Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Akhmad Tommy

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya Malang 2010 | Support Local Football Team and Support International selengkapnya

Graffiti sebagai Media Kreatif untuk Mengkritisi Pemerintah Lewat Seni Jalanan

REP | 13 March 2013 | 07:00 Dibaca: 563   Komentar: 0   0

13631462741959158393

Sumber gambar : http://i.images.cdn.fotopedia.com

Graffiti merupakan sebuah cara yang dilakukan untuk mengekspresikan sesuatu lewat berkreasi membuat tulisan atau gambar di dinding-dinding jalanan, yang biasanya dilakukan oleh para “bomber” istilah untuk pembuat graffiti. Graffiti yang selama ini di anggap sebagai perilaku vandalism oleh masyarakat kini citranya mulai perlahan bergeser dan mulai mendapat apresiasi dari masyarakat, karena graffiti pada saat ini tidak hanya sekedar coret-coret tembok untuk menuliskan identitas yang menyimbolkan sebuah daerah kekuasaan atau sebagai cara eksistensi diri semata, namun pembuatan graffiti pada saat ini bisa di jadikan media untuk menyampaikan pesan dari si “bomber” kepada masyarakat yang melihat hasil graffiti yang berupa sindiran mengenai kritik sosial, himbauan/informasi kepada masyarakat, media promosi (iklan), hingga mengkritisi pemerintah.

Di Indonesia aktivitas graffiti jamak dilakukan di kota-kota besar, seperti: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Graffiti biasa dilakukan oleh kelompok yang anggotanya minimal 2 orang atau lebih, sebuah kelompok graffiti biasa disebut crew. Untuk membuat sebuah graffiti diperlukan sebuah tembok/dinding/tripleks/media lain, cat semprot, cat tembok dan kuas cat, namun jika tingkat pembuatan desainnya rumit dan memerlukan konsentrasi tinggi maka diperlukan sebuah kompresor. Sebuah crew amatir untuk membuat sebuah graffiti menggunakan dana swadaya dari anggotanya, namun beda halnya dengan crew yang professional, graffiti bisa menjadi sebuah pekerjaan bagi mereka. Graffiti merupakan salah satu media kreatif dalam menyampaikan pesan atau informasi kepada orang lain, karena pembuatan graffiti seringkali dilakukan di jalan-jalan utama, ambil contoh di Bandung di kenal dengan dinding Jl. Dago yang terkenal sebagai tempat pembuatan graffiti sepanjang satu kilometer, dan di Yogyakarta terkenal dengan flyover Lempuyangan yang terkenal dengan graffiti yang unik dan syarat unsur budaya Jawa. Pembuatan graffiti kini arahnya mulai berbau unsur politis dan mengkritik pemerintah, ini bisa kita lihat dari pembuatan  graffiti yang berada di kota-kota besar, yang mengkritisi masalah di daerahnya, hingga isu-isu nasional seperti isu kenaikan harga BBM.

Graffiti dahulu dianggap sebagai ajang corat-coret/vandalism dan mengganggu keindahan, sehingga siapa yang membuat graffiti tanpa memiliki izin dari si pemilik dinding atau pemerintah daerah bisa di tanggkap oleh Satpol PP hingga aparat Kepolisian, karena dianggap mengganggu kenyamanan umum, namun pada akhirnya pembuatan graffiti ini banyak yang dilegalkan, karena graffiti kini dianggap sebagai sebuah seni jalanan yang bisa menjadi sebuah pemandangan yang menarik di pinggir jalan, graffiti dianggap lebih baik daripada pemasangan spanduk, baliho, hingga poster yang terkadang mengganggu dan terkesan mengotori ruang publik. Di balik pembuatan setiap graffiti pasti tersirat pesan yang ingin di komunikasikan si pembuat kepada yang melihat graffiti tersebut, dan kini graffiti merupakan salah satu media komunikasi yang cukup popular dikalangan remaja, karena merupakan sebuah kebanggaan jika dapat membuat graffiti dan graffiti itu bisa dihargai dengan cara tidak di tiban atau di hapus.

Graffiti mulai menjadi media popular untuk mengkritik pemerintah atau bersifat politis diawali oleh Alexander Brener, graffiti bisa diartikan sebagai pesan politik karena isi dan maksud dari pembuatan graffiti tersebut terkandung sebuah pesan yang syarat dengan politik atau kritik terhadap pemerintah, itu bisa dilakukan dengan membuat graffiti berbentuk gambar atau tulisan yang syarat dengan pesan politik atau kritik kepada masyarakat (http://graffitiartmodern.blogspot.com/). Graffiti kini merupakan salah  media komunikatif di masyarakat, bukan lagi sebuah ajang vandalisme biasa, karena menurut penulis seseorang bisa menyampaikan pesan kepada siapapun, lewat media apapun dengan cara apapun, karena pada hakikatnya dalam penyampaian pesan tidaklah harus selalu baku dan tersismatisasi dengan rapih, tapi media penyampaian pesan itu bisa berupa apa saja, tergantung kreatifitas dari seseorang untuk berfikir out of the box.

#Akhmad Tommy Prayogo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Petrus Lengkong, Seniman Dayak, Pensiunan …

Emanuel Dapa Loka | | 20 September 2014 | 08:56

Menilik Kasus Eddies Adelia, Istri Memang …

Sahroha Lumbanraja | | 20 September 2014 | 11:51

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 10:24

Wow… Peringkat FIFA Indonesia Melorot Lagi …

Hery | | 20 September 2014 | 09:35

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 9 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Peduli Pada Anak Autis …

Yos Asmat Saputra | 7 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B Tentang …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Ini Keajaiban Air Susu Ibu …

Nugraze | 8 jam lalu

Mengapa Baterai Smartphone Bisa Meledak? …

Mahardika W S | 8 jam lalu

Rania # 5 …

Aldo Manalu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: