Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Jery Tampubolon

It's time to spread "HUMANISM" in the world !!!

Anak Negara (Belanda)

REP | 04 March 2013 | 21:25 Dibaca: 463   Komentar: 0   0

Di Belanda anak yang lahir ke dunia
bukan berarti anak orangtuanya seratus persen. Anak juga diakui sebagai anak negara yang akan menjadi generasi penerus bangsa yang akan datang. Negara berhak mengambil anak dari orangtuanya, jika negara menilai orangtua menelantarkan dan tidak bisa mengurus anaknya.

Terlebih orangtua yang melakukan tindak kekerasan terhadap anaknya, dan terbukti secara hukum, maka orangtua akan kehilangan hak asuhnya, bahkan mereka juga bisa masuk penjara.

Kebijakan itu didasarkan asumsi bahwa anak-anak yang dilahirkan ke dunia adalah sebagai penerus generasi yang akan membangun dan memimpin negara di kemudian hari. Oleh karena itu anak-anak amat dilindungi negara dan diwajibkan bersekolah, dididik menjadi anak yang mandiri dan percaya diri.

Atas dasar itu pula, pemerintah Belanda menjamin dan memberikan pendidikan dengan subsidi tinggi mulai dari level TK hingga universitas. Bahkan bagi mereka yang tak mampu bisa mendapatkan pendidikan secara gratis.

Pemerintah Belanda memberi subsidi untuk membayar uang sekolah (lesgeld) setiap tahunnya melalui studiefinanciering. Bagi anak-anak yang masih dibawah umur pengurusan studiefinaciering-nya dilakukan oleh orangtuanya.Tetapi kalau anak sudah menginjak usia 18 tahun, dia bisa mengurusnya sendiri. Formulir untuk meminta studiefinaciring tersedia di setiap sekolah atau bisa melalui internet. Dan nanti pihak sekolah akan memberi penerangan agar si anak atau orangtua bisa mengajukan studiefinaciering ini.

Tidak semua orangtua dibebaskan dari lesgeld, karena karena setiap keluarga ketika mengajukan formulir untuk mendapat studiefinaciering, harus melampirkan jaaropgave yaitu penghasilan bruto setiap tahun yang sudah tercatat di Belastingdiens (kantor pajak).

Jika penghasilan orantuanya di atas maksimum yang sudah ditentukan oleh pemerintah, maka dia tidak bisa mendapatkan studiefinanciering. Mereka tetap diwajibkan membayar sendiri uang lesgeld anaknya, tanpa dibantu studiefinaciring dari pemerintah. Kalaupun setelah dilihat penghasilan bruto setahunnya ada yang dapat itu tidak banyak, misalkan diwajibkan menambah dari dompet sendiri sekian euro setiap bulan untuk uang saku anaknya, semua akan tertulis dengan jelas di surat.

Tetapi bagi orangtua yang perghasilannya minimum, maka pemerintah akan memberi uang studiefinaciering untuk anak itu secara penuh.Orangtuanya dibebaskan tidak membayar lesgeld (uang sekolah). Seluruh biaya pendidikan si anak akan ditanggung pemerintah. Termasuk juga setiap bulan pemerintah akan memberikan uang saku bagi si anak. Uang saku tersebut untuk membeli buku-buku dan sisanya bisa digunakan untuk jajan. Biasanya para pelajar mencari uang jajan tambahan dengan bekerja serabutan.

Dengan kebijakan itu, walaupun orangtuanya adalah pengangguran, si anak tetap dapat bersekolah hingga mencapai perguruan tinggi. Pemerintah Belanda benar-benar sangat mengetahui penghasilan dan kebutuhan keluarga setiap bulannya. Maka di Belanda nggak ada kelas menengah ke bawah. Adanya kelas menengah ke atas. Dan orang-orang yang disebut milyuner kehidupannya juga normal saja tidak merendahkan orang di bawahnya.

Enaknya tinggal di Belanda adalah semua orang menghargai dan dihargai tanpa melihat siapa diri kita ini.Tanpa melihat status, pekerjaan, apalagi harta. Beda dengan di Indonesia antara si kaya dan si miskin kelihatan banget seperti bumi dan langit. Kebanyakan orang kaya di Indonesia sombong dan tidak mau duduk sejajar dengan orang miskin.

Kembali ke masalah sekolah anak-anak. Di Belanda yang sudah kuliah jika menggunakan bus atau kereta bebas tidak dipungut bayaran. Studiefinaciering akan mengeluarkan OV Kaart. OV kaart adalah kartu untuk pelajar atau mahasiswa agar setiap kali naik kendaraan umum gratis.

Banyak anak yang masih di bawah umur sudah kuliah. Karena di Belanda setiap anak yang baru lulus dari sekolah dasar bisa mengikuti kelas burgklas — kelas jembatan. Di burgklas ini anak-anak akan dilihat kemampuannya dalam belajar dan masuk ke niveau (tingkatan) mana. Pada kelas pertama anak-anak bisa dilihat, misalnya duduk di kelas mavo/havo atau masuk di kelas yang lebih tinggi lagi havo/vwo/ atheneum/gymnasium. Setiap sekolah berbeda-beda, ada yang menjalankan program dua tahun,ada yang tiga tahun di burgklas ini.

Di burgklas ini anak diajarkan bagaimana belajar dan bersekolah sesuai dengan kemampuangnya. Di kelas terakhir nanti gurunya akan mengetahui anak-anak ini akan meneruskan kemana sekolahnya. Bagi anak yang pintar dapat langsung masuk ke Havo,VWO,Gynamsium lalu ke HBO atau Universitas. Jadi bagi yang pintar tidak akan lama duduk di sekolah middelbareschool (sekolah menengah). Karena dia bisa langsung lompat kelas tanpa membuang-buang waktu duduk bertahun-tahun di sekolah.

Sedangkan bagi anak-anak yang kurang pintar akan masuk ke Mavo atau VMBO. Dia akan lebih lama untuk dapat masuk HBO atau universitas. Mereka yang duduk di Mavo, kalau ke HBO atau universitas harus masuk melalui Havo dulu atau ke MBO.

Di Mavo atau VMBO pun anak-anak akan dilihat lagi. Jika yang tanganya kreatif, maka anak-anak ini akan lebih banyak prakteknya di sekolah sesuai dengan keahlian dan hobby masing-masing. Anak-anak yang tangannya kreatif dan tidak bisa belajar tidak dijadikan satu dengan anak-anak yang pintar dan suka belajar. Jadi di kelas tidak ada yang pintar dan bodoh, karena kemampuan anak-anak masing dipisah kelompoknya.

Bagi anak-anak yang tangannya lebih trampil daripada otaknya, mereka akan memilih sekolah kejuruan sesuai dengan keinginan dan hobbynya masih-masing. Jadi tidak terlalu lama di sekolah. Mereka bisa langsung bekerja. Ada yang jadi tukang masak, tukang bangunan, montir mobil, tukang las, potong rambut,etc.

Bagi anak-anak yang pinter dan kutu buku, mereka akan memilih menempuh pendidikan hingga universitas. Bagi student yang kekurangan uang dari studiefinaciering, dapat juga meminjam uang ke studiefinancirieng dan membayar uang pinjaman setekah selesai kuliah dengan cara diangsur. Walaupun mendapatkan studiefinaciering, mereka juga harus lulus tepat waktu atau dengan jangka waktu yang sudah ditentukan. Kalau kulihanya tidak selesai-selesai, studiefinaciering akan menyetop uang lesgeld dan uang saku.

Setiap student di Belanda, akan mendapatkan uang saku penuh jika penghasilan orangtuanya setahun tidak tinggi. Bagi orangtua si anak yang penghasilanya tinggi harus menambah uang saku untuk si anak. Biasanya para student ini akan bekerja mencari tambahan dengan bekerja partime di supermarket atau kerja sebagai cleningservice atau bekerja di pabrik. Banyak perusahaan yang mewajibkan menerima para student bekerja. Malah ada perusahaan yang khusus hanya menerima student. Pertimbangannya tenaga kerja pelajar umumnya masih muda dan bayaran gajinya juga murah sesuai dengan umur masing-masing menurut CAO. Apalagi kalau musim panas liburan sekolah, banyak perusahaan yang hanya menerima para student agar mereka bisa mendapat uang selama liburan dengan bekerja.

Anak-anak di Belanda umumnya mandiri dan berfikiran dewasa. Mereka tidak manja serta enak diajak bicara layaknya berbicara dengan orang dewasa.Tidak peduli mereka itu anak seorang direktur bank atau anak kelas pekerja berat, tetap saja mereka harus bekerja untuk bisa mendapatkan uang saku lebih. Agar bisa membeli sesuatu yang mereka inginkan tanpa harus minta dan menyusahkan orangtua.

Orangtua di Belanda, walaupun punya uang tidak akan mudah membelikan sesuatu yang diinginkan puteranya. Kondisi itu mendorong anak-anak untuk mendapatkan uang atas usahanya sendiri. Anak-anak yang berusia 15 tahun ke atas, sudah terbiasa bekerja partime di supermarket atau Mc D. Mereka juga umumnya bisa menabung dan menggunakan uang untuk kebutuhannya sendiri. Mereka bekerja keras agar bisa melancong ke negara lain yang ingin mereka kunjungi atau sekadar membeli sesuatu yang mereka inginkan tanpa menyusahkan orangtuanya.


NB :

Tulisan ini adalah hasil pengamatan La Rose Djayasupena kelahiran Indonesia dan saat ini berdomisili di Belanda .

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 12 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: