Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Gie Thok

selalu ingin tahu yang belum tahu

Keharmonisan Keluarga Kecil Aktifis PKB

OPINI | 28 March 2013 | 21:53 Dibaca: 48   Komentar: 0   0

Ini cerita dari seorang aktivis juga kader PKB yang sedang menunggu kelahiran anak pertamanya. Saat ini kandungan istrinya sudah masuk bulan ke-8, sehingga istrinya sering mengalami kontraksi.

Ini malam tidak seperti biasanya yang sampai subuh isinya hanya merengek kesakitan karena kontraksi kandungannya. Kalau sedang kontraksi, efeknya tidak bisa tidur sampai subuh karena harus memijitnya , mengelus perutnya sambil mengajak ngobrol jabang bayinya. Rasanya sesuatu banget, bahagia bercampur-campur, yo seneng, yo wedi lan akeh liayane, katanya.

Biasanya 1/3 malam dia dioglek-oglek aliasan dibangunkan karena kandungannya kontraksi, ia terpaksa bangun walau masih kantuk tetapi senang. Saat kontraksi isrtinya merasakan sakit dengan merengek-rengek, saat seperti itu ia merasakan sakit pula. Disamping itu ia juga sedih plus bahagia karena itu menandakan ibu dan jabang bayinya sehat selalu.

Di suatu malam tanpa sengaja sewaktu istrinya sudah tertidur pulas, ia membuka dan membaca percakapan BBM istrinya dengan seorang temannya (kader Gerindra). Temen istrinya bertanya:”sampai kapan suamimu akan bertahan di PKB?” istrinya menjawab:”sampai KIAMAT, sebab suamiku memiliki “Big Emotional Connection” dengan PKB”. Pikir dia mungkin ini jawaban yang sangat cerdas. Lalu dijawab temen istrinya:” ya sudah kalau suamimu di PKB, kamu ke Gerindra saja”. Istrinya menjawab:”belum juga sempat ijin, suamiku pasti akan tertawa”.

Ia bercerita saat membaca BBM itu , ia tertawa terpingkal-pingkal. Dialog tersebut tidak sekadar bermutu tetapi juga lucu. Bermutu karena istrinya tulus mendukung seluruh aktivitasnya dan lucunya karena jarang ditemukan istri yang menjawab persoalan dengan bijak, biasanya langsung buka front.

Sekarang Ia beraktivitas sebagai TA salah satu Anggota PKB DPR RI di senayan serta aktif dalam kegiatan kepemudaan di PKB.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 4 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 9 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 9 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 10 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: