Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Machmud Yunus

Suka menulis fiksi (novel dan cerpen), dan non fiksi. Sarjana Biologi lulusan FMIPA Universitas Brawijaya selengkapnya

Kisah Seribu Satu Malam

OPINI | 01 March 2013 | 14:17 Dibaca: 710   Komentar: 0   1

13621221001016586074

breathedreamgo.com

Pada zaman dahulu kala, pernah bertahta seorang raja yang bernama Raja Shariar. Raja itu amat membenci wanita, seorang antifeminis, anehnya justru setiap hari dia menikah dengan seorang wanita. Setelah sekali ‘dikumpuli’, istrinya yang baru dinikahi satu hari langsung dibunuhnya, kemudian dia menikahi wanita yang lain.

Pada suatu hari sang raja menikahi seorang gadis bernama Scheherazade, perempuan cantik anak seorang Wazir dari India. Pada pernikahan ke sekian itulah raja baru kena batunya. Pedang yang telah dipersiapkan untuk memenggal kepala istrinya itu tetap tersimpan dalam sarungnya, bahkan hingga memasuki malam yang ke seribu.

Anda pasti pernah mendengar cerita ini. Kenapa raja mengurungkan niatnya membunuh Scheherazade? Tidak lain oleh adanya cerita bersambung yang dikenal  dengan “Kisah Seribu Satu Malam”.

Sejak malam pengantin, Scheherazade mengisahkan pada suaminya sebuah cerita yang mengasyikkan, tetapi setiap kali cerita itu belum juga berakhir. Ujungnya masih tergantung dan membuat raja itu ingin mengetahui kelanjutannya. Tiap hari dia menunda memenggal leher istrinya dan meminta supaya Scheherazade melanjutkan cerita bersambung itu pada malam berikutnya. Semakin lama cerita yang dikisahkan Scheherazade semakin mengasyikkan hati Sang Raja, sehingga dia selalu menunda niatnya membunuh dan meminta cerita dilanjutkan malam berikutnya. Begitulah cerita Scheherazade menjadi sambung menyambung hingga genap seribu satu episode. Leher Scheherazade berhasil selamat dari penggalan sang raja.

Apa rahasia Scheherazade?

Rahasia Scheherazade terletak dalam penguasaan teknik dasar menuturkan cerita (Teknik Dasar Komunikasi). Scheherazade amat menguasai teknik itu. “Kisah Seribu Satu Malam” memang hanya sekedar cerita fiksi, namun daripadanya terkandung makna yang amat dalam. Dalam kehidupan nyata banyak kita jumpai orang-orang yang tidak memiliki kemampuan sebagaimana kemampuan yang dimiliki Scheherazade, seperti istri yang ditinggal selingkuh suaminya, karyawan yang tidak diperpanjang masa kontraknya, artis yang ditinggalkan penggemarnya, khatib Jum’at yang ditinggal tidur jamaahnya, guru yang tidak didengarkan di kelas oleh muridnya, bahkan ada ormas (FPI) selalu merasa perlu mempergunakan cara-cara kekerasan agar orang mau mendengarkan pendapatnya.

Jadi bila anda ingin seperti Scheherazade yang selalu ditunggu-tunggu, selalu didengar pendapatnya, sebaiknya anda menguasai juga ‘teknik dasar’ itu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: