Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Abdurrahman Mahmud

alumni s1 pendidikan biologi,alumni sm3t angkatan pertama penempatan rote ndao,mahasiswa pendidikan profesi guru pra jabatan selengkapnya

“MENJADI PENGAJAR PELOSOK ADALAH SEBUAH KEBANGGAAN, MENJADI SEBATANG LILIN KECIL YANG MENERANGI PARA LILIPUT DI PELOSOK NEGERI DEMI MENCERDASKAN ANAK BANGSA”

REP | 17 March 2013 | 13:09 Dibaca: 181   Komentar: 0   0

ABDURRAHMAN MAHMUD SPd

(Alumni S1 Pendidikan Biologi UNG 2007, Alumni SM3T Angkatan 1)

“MENJADI PENGAJAR PELOSOK ADALAH SEBUAH KEBANGGAAN, MENJADI SEBATANG LILIN KECIL YANG MENERANGI PARA LILIPUT DI PELOSOK NEGERI DEMI MENCERDASKAN ANAK BANGSA”


(Ini negeri besar dan akan lebih besar . Mengeluh dan mengecam tidak akan mengubah sesuatu. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu, Setahun Mengajar, menginspirasi sepanjang masa :Jargon para pengajar muda dan mungkin kontras dengan experience para pengajar SM3T)
Pendidikan, masih saja menjadi barang mahal di tanah saudara-saudara kita yang jauh dari pusat. Bangunan yang hampir roboh, fasilitas yang kurang memadai, jarak yang jauh dan terjal, kurangnya tenaga pengajar, dan masalah-masalah lain masih saja terjadi.

Lalu, bagaimana ceritanya kalau anak-anak muda, generasi penerus bangsa ini tergerak hatinya. Mereka adalah pengajar pelosok yang terpilih dari ribuan  calon. Mereka rela meninggalkan kenyamanan kota dan jauh dari keluarga untuk mengabdi di pedalaman, sebagai guru. Mereka berusaha melunasi janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak sekadar mengajar baca tulis hitung, mereka juga mengajar banyak nilai-nilai kebaikan, pun gantian belajar pada masyarakat asli.


MEMAHAMI BANGSA DENGAN MENJADI PENGAJAR PELOSOK

Aku memahami bangsa ini berawal dari aspirasi klise yang sering berkumandang di hati dan pikiranku, berawal dari benih inspirasi yang di proyeksikan dalam berbagai acara TV dan fenomena kehidupan komunal, terkadang pikiran klise ini merajai bahkan membuatku seperti super hero yang semu yang hanya terpatri dalam dunia anotomi otak dan terus membeku tanpa ada implikasi nyata terhadap bagaimana aku harus nyata dalam mengetahui dan mau berpartisipasi dalam membantu sedikit spot masalah bangsa ini. Dan aku harus berani mengunjungi dan mersakan pesona negeri ini bagaimanapun jalanya sehigga apa yang klise ini menjadi sebuah rekaman memori yang benar benar nyata terbentuk.

Dengan berdestinasi ke penjuru negeri ini aku akan jauh bisa mengenal Indonesia. Setidaknya itu adalah harapanku. Banyak orang bertanya kenapa aku pergi merantau. “Ngapain ke Rote? Jauh-jauh,” begitu kata mereka. Bagiku, pengalaman lebih mahal dari apapun. Pengalaman tak akan terganti oleh apapun. Sama halnya dengan waktu yang sedetik lalu telah hilang, pengalaman sangatlah berharga. Lewat pengalaman orang bisa belajar agar tidak terjatuh untuk yang kedua kalinya. Dan pada akhirnya kulalui hari-hariku menjadi seorang pengajar pelosok dengan begitu sederhana, sesederhana melihat terbit-tenggelamnya pesona sang surya. Inilah bagaimana merasakan potret indonesia di luar frame daerahku dan mencoba mengenali sejelas jelasnya cakrawala bangsa ini. Menjadi pengajar pelosok adalah seperti berani berpetualang dalam hutan liar tanpa takut akan bahaya ataupun masalah yang akan dihadapi, tapi bagiku itu adalah awal dari bisa atau tidaknya saya untuk keluar dari sebuah zona nyaman, dan itu sangatlah berat bagi setiap orang yang baru dihadapakan dengan hal itu.

SM3T, program salah satu pemerintah itulah yang telah membawaku ke pulau Rote. Tanah yang juga aku gambarkan dalam sebuah jejak petualang yang melahirkan banyak perubahan besar dalam hidupku. Aku mengenal tanah ini lewat buku-buku yang aku kumpulkandan lewat pelajaran IPS dimasa SD yang lalu yaitu mencari pulau di peta indonesia yang tercinta, aku pelajari, aku tafsirkan lalu aku tulis dalam sebuah karya sejarah. Sedikitpun tak pernah aku membayangkan, kini aku di sini, di pulau ini, pulau yang serasa aku berada di luar negeri.

Banyak hal yang menginspirasi terjadi di pulau ini, inspirasi yang saling bermutualisme, antara aku yang belajar rote dan aku yang memberi sedikit pengetahuan untuk anak-anak rote. Perbedaan budaya, makanan, agama, kondisi alam, pola pikir berkondensasi menjadi satu yang melahirkan paradigma baru tentang bagaimana rote, bagaimana pendidikan, bagaimana sistem pemerintahan, dan bagaimana indonesia dalam versi masyarakat rote. Menjalani tugas sebagai guru pelosok mjengajarkan banyak hal yang tadinya hanya bersifat ah masa bodoh menjadi bodoh kalu tidak mau tau. Kita akan benar-benar akan tau bangsa ini jika kita berani mengungkapkan hal hal klise yang luar biasa dalam pikiran ini menjadi lebih nyata dan itu pasti akan bernilai jika kita hanya berani diam dan hanya berani berargumen dengan pikiran kita. Inilah testimoni singkat untuk pemuda untuk berani berpartisipasi untuk bangsa kita yang sedang dilanda kesemrautan tak berujung.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 9 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 9 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 10 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: