Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Qinimain Zain

Scientist & Strategist (QPlus Management Strategies - Consultant)

Masalah (Kurikulum Salah Semua) Indonesia

OPINI | 31 March 2013 | 07:57 Dibaca: 445   Komentar: 23   4

Masalah (Kurikulum Salah Semua) Indonesia

(Seri 3: Kurikulum Paradigma Baru Milenium III)

SULIT untuk meludah keluar madu dari mulut penuh empedu (Pepatah Denmark).

Lalu, apa sih masalah (kurikulum salah semua) Indonesia?

KAMI terbuka saja dan kami menerima orang yg mengkritik dan punya solusi. Kami sangat welcome dan kami terima dengan baik. Tapi jangan kritik ini salah itu salah dan nggak ada solusi dan semuanya yang kami buat selalu salah,” kata Mohammad Nuh - Mendikbud RI, saat Pemantapan Sosialisasi Kurikulum 2013 di Balai Sudirman, Jakarta. “Kurikulum ini soal akademik bukan politik. Jadi bawa ke ranah akademik dan gunakan kajian akademik,” jelasnya (Kompas.com, 28/3/13).

M Nuh benar. Tidak adil ada pandangan bahwa Kurikulum 2013 atau pendidikan Indonesia salah semua. Atau, bila ada kekurangan semua salah ditimpakan pada Departemen Pendidikan Nasional, Mendikbud dan sekolah atau orang-orang yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Karena, kalau Strategi Nasional (grand strategy) keliru, maka strategi divisi (departemen, kementerian atau yang lain) juga meleset. Begitu juga dalam ilmu pengetahuan (dan teknologi). Kalau paradigmanya belum beres, maka prinsip cabang ilmunya juga kacau. Jika arah (grand strategy) salah, maka selurus apa pun jalan dan sebaik apa pun melangkah, hasilnya pasti salah. Misalnya.

Pertama, Debat Kurikulum 2013 atau pendidikan nasional berkepanjangan karena memang paradigma (ilmu) pengetahuan sosial masih pra-paradigma. Selama paradigma belum sepakat akan berdebat kusir sampai kiamat. (Baca tulisan, Masalah (Kurikulum Kutukan) Indonesia).

Kedua, Kompetensi Keunggulan. Kompetensi ilmu pengetahuan dan keahlian pendidikan (si)apa pun berkaitan dengan karakteristik lingkungan di mana berada, meski dapat mengalami perpindahan nilai dari geografi sampai psikografi. Ada hukum keterkaitan dan kesepadanan (link and match). Kompetensi kurikulum pendidikan (si)apa pun harus terkait dan kesepadanan dengan keunggulan inti bisnis (core competence) geopolitik bangsanya. (Lihat, 3 Catatan). Adalah mustahil kurikulum pendidikan menjadikan seseorang, organisasi atau bangsa unggul ketika strategi kebijakan pemerintahan bangsa itu sendiri tidak tepat pada keunggulan inti bisnis karakteristik lingkungan geografiknya. Apalagi, ternyata, keunggulan inti bisnis yang seharusnya dimiliki seseorang, organisasi atau bangsa itu dikuasai orang, organisasi atau bangsa lain. Hasilnya, sumber daya manusia menjadi kuli di negara sendiri, atau harus pergi menjadi kuli di negara orang lain.

Ketiga, … (Bersambung).

Jadi, jelas masalah (kurikulum salah semua) Indonesia? Kasihan kurikulum 2013 atau pendidikan nasional dan pengelolanya. Dipaksa mengikuti arah (strategi nasional) memanjat pohon enau yang salah, diminta mendapatkan buah nangka yang manis. Karena belum mendapatkan buah nangka, semua salah ditimpakan. Benar-benar, sudah jatuh, ditimpa tangga pula. Artinya, kalau ada yang menyatakan keburukan pendidikan Indonesia itu semua salah Departemen Pendidikan Nasional, menteri, sekolah atau guru. Itu tidak benar. Harusnya, pemimpin pemerintahan meninjau ulang strategi nasional (grand strategy) dan para ilmuwan memikirkan ulang grand theory apa yang dimiliki sekarang. Ini akar masalahnya. Jangan gampang mengkritik yang lain salah semua, apa lagi menuduh gila.

MEREKA yang tidak mendengarkan musik akan berpikir penari seorang gila (Pepatah Melayu).

BAGAIMANA Strategi Anda?

Bersambung (Seri 4: Kurikulum Paradigma Baru Milenium III).

Wajib Dibaca:

1. Mohammad Nuh: http://edukasi.kompas.com/read/2013/03/28/21570538/Mendikbud.Bukan.Waktunya.Lagi.Mendebat.Kurikulum.2013

2. Qinimain Zain: http://edukasi.kompasiana.com/2013/03/08/masalah-kurikulum-kutukan-indonesia-535280.html

3. Catatan: Untuk sekadar menggambarkan (r)evolusi kompetensi keunggulan: Lihat literatur dari Friedrich Ratzel – Politche Geographic (1879), kemudian diurai Michael E. Porter – Competitive Strategy (1980), didefinisikan Al Ries dan Jack Trout – Positioning (1981), diperjelas Regis McKenna – New Marketing (1985), dipertegas Al Ries dan Jack Trout – Bottom-up Marketing (1989), dirinci Hermawan Kartajaya – Marketing Plus 2000 (1989), sampai dipertajam Gary Hamel dan CK Prahalad – Core Competence (1990), dan (menurut saya) disempurnakan dengan (TQZ Value Migration, 2000).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 12 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 12 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 13 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 16 jam lalu

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: