedreamgo.com

Pada zaman dahulu kala, pernah bertahta seorang raja yang bernama Raja Shariar. Raja itu amat membenci wanita, seorang antifeminis, anehnya justru setiap hari dia menikah dengan seorang wanita. Setelah sekali ‘dikumpuli’, istrinya yang baru dinikahi satu hari langsung dibunuhnya, kemudian dia menikahi wanita yang lain.

Pada suatu hari sang raja menikahi seorang gadis bernama Scheherazade, perempuan cantik anak seorang Wazir dari India. Pada pernikahan ke sekian itulah raja baru kena batunya. Pedang yang telah dipersiapkan untuk memenggal kepala istrinya itu tetap tersimpan dalam sarungnya, bahkan hingga memasuki malam yang ke seribu.

Anda pasti pernah mendengar cerita ini. Kenapa raja mengurungkan niatnya membunuh Scheherazade? Tidak lain oleh adanya cerita bersambung yang dikenal  dengan “Kisah Seribu Satu Malam”.

Sejak malam pengantin, Scheherazade mengisahkan pada suaminya sebuah cerita yang mengasyikkan, tetapi setiap kali cerita itu belum juga berakhir. Ujungnya masih tergantung dan membuat raja itu ingin mengetahui kelanjutannya. Tiap hari dia menunda memenggal leher istrinya dan meminta supaya Scheherazade melanjutkan cerita bersambung itu pada malam berikutnya. Semakin lama cerita yang dikisahkan Scheherazade semakin mengasyikkan hati Sang Raja, sehingga dia selalu menunda niatnya membunuh dan meminta cerita dilanjutkan malam berikutnya. Begitulah cerita Scheherazade menjadi sambung menyambung hingga genap seribu satu episode. Leher Scheherazade berhasil selamat dari penggalan sang raja.

Apa rahasia Scheherazade?

Rahasia Scheherazade terletak dalam penguasaan teknik dasar menuturkan cerita (Teknik Dasar Komunikasi). Scheherazade amat menguasai teknik itu. “Kisah Seribu Satu Malam” memang hanya sekedar cerita fiksi, namun daripadanya terkandung makna yang amat dalam. Dalam kehidupan nyata banyak kita jumpai orang-orang yang tidak memiliki kemampuan sebagaimana kemampuan yang dimiliki Scheherazade, seperti istri yang ditinggal selingkuh suaminya, karyawan yang tidak diperpanjang masa kontraknya, artis yang ditinggalkan penggemarnya, khatib Jum’at yang ditinggal tidur jamaahnya, guru yang tidak didengarkan di kelas oleh muridnya, bahkan ada ormas (FPI) selalu merasa perlu mempergunakan cara-cara kekerasan agar orang mau mendengarkan pendapatnya.

Jadi bila anda ingin seperti Scheherazade yang selalu ditunggu-tunggu, selalu didengar pendapatnya, sebaiknya anda menguasai juga ‘teknik dasar’ itu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 10 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 15 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

V2 a.k.a Voynich Virus (Part 21) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 11 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 11 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: