Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Wahyu Eko Widodo

Manchester United Fans, Alumni Ganesha 10, entrepreneur, aktivis sosial @desainovasi, suka sama tema sains-teknologi, ekonomi, selengkapnya

Jangan Masuk S-1 ITB

OPINI | 25 March 2013 | 17:25 Dibaca: 36288   Komentar: 98   3

13641818601687759044

Sebentar lagi ada ujian nasional dan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri, anak-anak SMA kelas 12 mungkin banyak yang ingin masuk kampus-kampus favorit seperti UGM, ITB atau UI, sama seperti 6 tahun lalu saat saya kelas 12 SMA. Saat itu dalam memilih kampus, yang terpikir di otak saya cuma 2, saya suka pelajaran apa dan dimana yang passing gradenya paling tinggi, kenapa paling tinggi? karena asumsi saya, jika saya masuk di grade paling tinggi di Indonesia, maka akan mudah mencari kerja. Karena saya suka pelajaran kimia, kebetulan juga alumni olimpiade kimia maka saya memilih tiga program studi yang sangat berhubungan dengan kimia, yaitu teknik kimia, farmasi dan kimia (murni). Saya coba-coba cari informasi, di bimbingan belajar, di situs online dan sebagainya, ternyata ketiga program studi itu passing grade paling tingginya semua ada di ITB. Singkat cerita saya masuk farmasi ITB, lulus S1 4 tahun 3 bulan lalu pendidikan profesi setahun. Ini sekilas gambaran yang mungkin juga dihadapi oleh adik-adik yang saat ini akan masuk perguruan tinggi.

Saya akan lebih banyak cerita sesuai judul, ini cerita ketika saya dan beberapa teman alumni kumpul, ada yang sudah kerja di oil & gas company, ada yang bisnis, ada yang s2, ada yang kerja di bidang programming dan sebagainya. Teman saya yang s2 cerita, bahwa perbandingan saat dia kuliah s2 dengan s1 di ITB beda jauh, sama-sama di ITB, namun dengan effort belajar yang sama sekarang IPK nya selalu tinggi, mendekati 4, berbeda saat dia dulu s1 di matematika, mendapat IP 3 itu butuh perjuangan berat, memang S2 & S3 di ITB kualitasnya masih jauh dibanding S1. ITB sendiri saja tidak mau menerima dosen kalau s3-nya masih di ITB. lalu ada satu lagi teman yang bercerita, dia punya teman anak kimia ITB dulunya, saat di ITB IP-nya hanya sekitar 2, padahal dia dulu lulusan terbaik di SMA nya, lalu anak ini pindah ke teknik mesin suatu kampus negeri di depok dan sampai saat ini IPKnya 4 bulat!. Saya pun punya cerita, ada dua teman saya yang juga lulusan terbaik di SMA nya, satu orang dari cirebon, dia dulu peraih medali perunggu olimpiade sains nasional, satu lagi anak lampung, peringkat 31 olimpiade sains nasional, namun sayang kedua teman saya ini DO dari ITB. Adik kandung saya juga aneh, dia ikut SNMPTN 2 kali dan keduanya tidak diterima di ITB, pada akhirnya ia memilih kampus negeri lain di Bandung dan ternyata IPKnya mendekati 4. Ini segelintir contoh, ada sebenarnya contoh yang sukses juga, teman saya yang sudah lulus dari ITB lebih mudah memang hidupnya, ada yang s2 di jepang, belanda, jerman, kerja di pertamina, unilever, cevron, biofarma, bisnis dsb.

Apa yang ingin saya pesankan kepada adik-adik yang ingin masuk perguruan tinggi? masuk perguruan tinggi bukan masalah gengsi atau kebanggaan semata, program studi dan universitas yang akan kita masuki harus sesuai dengan minat, potensi dan passion kita. Khususnya di ITB, karena jumlah mahasiswa yang diterima disini jauh lebih sedikit dibanding universitas lain dan program studinya hampir semua IPA, maka persaingan pun ketat. Sampai bisa masuk pun belum tentu sukses, banyak contoh anak-anak yang dulu lulusan terbaik di SMA nya, juara olimpiade sains dan sebagainya, namun tidak sampai bisa lulus. Bukan karena bodoh, namun karena memang persaingan, lingkungan dan dosen yang ketat. Jangan heran bila kamu yang sekarang paling pintar di SMA, nanti pernah tidak lulus satu atau dua mata kuliah dan harus mengulang.  Pesan saya, jangan masuk S1 ITB, jika memang tidak siap untuk bekerja keras.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Tunjangan Profesi Membunuh Hati Nurani …

Luluk Ismawati | | 01 August 2014 | 14:01

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 15 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 16 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: