Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Konsep Diri Guru

OPINI | 01 April 2013 | 17:09 Dibaca: 355   Komentar: 0   1

Setiap orang memiliki tujuan hidup yang berbeda-beda sesuai dengan keinginan masing-masing. Namun, dalam menggapainya diperlukan kemampuan yang pada dasarnya harus dimiliki dan setiap orang haruslah memilikinya, misalnya setiap siswa atau peserta didik kita ketika ditanya, “ Apa cita-citamu ?”, maka ia akan menjawab, “ Dokter, Ilmuwan, Pilot, Wiraswasta, pengusaha dan sebagainya”. Kemudian sang guru akan berkata, “belajarlah dengan giat”. Itulah cara yang harus dimiliki setiap orang meskipun tujuannya berbeda-beda.

Belajar, bagi seorang guru adalah hal mutlak yang tidak bisa ditinggalkan. Bukan berarti telah menjadi guru, kemudian tidak perlu lagi belajar. Bahkan pembelajar yang baik adalah semakin bertambah ilmunya semakin haus ia akan ilmu itu. Semakin dalam ia memahami dan mendalami ilmunya maka ia akan semakin merasa dirinya rendah, tiada artinya dirinya di hadapan Sang Pemilik Ilmu dan Sang Maha Cerdas, Dialah Allah SWT. Memaknai dirinya lebih dalam bahwa eksistensi dirinya adalah setitik debu di angkasa raya, secuilnya ilmu yang dimiliki ibarat setetes air laut yang menempel di ujung jari saat jari dicelupkan di laut, menunjukkan ketawadhuan (kerendah hatian) seorang guru, juga menunjukkan bahwa eksistensinya tidak lebih berharga dari Pemilik dan Pencipta Jagad Raya.

Mengetahui eksistensi diri sangatlah penting sebagaimana Imam Al-Ghozali tuliskan dalam kitabnya, “barangsiapa yang mengenali dirinya maka ia akan mengetahui Tuhannya”. Ungkapan beliau ini lumrah dan benar, bahwa semakin dalam seseorang (dalam konteks ini seorang guru ) memaknai dan menelisik eksistensi dirinya di dunia, maka akan mendorong dirinya lebih memaknai hidupnya. Hal senada dituliskan oleh Tsun Zu dalam “ The Art of War” menyebutkan bahwa, “ Jika anda ingin menang dalam perang, maka ketahuilah kekuatanmu dan kekuatan musuhmu”. Benar, bahwa kalau kita maju ke medan perang, tanpa memperhatikan kekuatan dan kelemahan diri dan kekuatan musuh, tentunya kita maju perang dalam keadaan “galau”.

Mengetahui tentang kekuatan dan kelemahan diri untuk maju ke medan pertempuran sehingga meraih kemenangan, inilah yang saya maksudkan dengan Konsep Diri atau Personal Concept. Karena kita seorang guru, maka Konsep Diri Seorang Guru.

Untuk mengetahui konsep diri kita sebagai seorang guru, maka hal yang mesti kita lakukan adalah :

Pertama, Mengetahui Aku Diri. Aku Diri adalah mencari tahu informasi apa saja yang terdapat dalam diri kita sesuai dengan pandangan kita. Dalam bahasa Geografinya “Wawasan Nusantara” atau cara pandang bangsa Indonesia terhadap dirinya. Nah, mengetahui diri sendiri sesuai cara dan sudut pandang diri kita sendiri ini sangat diperlukan karena, kejujuran yang dibutuhkan. Menelisik sudut-sudut terkecil dalam diri kita dengan kejujuran yang dalam akan membawa kepada titik kulminasi bahwa sesungguhnya diri ini sangatlah kecil sekali. Memang sangat sulit menelisik diri sendiri, karena ada pepatah, “ Semut di seberang samudera terlihat, Gajah di pelupuk mata tak kelihatan”.

Namun, hal ini harus dan harus dilakukan karena dengan mengetahui kekuatan, kelemahan diri sendiri dapat menjadi senjata menghadapi musuh di medan laga. Saya yakin anda pernah melihat aksinya Jacki Chan dalam Nameless atau Who am I ? Yah, dia mencari jati dirinya. Berarti, kita berusaha menemukan jati diri kita sesungguhnya.

Kita malas ? Sering telat ? Sedikit saja langsung marah ? atau malas membaca buku-buku referensi atau buku-buku perkembangan pendidikan modern ? menyepelekan psikologis siswa ? Kurang tegas ? atau egois ? Sering berbohong ? Suka membicarakan orang lain ? Lalai dalam beribadah dan berdoa ?

Itu adalah sebagaian kecil kelemahan yang telah menempel dalam diri kita. Jujurkah kita ?

Kita punya tangan lengkap ? Telinga ? Mobil ?Motor ? Kasih sayang ? Bisa tersenyum ? Rendah hati ? mudah bergaul ? Suka memberi ? Pandai bercakap ? Pandai bercerita ? Pandai guyon ? Atau pintar memasak ? itulah sebagaian kecil sifat melekat yang baik dan merupakan kekuatan dalam diri kita. Jujurkah kita ?

Kedua, Aku Sosial. Maksudnya adalaha diri kita, sifat kita, kekuatan dan kelemahan kita dalam cara dan sudut pandang orang lain yang mengenal kita. Mari kita minta masukan, kritik yang pedas, evaluasi yang maksimal dari orang lain bahkan dari orang yang paling kita cintai. Mintalah daftar kekuatan dan kelemahan kita dari orang lain itu. Sampaikan kepadanya, jujurlah tiada yang ditutup-tutupi.

Untuk apa sebenarnya ini ? Bukankah ini aib ? Kita bukan membicarakan masalah aib, tetapi kita membicarakan seberakah kekuatan dan kelemahan kita dalam pandangan orang lain. Kadangkala kita menganggap diri kita sudah kuat, punya senjata ini dan itu, tapi orang lain bilang jauh dari itu. Ataukah sebaliknya, kita menganggap diri kita ini lemah dan tiada punya kekuatan, padahal orang lain meanggap dan melihat diri kita memiliki kekuatan luar biasa. (pernah nonton film : RIO )

Terakhir, yang harus diperlukan adalah ketiga, Aku Ideal. Setelah kita melist semua kekuatan dan kelemahan yang ada dalam diri kita dan dalam cara pandang kita kemudian disandingkan dengan cara pandang orang lain, maka kita harus melihat manakah yang cocok ? Manakah yang harus saya perbaiki dari sifat-sifat yang ada dalam diri saya ? Manakah sifat yang harus saya kobarkan dan saya pupuk sehingga menjulang melangit ? Manakah sifat yang harus saya pertahankan dan dipelihara ? Atau manakah dari sekian sifat itu yang harus ada dalam diri kita, sedangkan kita tidak bisa melihatnya.

Maka, ramuan-ramuan yang kita buat itu ( perpaduan : Aku Diri dan Aku Sosial) menghasilkan jamu Aku Ideal. Itulah aku yang sesungguhnya. Aku bukan orang lain, tapi aku adalah aku yang sesungguhnya. Aku adalah guru yang sejati, bukan guru yang sekedar guru apa adanya.

Saya yakin, jika semua guru melaksanakan ketiga hal ini, biidznillah munculah guru-guru yang benar-benar guru sejati. Dan banggalah bangsa ini dengan keberadaan guru-guru sejati ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Burung tentang Bandung: Superhero …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 14:15

Ikhlas, Kunci Ibu Bisa Bahagia …

Sekar Sari Indah Ca... | | 20 December 2014 | 13:33

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35

Mazagran: Lahir dari Perang, Lalu …

Kopi Keliling | | 20 December 2014 | 13:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 7 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 8 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 9 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: