Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Paijo Pandupradja

Pengajar di Universitas Jember, pernah menjadi konsultan Proyek SEQIP (Science Education Quality Improvement Project) dan selengkapnya

Mengenal Fakta - Konsep - Prinsip

OPINI | 06 March 2013 | 17:59 Dibaca: 1815   Komentar: 0   0

Fakta, konsep, dan prinsip sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari sebenarnya merupakan sebagian langkah pengembangan ilmu pengetahuan. Kadang orang yang mengucapkan pun sebenarnya tidak yakin betul untuk mengerti apa artinya. Oleh karena itu saya akan mencoba memaparkan perbedaan ketiganya untuk memudahkan kita belajar IPA. Pencarian cara yang mudah untuk belajar IPA menjadi perhatian saya karena terus terang saya belum puas dengan hasil belajar IPA dari para siswa kita baik di level SD, SMP, maupun SMA sekarang. Bapak dan Ibu Guru sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengajari mereka konsep-konsep IPA (SD dan SMP) dan Fisika, Biologi, dan Kimia (SMA). Para siswa kita lebih tertarik untuk menghafal soal seperti yang diajarkan kakak-kakak mereka di bimbel. Saya tidak akan membenturkan guru dengan tentor, tapi lebih baik kita mengupas apa yang sebaiknya kita perbuat untuk siswa kita agar mereka lebih memahami konsep.

IPA mempelajari fenomena atau peristiwa alam. Peristiwanya ada di sekitar kita sehingga kita bisa menggunakan fenomena tersebut untuk memahami IPA. Peristiwa itulah yang disebut dengan FAKTA. Misalnya merah, hijau, besi. tembaga, patah, panas dan masih banyak sekali fakta yang bisa dijumpai di alam. Fakta selalu menunjukkan kondisi apa adanya, fakta tidak pernah memihak kepada siapapun. Bahkan fakta sering digunakan untuk membuat opini sesuai keinginan orang yang membuat opini  tersebut. Pengamatan fakta melibatkan panca indera. Semakin banyak indera yang terlibat semakin baik, namun diharamkan bagi kita mengamati menggunakan indera ke enam (ngarang).

KONSEP adalah sekumpulan fakta atau beberapa fakta yang memiliki ciri khusus. Misalnya: merah, hijau membentuk konsep yang namanya warna. Warna punya ciri khusus yaitu memiliki panjang gelombang tertentu. Besi, tembaga membentuk konsep yang namanya logam. Logam punya ciri khusus misalnya dapat menghantarkan arus listrik. Pada kondisi tertentu konsep dapat menjadi fakta yang bila bergabung dengan fakta yang lain dapat membentuk konsep. Contoh konsep yang lain misalnya kursi, memuai, membeku, mendidih, dan masih banyak lagi. Bisakah kita menemukan konsep yang lain? tentu karena masih sangat banyak yang belum disebutkan disini.

PRINSIP adalah beberapa konsep yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Ciri dari prinsip adalah tanpa ada kecuali. Apabila ada kecualinya berarti bukan prinsip tapi disebut GENERALISASI. Contoh:

1. “semua logam pada temperatur kamar wujudnya padat”. Untuk menguji apakah pernyataan itu termasuk prinsip atau bukan adalah dengan bertanya “adakah logam yang berwujud selain padat pada temperatur kamar (25 oC)?” Apabila ditemukan ada logam yang wujudnya tidak padat pada keadaan tersebut maka pernyataan itu bukan prinsip. Setelah diteliti ternyata merkuri atau raksa adalah berwujud cair pada temperatur kamar sehingga pernyataan tersebut termasuk generalisasi dan bukan prinsip.

2. “Logam adalah penghantar listrik yang baik”, pernyataan ini termasuk prinsip karena tanpa kecuali.

Dari hubungan ketiga istilah tersebut dapatlah kita lihat bahwa untuk membuat prinsip kita harus paham konsep, sedangkan untuk memahami konsep kita harus mengenali fakta. Fakta dapat dikenali melalui pengamatan baik melalui praktikum, penelitian, maupun menyaksikan demontrasi, simulai, dan peristiwa di alam. Dalam hal ini mengamati menjadi ketrampilan yang sangat penting untuk dilatihkan pada siswa. Konsep merupakan kesimpulan dari hasil pengamatan. Itulah sebabnya belajar IPA selalu dimulai dari mengamati dan kemudian membuat kesimpulan (konsep) dari hasil pengamatan. Tanpa pengamatan maka kita bukan mengajari IPA kepada siswa namun hanya mengabari mereka. Bila hal ini masih terus kita lakukan maka di masa mendatang kita akan terus menyaksikan siswa kita lebih suka  belajar pada orang lain, terutama menjelang UNAS seperti sekarang. Mari kita mulai bagi yang belum dan kita tingkatkan bagi yang sudah untuk membuat kita menjadi guru idola mereka sekarang dan masa yang akan datang dengan mengajari mereka memformulasi konsep dan bukan menghafal konsep. Salam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 7 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 15 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 9 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 9 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 9 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: