Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sudarsyah Asep

Membaca teks dan konteks

Buku Pelajaran?

OPINI | 29 March 2013 | 16:37 Dibaca: 132   Komentar: 0   0

Buku pelajaran  yang tersegmentasi dan lepas dari konteks saat ini,  hanya  berisikan bagaimana pengetahuan beroperasi,   lebih merupakan replikasi sejarah. Tidak ada yang baru, seperti kita dulu  dan sekarang belajar hal yang sama, misalnya belajar: hukum gravitasi bumi, begitu adanya seperti dulu. Maklum sains mempunyai tingkat reliabilitas yang mantap. Begitu pun ilmu pengetahuan sosial, latah, mempertahankan “kebenaran” masa lalu atas dasar penyederhanaan kompleksitas dunianya saat ini yang telah berubah. Jadi tidak menjadi aneh, ketika seorang pelajar membaca buku pelajaran saat ini tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dipelajari oleh generasi sebelumnya. Kita lihat saja nanti  apakah buku  dalam kurikulum 2013 merupakan replikasi teks buku-buku sebelumnya?

Semua akan terpulang pada sosok guru memperlakukan buku. Sejatinya seorang guru adalah orang yang pandai membaca dan mengisi “ruang kosong” suatu teks (buku) serta memahami interrelasinya dengan dunia dimana anak-anak kita belajar. Memandang siswa sebagai pembelajar, juga meyakini dirinya sebagai pembelajar pula. Guru dan siswa bersama belajar dalam ruang yang disebut “praksis”.  Seorang guru pasti “lebih” daripada siswanya. Tetapi bukan berarti kelebihan itu untuk diberlakukan secara sepihak kepada siswa melalui kata-kata yang dikutip dari buku. Hasilnya, siswa hanya belajar “membeo; duduk, diam, dengar dan hapalkan; baca, isi soal, dan lulus”. Tentunya, mitos tersebut kontradiksi dengan belajar itu “kritis, kreatif, dan inovatif,   mandiri, percaya diri, toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.

Buku, yang akan dicetak itu, yang akan menghabiskan satu trilyun lebih, bukanlah teks berisikan kalimat-kalimat “suci” yang harus diimposisikan kepada siswa [mudah-mudah juga bukan replikasi dari buku lama]. Mudah-mudahan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 9 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 14 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 19 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Kecerdasan Intelektual Tanpa Moral …

Egy Nuralamsyah | 8 jam lalu

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | 8 jam lalu

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | 8 jam lalu

Anaphalis …

Riki Asiansyah | 8 jam lalu

Dan Memang Benar …

Vincensia Enggar | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: