Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Iis Sofiah Robiah Adawiyah

Menggali informasi untuk memperluas wawasan dan meningkatkan pengetahuan mencapai kualitas diri yang lebih baik.

Ratapan Pendidikan Islam di Indonesia

OPINI | 03 March 2013 | 00:14 Dibaca: 533   Komentar: 1   0

A. ADA APA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM?

Siapa yang tidak mengenal pendidikan Islam? Sebuah sistem pendidikan yang menjadi sarana bagi manusia untuk mencapai tingkat muslim paripurna (taqwa), gemanya menggelora dari mulai belahan bumi bagian Barat hingga ke Timur.

Di Indonesia, denyut nadi pendidikan Islam terus mengiringi apapun perubahan yang terjadi dalam batang tubuh segala bidang kehidupan. Hal ini dimungkinkan, karena pendidikan bukan merupakan entitas yang berdiri sendiri, melainkan terkait timbal balik dengan filosofi dan sistem sosial, ekonomi, politik, hokum serta keamanan. Sehingga, pendidikan, termasuk pendidikan Islam, menjadi kawasan luar biasa padat dengan unsur-unsur yang tiada terbilang. Intinya, kerumitan pendidikan mencerminkan kerumitan hidup berbangsa dan bernegara itu sendiri.

Terbitnya sinar reformasi di segala bidang, pasca tahun 1998 dan merambahnya tren globalisasi, merupakan faktor-faktor yang turut memengaruhi perubahan tersebut. Dalam konteks pendidikan Islam, semangat dari perubahan ini semestinya menjadi arah terselenggaranya proses pendidikan yang lebih bermakna dan terencana untuk mencapai tujuan idealnya, yaitu membentuk kepribadian manusia dengan segala totalitasnya, meliputi jasmani dan rohani, rasa dan nalar, serta akal dan budi pekertinya. Karena deru perubahan tersebut ikut menerangi pola pikir alam pendidikan Islam untuk mengikis habis berbagai kekurangan yang ada dan mampu mengejar ketertinggalan pada semua aspek kehidupan.

Dalam kaitan ini, pendidikan Islam yang memiliki tugas pokok menggali, menganalisa, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, sebenarnya telah begitu jelas memberikan dorongan kepada manusia agar melakukan analisis dan berupaya untuk mengembangkan isi kandungannya agar bermanfaat dan memberi kebaikan bagi kehidupan seluruh manusia.

Disinilah letak permasalahannya. Realitas membuktikan, pendidikan Islam sebagai pemenuhan fitrah manusia, juga sebagai wujud ibadah, ketaatan dan sikap tunduk seorang hamba kepada Rabb-nya, seolah-olah tidak memiliki efek apapun, baik terhadap pola kerja, perilaku, dan terhadap keseluruhan aspek kehidupan lainnya.

Kemudian, jika secara ideal pendidikan Islam merupakan upaya membentuk kepribadian manusia dengan segala unsur-unsurnya yang tidak terbilang, meliputi semua aspek kehidupan yang berasal dari apa yang didengar, dilihat, dirasakan, dialami dan dilakukan, maka:

SEJAUHMANA UNSUR-UNSUR TERSEBUT MENJADI MUATAN DALAM PROSES PENYELENGGARAANNYA?

MENGAPA PENGAJARAN ISLAM MALAH MELAHIRKAN PERILAKU PEMELUK AGAMANYA SANGAT TIDAK MENCERMINKAN NILAI-NILAI ISLAM?

MENGAPA PENDIDIKAN ISLAM SEOLAH-OLAH TIDAK PUNYA KEPENTINGAN APA-APA DENGAN MARAKNYA BERBAGAI PERILAKU TIDAK TERPUJI?

MENGAPA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM HANYA MAMPU MENCETAK LEMBARAN IJAZAH BERUPA SERTIFIKAT DENGAN SIMBOL-SIMBOL YANG TANPA ARTI UNTUK MEMBEKALI ANAK DIDIKNYA?

Banyak para lulusan lembaga pendidikan Islam dari berbagai disiplin ilmu, tidak mampu menghadapi kondisi riil, bagaimana mereka harus bekerja, yang pada akhirnya menambah tingkat pengangguran. Muslim yang ta’at beribadah, tiba-tiba terjebak dalam kasus-kasus pelanggaran hukum. Para elite polkitik mengobral janji tapi tidak pernah ditepati. Para pengelola lembaga pendidikan Islam banyak melakukan pembodohan, merampas hak warganya, berani secara terang-terangan menyalahgunakan dana yang dialokasikan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Ketika berusaha diingatkan, mereka berusaha mengelak dan menutupi kebobrokannya dengan menunjukkan sikap marah, seolah-olah tidak melakukan penyimpangan. Umat Islam yang berlimpah harta, bersikap sombong (takabbur) dan serakah, dengan kekayaannya. Mereka tidak tergerak hatinya untuk berbagi, sehingga angka kemiskinan jumlahnya semakin meningkat. Para penguasa benar-benar biadab, dengan sering melakukan berbagai tindakan intimidasi terhadap orang-orang yang tidak mendukungnya, hanya demi memuaskan rasa dendamnya. Maraknya peredaran narkoba, tawuran antar pelajar, kehidupan seks bebas, tidak pernah menjadi objek pemikiran untuk dicari jalan keluarnya

Sungguh sangat memprihatinkan, menggelitik rasa kemanusiaan, mengganggu ketenangan sukma, bahwa lembaga pendidikan Islam hanya memberikan pengajaran bukan pendidikan. Disini, ilmu tidak ditransformasikan dari bentuk pengetahuan ke dalam pola kehidupan yang sedang berlangsung. Materi-materi pelajaran hanya berfungsi sebagai pemanis kurikulum dengan metode pengajaran formal, monoton tanpa variasi, juga tanpa melibatkan dimensi penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Islam secara intensif.

Jika kenyataannya kondisi pendidikan Islam masih mengalami permasalahan kompleks, hal ini seharusnya menjadi pusat perhatian dari semua pihak untuk memastikan adanya kelemahan yang terjadi dan segera menentukan upaya sungguh-sungguh memperbaiki setiap aspek pendidikan secara menyeluruh tanpa kecuali.

B. MELAKUKAN REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM

Beberapa indikasi yang dicermati dalam permasalahan pendidikan Islam, adalah sebagai berikut: 1) Minimnya upaya pembaharuan, sehingga sering terlambat merespon perubahan yang terjadi dalam bidang sosial, politik, dan kemajuan IPTEK.

2) Lemahnya tradisi membaca (Iqra) sebagai tradisi spiritual Islam. Padahal, membaca (dengan kesadaran spiritual) merupakan kemampuan manusia mengakses pengetahuan bumi dan langit secara bersamaan, untuk memahami rahasia Allah yang terdapat di alam raya dengan berbagai varian disiplin keilmuan. Proses pembacaan akan berhasil baik, apabila melibatkan unsur yang mencipta Alam itu.

3) Praktik pendidikan berorientasi ke masa silam, yang lebih banyak berkonsentrasi pada urusan ukhrawiyah, proses pembelajaran lebih menekankan pada pemahaman ilmu-ilmu fikih; tasawuf; ritual; sakral, sehingga tidak banyak melakukan pemikiran kreatif, inovatif dan kritis terhadap isu-isu aktual. Hal ini berdampak pada miskinnya konsep-konsep baru yang rasional dan menyegarkan.

4) Masih adanya kesenjangan konseptual-teoritis, yang ditandai dengan adanya paradigma dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum, yang terbukti gagal membentuk manusia bertaqwa dengan segala karakternya sebagai khalifah fi al-ardl, sekaligus juga tidak mampu menjawab tantangan perubahan zaman dengan kemampuannya menguasai IPTEK. Padahal, harus disadari secara massif, kaffah, sampai pada titik kesadaran tertinggi, bahwa dalam memahami pendidikan Islam, nilai-nilai agama (tauhidik) harus menjadi penggerak pengembangan pendidikan Islam. Keberhasilan tokoh intelektual dan ulama besar muslim dalam mengakses dan mengembangkan ilmu pengetahuan, adalah hasil dari utuhnya memahami paradigma keilmuan. Mereka mampu menyerap dan menggalim hikmah dari setiap penciptaan dan kejadian sekecil apapun. Mereka tidak menuhankan analisis, mendewakan pikiran, mengagung-agungkan kecerdasan, namun sangat santun, pasrah, dan tunduk (muslim) kepada Sang Penguasa Ilmu (Al Alim). Ketika mereka sampai pada titik kesadaran tertinggi, bahwa semua manusia tidak berdaya dihadapan Allah, maka Allah mencerdaskan dan mengangkat derajat orang yang beriman beberapa stage dari umat lain yang lalai.

4) Adanya kurikulum yang cenderung berasas sekuler-materialistik. Hal ini berpengaruh terhadap struktur kurikulum yang kurang memberikan ruang kebebasan bagi berkembangnya potensi individu sesuai dengan harapan. Proses pembelajaran pun lebih menekankan pada pendekatan intelektualisme-verbalistik yang lebih bersifat transfer of knowledge atau learning to know. Materi keislaman masih berorientasi pada pemberian pemahaman tentang pentingnya shalat, teori-teori shalat lengkap dengan gerakan dan bacaan yang fasih. Tapi tidak berbanding lurus dengan perolehan aspek rasa dan kenikmatan shalat. Dampaknya, terjadi pengingkaran nilai-nilai ilahiah, seperti nilai-nilai ketundukan, kejujuran, keikhlasan, disipilin dan adab tidak merasuk ke dalam jiwa. Hasil pendidikan hanya sebuah formalitas pengajaran Islam, yang hanya puas dengan penguasaan kognitif terhadap ritual dan praktek ibadah. Maka, pantaslah jika pendidikan Islam tidak mampu membentuk anak bangsa ini menjadi umat bermutu unggul (Khairu Ummah).

5) Sistem pengelolaan penyelenggaraan pendidikan belum profesional dan belum berorientasi pada mutu, serta belum mampu memberdayakan komponen-komponennya. Komponen yang terkait dengan mutu, adalah: a) kesiapan dan motivasi siswa. b) kemampuan guru profesional dan kerjasama dalam organisasi sekolah. c) kurikulum meliputi relevansi isi dan operasional proses pembelajarannya. d) sarana dan prasarana meliputi kecukupan dan keefektifan dalam mendukung proses pembelajaran. e) partisipasi masyarakat (orang tua, pengguna lulusan dan perguruan tinggi) dalam pengembangan program-program pendidikan sekolah. 6) Penanganan terhadap setiap masalah yang muncul hanya bersifat parsial, tidak dilakukan secara holistik, integral, dan komprehensif.

Salah satu kecenderungannya yang memberi solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah membangun atau mengembangkan sebanyak-banyaknya lembaga pendidikan Islam efektif (unggul) dengan segala karakteristik keunggulannya. Karena sebenarnya lembaga pendidikan Islam seperti madrasah, sekolah-sekolah Islam, memiliki potensi dan peluang besar untuk menjadi alternatif pendidikan masa depan. Tentu saja, dengan dukungan penuh dari semua unsur pendidikan, termasuk orang tua dan dunia usaha menjadi sangat penting.

Kecenderungan tersebut antara lain sebagai berikut: Pertama, terjadinya mobilitas sosial yaitu, munculnya masyarakat kaum intelektual yang menuntut fasilitas pendidikan sesuai dengan aspirasinya, baik cita-cita maupun status sosialnya. Karena itu lembaga pendidikan yang mampu merespon dan mengapresiasi tuntutannya secara cepat dan cerdas, bisa menjadi pilihan. Kedua, munculnya kesadaran baru dalam beragama (santrinisasi), terutama pada masyarakat perkotaan kelas menengah atas, akibat dari proses re-Islamisasi oleh organisasi-organisasi keagamaan, lembaga-lembaga dakwah atau yang dilakukan secara perorangan. Terjadinya santrinisasi tersebut berimplikasi pada tuntutan dan harapan terhadap pendidikan yang mengaspirasi status sosial dan keagamaannya. Ketiga, tren globalisasi dan modernisasi denga berbagai dampaknya membutuhkan kiprah manusia-manusia berkompeten dalam Ilmu Pengetahuan dan teknologi (IPTEK), juga berkepribadian muslim yang beriman dan bertaqwa (IMTAQ). Kelemahan pada salah satu kompetensi, berpengaruh pada ketidakseimbangan perkembangan anak, sehingga menciptakan kepribadian pincang (split personality). Tren globalisasi dan modernisasi tersebut akhirnya berimplikasi pada tuntutan dan harapan masyarakat terhadap pendidikan yang mampu memadukan potensi-potensi akademik ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan nilai-nilai religius.

Relevan dengan hal tersebut, maka kemampuan berijtihad dalam upaya membangun pendidikan Islam bermutu (unggul) perlu dilakukan secara terus-menerus. Hal paling penting adalah bagaimana menumbuhkembangkan ide-ide dan konsep-konsep keilmiahan yang bersumber dari Al-Qur’an ke dalam pelaksanaan pendidikan, sehingga mampu menyadarkan manusia akan fungsinya sebagai “khalifah” di muka bumi.

Salah satu upaya cermat mengimplementasikan program tersebut, adalah menentukan acuan dasar (benchmark) sebagai pedoman dalam menyelenggarakan pendidikan Madrasah unggul tersebut.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan acuan dasar (Pedoman), yaitu:

Pertama: Melakukan upaya rekontruksi ideologi intelektual yang integratif dengan cara melakukan sintesis antara dua paradigma besar yang pernah menjadi tradisi intelektual muslim dengan representasi pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd yang sejak awal terkesan vis a vis. Menyatukan spirit rasionalitas dan spiritualitas dalam satu kerangka paradigma keilmuan yang terstruktur akan memungkinkan teratasinya persoalan krisis intelektualitas dan spiritualitas pada masyarakat kita secara universal.

Kedua : Memperkuat landasan dalam membuat konsep pengembangan pendidikan Islam secara utuh, kaffah, sintesis kreatif, komprehensif, jasmani dan rohani.

Ketiga :  Menggunakan pola dan model pembelajaran bervariasi yang tepat dan sesuai dengan tingkat penguasaan kompetensi peserta didik, bersandar pada dua keunggulan, yaitu:

a. Konsep tekstual (literer) yang sahih. Konsep ini berakar pada sumber primer Kalamullah (Kumpulan Wahyu Allah). Masyarakat yang memiliki Kalamullah seharusnya tidak akan pernah dan tidak bisa menjadi masyarakat kelas rendah, tertinggal secara IPTEK dan IMNTAQ. Justru mereka mengemban tugas penataan bumi sebagai wakil Allah (Khalifah Allah fi Al-Ardh). Masyarakat seperti ini berarti masyarakat yang memiliki kekuatan fisik dan mental sekaligus. Ini artinya, pola pemikiran terhadap pendidikan harus berorientasi pada dua keunggulan sekaligus dalam paham antropo-teosentris.

b. Konsep Kontekstual. Konsep ini melalui tradisi Muhammad ibnu Abdullah yang didokumentasikann secara tertulis (Hadis). Ini diharapkan dapat mengukuti tuntutan anak modern yang selalu kritis dan lebih berpikiran maju dari anak zaman dahulu yang cenderung manut dan tunduk terhadap apa yang disampaikan guru.

Keempat: Menguasai dan memahami paradigma keilmuan tidak hanya pada standar ilmiah modern, yang hanya berlandaskan pada sesuatu yang dapat ditangkap oleh pikiran dan panca indra. Tetapi, harus mampu mencapai dan mengakses fenomena ruhani, spiritual dan akal terdalam yang ada dalam diri manusia dan seluruh eksistensi pencitaan itu.

Kelima : Pengembangan kompetensi pembelajaran tidak hanya pada dimensi kognitif, tetapi juga pada dimensi afektif, penghayatan, dan aspek rasa dari pengamalam ritual, dimensi nilai, moralitas, esoterik dan ranah batini dari proses pembelajaran.

Keenam :   Proses pembelajaran berlangsung bukan melalui tradisi alih nilai, tetapi melalui tradisi penanaman nilai-nilai ilahiyah, seperti ketundukan, kejujuran, keikhlasan, disiplin, dan nilai-nilai keadaban secara permanen. Hal ini menghindari terjadinya pengingkaran nilai-nilai ilahiyah,

Ketujuh: Menentukan standar keberhasilan pembelajaran  berorientasi pada aspek jasmani dan ruhani. Karena mendidik berarti mendidik akal, jasad (fisik), ruhani dan nafsu agar anak didik dapat mengendalikan dirinya dan keluar sebagai manusia yang utuh mengenal dirinya yang berfungsi sebagai penata semesta.

Kedelapan: Normatif pengajaran Islam tertera dengan jelas pada struktur kurikulum. Kemudian dipraktekkan hingga menyentuh ranah efektif, penghayatan, menghidupkan semangat ajaran Islam, sehingga lulusan selain menguasai teori tentang shalat juga memiliki komitmen dan menyukai sepenuh hati dalam menjhalankan shalat. Aspek keikhlasan, kejujuran, komitmen pada nilai-nilai spiritual. Semangat tradisional dan modernitas dipersandingkan dalam satu ikatan ruhaniah yang kokoh. Keduanya seperti jasad ruh, tidak dapat dipisahlan satu sama lain. Memisahkannya berarti membunuh dirinya dan bahaya. Karenanya, kita tidak bisa membiarkan keterpisahannya secara berlarut-larut. Karena bisa berakibat pada kehilangan mata rantai (missing Link ) pengajaran islam.

Kedelapan: Menyelenggarakan kurikulum pendidikan Islam harus yang memiliki akar sejarah kuat dari tradisi ulama Islam masa lampau. Berpikir, menata paradigma sosial, budaya, dan sains dalam persepketif tradisi keilmuan ulama islam masa lampau. Membangun tradisi keilmuan muslim masa lampau sebagai tradisi yang utuh dan integral, sehingga tidak mengenal dikotomi atau dualisme ilmu. Mata pelajaran sejarah untuk memotivasi anak didik menjadi pelaku sejarah. Memperkuat keyakina kepada Allah.

Kaum muslimin berada kini sedang berada di titik nadir ketidakpahaman akan eksistensi keberimanan mereka, sehingga untuk membuat lingkungan menjadi bersih, pola pengorganisasian rapi, administrai keuangan transparan dan cara mendistribusikan dana saja sudah begitu banyak nilai-nilai dalam dirinya yang harus dikorbankan.

Sudah saatnya kaum muslimin mampu menggali hikmah dari kearifan lokal mercermati, dan mnencerna persoalan pendidikan Islam merujuk pada orientasi ruhiah, bukan jasmaniah.

Pendidikan Islam ke depan harus lebih memprioritaskan kepada ilmu terapan yang sifatnya aplikatif, bukan saja dalam ilmu-ilmu agama akan tetapi juga dalam bidang teknologi.

Konsep aplikasi pendidikan Islam adalah manifestasi (wujud) keterpaduan yang utuh dari kedua keunggulan akal dan pikiran, sehingga kaum muslimin mampu mengaktualisasikan akal pikiran mereka dalam menembus rahasia ilmu pengetahuan yang amat luas. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang akan kita dustai.

Jika ingin menggapai keunggulan atau keberhasilan, bukankah harus dengan ilmu?

Ilmu dalam hadits adalah At-Tarbiyah Ar-Ruhuyah, yaitu pendidikan yang menghasilkan kekuatan secara dahsyat yang dapat menimbulkan resultan yang mampu menembus rahasia yang ada di langit dan bumi.

Satu hal yang penting diingat, bahwa tradisi inteletualisme kaum muslim klasik bukan hasil dari proses kelembagaan sebuah lembaga pendidikan yang serba formal, mengekang dan menindas, dan tisak membebaskan .

Jadi, pendidikan jangan terlalu terjebak dengan formalism. Karena itu berarti meninggalkan ranah spiritualitas (Aspek teosentris) dalam implementasinya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriahnya Festival Seni Budaya Klasik di …

Riana Dewie | | 19 December 2014 | 08:54

Keresahan Nelayan dan Pelaku Usaha Perikanan …

Ibay Benz Eduard | | 19 December 2014 | 08:11

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46

Keping Inspirasi di Balik Tragedi Pakistan …

Pical Gadi | | 19 December 2014 | 07:11

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 2 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 9 jam lalu

Meramu Isu “Menteri Rini Melarang …

Irawan | 9 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: