Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Masdar Ahmad

"Merasa, Maka Menjadi" "Menang Tanpa Mengalahkan"

Mukjizat Kata-kata

OPINI | 28 March 2013 | 08:53 Dibaca: 423   Komentar: 0   0

Kita sudah sering mendengar kalimat “kata-kata adalah mantra”. Bahkan dalam budaya kita, kata-kata diyakini memiliki kekuatan magis. Karena kata-kata, “Orang pandai” banyak dikunjungi dan dihormati. Dari Presiden sampai ketua RT meminta “orang pandai” memberi petunjuk dan mendo’akan. Petunjuk dan do’a adalah kata-kata.

Kata-kata yang dimaksud dalam tulisan ini bukan hanya ucapan melainkan juga tulisan atau isyarat lain. Artinya ada kata-kata yang terucapkan, tertuliskan dan terisyaratkan. Substansi dari ketiganya adalah sama. Karena ucapan, tulisan maupun isyarat hanyalah simbol dari sebuah konsep yang ada dalam pikiran. Ketika kita mengkomunikasikan pikiran kita kepada orang lain, maka dipilihlah kata-kata yang dapat berbentuk tulisan, ucapan atau isyarat.

Dalam hal kekuatan kata-kata ini, cerita rakyat di Nusantara -hampir semua tempat- memiliki cerita yang berkenaan dengan keajaiban kata-kata. Sekedar contoh adalah cerita Dedap Durhaka dari Bengkalis Riau: Kata-kata ibu yang sakit hati kepada anaknya bisa merubah kapal menjadi pulau dan manusia menjadi pohon mempelam. Nama pulau itu Dedap, sedangkan pohon mempelam hanya satu mempunyai dua rasa: masam dan manis di atas pulau tersebut.

Sedangkan secara ilmiyah, Massaru Emoto dari Universitas Yokohama Jepang, dalam bukunya “The Hidden Message in Water” telah membuat percobaan tentang pengaruh kata-kata ini terhadap air. Air akan memberi respon yang positip dan baik ketika kepadanya diucapkan kata-kata yang baik dan positif dan begitu juga sebaliknya. Yang lebih hebat adalah air Zam-zam karena setiap saat mendengar kata-kata yang baik dilantunkan oleh orang-orang yang datang ke Masjudil Haram, maka ia memiliki molekul yang berstruktur sangat indah, teratur, cantik bak berlian yang berkilauan, dan memancarkan lebih dari 12 warna jika dibekukan. Rangkaian bentuk heksagonal-nya sangat indah, cemerlang berkilau dan penuh warna ketika dibacakan ayat yang mulia.

Sayangnya, sebahagian besar dari kita hari ini hanya menjadikannya sebatas sebutan. Semangatnya tidak teraktualisasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Padahal, sebagai mantra, semestinya kita harus menjaga kata-kata. Karena kata-kata yang baik akan berakibat kepada kebaikan dan kata-kata yang buruk akan berakibat kepada keburukan juga.

Marilah sejenak kita renungkan apa yang terjadi di sekitar kita. Kata-kata apa yang sering kita dengar dan kita ucapkan? Mana yang lebih banyak? Baik atau buruk? Seandainya banyak yang positip dan baik yang kita dengar dan ucapkan, maka lingkungan sekitar kita menjadi positif dan baik. Sebaliknya apabila banyak kata-kata negatif dan buruk yang kita dengar dan ucapkan, maka lingkungan kita menjadi negatif dan buruk.

Mulai dari lingkungan terkecil keluarga: ketika orang tua membiasakan kata-kata yang baik akan membentuk kepribadian keluarga itu menjadi baik. Bahkan orang tua dengan kata-katanya dapat mengarahkan masa depan anak sesuai dengan keinginannya. Seorang isteri dengan kata-kata dapat membentuk seorang suami sesuai dengan harapannya. Begitu juga sebaliknya.

Di sekolah juga demikian. Guru dengan kata-kata dapat membentuk keperibadian murid-murid dan sekaligus mengarahkan masa depan mereka ke arah yang lebih baik. Sesama pendidik dengan kata-kata yang baik dan positif dalam setiap pembicaraan akan membentuk lingkungan yang baik dan positip.

Sampailah lingkungan yang lebih besar: masyarakat dan negara. Kata-kata akan memberi pengaruh yang sangat besar dalam pergaulan hidup bermasyarakat dan bernegara. Seorang pejabat publik harus memiliki kearifan dalam memilih kata-kata agar kehidupan bermasyarakat menjadi lebih positif dan baik.

Yang juga sangat penting dalam hal ini adalah kata-kata media. Pemberitaan yang positif dan baik akan ikut menciptakan kehidupan bermasyarakat dan bernegara menjadi lebih baik dan kondusif. Kritik yang disampaikan sebaiknya mengedepankan kearifan dengan memilih kosa kata yang juga positif dan baik. Karena pengaruhnya yang begitu besar, maka peran media dalam membentuk karakter bangsa melalui kata-kata juga sangat besar.

Sebagai penutup dinukilkan kata-kata di dalam Injil Yohanes sebagai berikut: “Firman Allah menjadi daging”. Saya pahami secara harfiyah maknanya: Kata-kata Allah menjadi nyata wujudnya. Itulah mukjizat kata-kata. Apa yang kita katakan, maka akan menjadi kenyataan. Karena itulah Nabi Muhammad saw. berpesan kepada umatnya: “Berkatalah yang baik atau diam”.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: