Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Syaiful Burhan

Blogger at www.buffhans.com

Dukungan dan Pilihan

OPINI | 14 March 2013 | 02:41 Dibaca: 88   Komentar: 0   0

Dikampus saya, saat ini sedang ada pemilihan calon ketua dan calon wakil ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang baru. Berhubung yang akan dipilih adalah dari himpunan jurusan saya, dan kesempatan itu sudah saatnya dari angkatan (stambuk) saya yang naik, otomatis yang akan naik adalah teman-teman saya sendiri.

Kebetulan yang lainnya adalah, ada dua calon, dan keduanya adalah teman dekat saya. Dari sinilah timbul sebuah dilema, dimana dari kedua pihak saling mencari dukungan, setiap suara, dan setiap partisipasi. Saya mendukung keduanya, tetapi pada akhirnya dukungan itu menjadi pilihan ketika keduanya meminta untuk memihak.

Pilihan itu akan selalu menjadi dilema, selama belum ada kejelasan untuk memihak. Walau pada akhirnya saya harus memilih salah satu diantara keduanya, namun setidaknya pilihan akhir bukanlah sebuah pilihan lagi, namun keputusan. Dan keputusan memilih bukan lagi tentang memihak.

Dukungan dan pilihan tidak selalu berjalan searah. Karena memang tidak ada jaminan ketika seseorang menyuarakan dukungan kepada salah satu pihak, maka pilihannya akan jatuh pada dukungan itu sendiri. Ini bukan masalah musuh dalam selimut, tetapi pilihan adalah hak prerogatif seseorang yang tidak bisa diganggu-gugat oleh siapapun.

Sekali lagi jangan salah, dukungan bukan berarti pilihan. Ada banyak faktor ketika seseorang mendukung pihak tertentu. Namun pilihan adalah faktor pribadi. Tetapi anggapan itu hampir selalu berbuah anggapan dusta dan khianat ketika dukungan dan pilihan tak sejalan. Untuk mengatasi hal itu, saya selalu mengatakan kepada kedua pihak, “Saya akan bertindak netral”.

Jangan salah anggapan juga ketika saya membantu salah satu pihak, misalnya untuk membuat poster atau kata-kata kampanye. Namun jangan pula jadikan hal ini menjadi alasan untuk memaksa melakukan hal yang sama pada pihak lainnya.

Akan selalu ada persaingan dalam menggapai suatu ambisi. Pada awalnya, yang terasa adalah dukungan satu sama lain yang saling menyokong. Tetapi namanya juga persaingan, selalu ada suara-suara pihak lain yang membuat aroma kekeluargaan menjadi aroma ambisi. Bukan dari salah satu pihak saja, bisa jadi keduanya. Ketika keinginan untuk menang semakin kuat, maka disitulah letak ambisi masing-masing.

Ini bukan hal yang pertama kali. Beberapa pemilihan sebelumnya, saya selalu berada pada posisi yang sama. Dan pada akhirnya, saya lebih memilih untuk menjadi pihak netral. Tidak memberikan dukungan pada salah satu pihak, tetapi mendukung semua pihak.

Dan kecenderungan orang atas tindakan kita akan muncul stigma ketika kecenderungan itu tidak mengarah kepada pihaknya. Kecenderungan akan selalu nampak, tetapi pilihan tak dapat ditebak.

Saya bingung ketika ada beberapa orang mengajak memberi dukungan dengan alasan saya bisa membawa banyak simpatisan. Yang perlu ditekankan adalah, ketika saya memberikan dukungan, lalu banyak simpatisan ikut misalnya. Pertanyaannya adalah, Simpatisan itu memihak pada sang calon atau saya? Atau calon pemimpin tak mampu menunjukkan kharisma sehingga mengandalkan orang lain untuk mengagkat kharismanya? Entahlah.., itu bukan urusan saya juga.

Jika memang berniat menjadi pemimpin orang banyak, maka bangunlah pribadi yang bijaksana dan tingkatkan kharisma, sejak dini. Namun ketika hal itu dilakukan ketika datang kesempatan, jangan salahkan siapapun ketika ada sebagian orang mengatakan matang karbitan.

Matang karbitan hanya terlihat matang dari luar saja, ketika dikupas, ia sama halnya seperti buah mentah yang terasa sepat. Maka bersiaplah untuk diumpat.

Kembali pada kalimat kesukaan saya sejak dulu,

“Hidup bukan tentang tega gak tega. Hidup adalah keberanian untuk mengambil keputusan

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 11 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 12 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 13 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Walikota Kota Bogor Bima Arya Sugiarto …

Hakeem Elfaisal | 8 jam lalu

Guru (di) Indonesia …

Inne Ria Abidin | 8 jam lalu

“Remember Me” …

Ruby Astari | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menguntungkan atau Malah …

Ian Wong | 9 jam lalu

Dua Oknum Anggota POLRI Terancam Hukum …

Inne Ria Abidin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: