Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Septin Puji Astuti

Tidak ada yang lebih istimewa selain menjadi ibu dari empat anak

Tidak Ada “Tidak Naik Kelas” di Sekolah Inggris

HL | 01 April 2013 | 12:41 Dibaca: 3184   Komentar: 96   18

Sumber gambar: http://internetmarketing.websiteini.com/blog/wp-content/uploads/2012/06/anak-tidak-naik-kelas.gif

Dulu ketika saya masih kelas 1 SD, saya mengenal seseorang. Sebut saja namanya Fulan di kelas 5. Maklum saja, anaknya memang besar dan dikenal jagoan di sekolah saya. Si Fulan ini ternyata teman kakak kembar saya yang waktu itu kakak saya sudah kelas 1 SMP. Jadi Fulan memang tidak naik kelas.

Begitu saya kelas 2, si Fulan masih tetap di kelas 5. Dia tidak naik lagi. Tahun berikutnya, dia tidak beruntung lagi. Lagi-lagi harus tinggal kelas. Hingga saya kelas 4 SD, ternyata si Fulan masih setia di kelas 5.

Tetapi ketika saya kelas 5, saya tidak menemui si Fulan lagi. Saya kira dia sudah naik kelas atau malah sudah masuk SMP. Tapi ternyata dia tidak melanjutkan.

Fulan bukan satu-satunya. Ada lagi beberapa teman saya yang ternyata mereka pernah tinggal kelas.

Sekolah SD saya katanya SD terbaik. Lokasinya di desa di kaki Gunung Semeru. Lulusannya juga bisa dibilang banyak yang kemudian melanjutkan ke sekolah-sekolah ternama di kota-kota. Tetapi meski ada alumni yang kualitasnya bagus, ternyata banya ditemui murid yang tinggal kelas.

Berbeda dengan dengan di SMP dan SMA. Katanya lagi SMP saya di kecamatan, sedangkan SMA saya di kota. Teman saya yang tinggal kelas di SMP tidak saya temui. Begitu juga di SMA. Namun bukan berarti tidak ada yang tidak tinggal kelas, melainkan mereka pindah ke sekolah lain. Ya, mereka yang tidak naik kelas malu melanjutkan sekolah di sekolah yang sama jika ternyata mereka tinggal kelas. Karena memang yang tinggal kelas di SMP dan SMA saya hanya satu atau dua orang. Jadi mudah teridentifikasi mana yang tidak naik kelas.

Fenomena tinggal kelas sampai sekarangpun masih ada. Bahkan mungkin lebih banyak seiring dengan semakin tingginya standar pendidikan namun tidak diiringi dengan perbaikan kualitas pendidikan terutama di  daerah pelosok.

Hal yang sangat kontras dengan sekolah di Inggris. Tidak ada namanya anak tidak naik kelas.

Tahun ajaran baru dilakukan setiap September. Jadi anak masuk ke kelas tertentu jika usianya pada 1 September sudah memasuki usia tertentu. Misal, anak masuk nursery (TK) jika adak sudah berusia 3 tahun per 1 September. Tahun berikutnya, jika anak sudah berusia 5 tahun per 1 September secara otomatis anak akan masuk di Reception (kelas terrendah dari SD). Begitu juga selanjutnya, jika anak berusia 5 tahun per 1 September, anak bisa masuk ke Year 1. Begitu terus hingga dia lulus SMA. Ini karena memang pendidikan di Inggris didasarkan pada pendidikan berdasarkan usia.

Lantas bagaimana jika anak tidak bisa memenuhi target sekolahan?

Evaluasi anak sekolah dikelompokkan ke dalam empat Key Stage. Rinciannya adalah sebagai berikut:

1364760893406879082

Di setiap kelas, hasil pembelajaran anak juga akan dievaluasi. Hasil evaluasinya tertera di rapor. Namun bukan sebagai penentu anak naik kelas atau tidak. Jadi jika ternyata hasil pembelajaran anak berada di bawah level nasional, anak tetap akan naik ke kelas selanjutnya.

Buktinya, ada teman anak saya yang di Reception. Anaknya sepertinya Speech Delay. Tetapi dia tetap naik ke kelas Reception meskipun belum bisa bicara apa-apa. Bukti lain lagi anak pertama saya ketika di akhir Year 2, speaking-nya hanya di level 1C yang ini berarti dia masih di bawah standar level nasional. Tetapi dia tetap naik ke Year 3.

Apakah memaksakan anak ke kelas lebih atas membuat dia jadi ketinggalan. Jika menggunakan logika umum, bisa jadi iya. Tetapi apakah tidak dipikirkan bahwa jika ternyata anak mendapat nilai jelek karena kondisi psikologisnya sedang tidak bagus. Misalnya, memang anak tidak nyaman belajar. Jika seperti ini, berarti tidak bisa menilai kepandaian anak sebenarnya. Seperti kasus anak pertama saya, meski speaking-nya di Year 2 di bawah standar, ternyata sampai di Year 3 tidak ada masalah malah nilai akademiknya semakin bagus.

Bagaimana bisa?

Sangat bisa, jika mindset guru diubah menjadi ‘lebih memperhatikan yang lemah dibandingkan memperhatikan yang sudah mampu‘. Anak yang sudah mampu, tanpa diajaripun sudah bisa. Tetapi anak yang lemah memahami suatu pelajaran, jelas butuh bantuan guru lebih banyak daripada anak yang mampu. Dengan cara seperti ini, tidak akan ada lagi anak yang tertinggal pelajaran.

Lantas bagaimana ketika mereka masuk universitas?

Proses belajar di Inggris dimulai sejak usia 3 tahun di nursery yang kemudian 4 tahun masuk di Sekolah Dasar (Reception). Usia 11 tahun masuk SMP dan usia 13 tahun masuk SMA. Jika dihitung masa efektif belajarnya itu di usia 4 tahun, berarti 12 tahun anak belajar di sekolah hingga lulus SMA. Selama 12 tahun itulah proses pendidikan di sekolah dijalani yang tentu saja ada proses seleksi alam. Siapa yang bisa bertahan dalam proses pendidikan itu, dialah yang bisa eksis hingga ke jenjang berikutnya. Tanpa perlu diputus tidak naik kelas, rapor anak yang berisi hasil tes dia selama 12 tahun sudah menyimpan data bagaimana kemampuan anak.

–ooOoo–

Anak dilahirkan dengan keunikannya masing-masing dan dengan kemampuan yang berbeda-beda. Memberi hukuman anak dengan tidak naik kelas belum tentu hal yang bijaksana. Bisa jadi, seperti kasus saya ketika sekolah SD di kaki gunung Semeru yang nun jauh dari kota menjadi faktor penyebab anak tidak naik kelas. Jika negara tidak memberi fasilitas pendidikan yang bagus di pelosok apakah wajar jika pedidikan kita menerapkan tidak naik kelas seperti kasus tidak naik kelas massal seperti di sini dan di sini? Atau, kasus mengembalikan anak ke kelas di bawahnya hanya karena rapor hilang seperti di sini?

Menjadi anak cerdas itu pemberian dari Allah yang tidak perlu dipermasalahkan. Tetapi berusaha untuk menjadi pandai itu pilihan yang bisa diciptakan oleh negara yang mengharapkan ekonominya maju melalui masyarakat yang berpendidikan dan bermartabat.

Tulisan sebelumnya

Aktifitas Belajar Anak di Sekolah di Inggris; Mengintip Sekolah Dasar di Inggris Yuk;

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wahana Baru Ice Age Arctic Adventure, Dufan …

Rokhmah Nurhayati S... | | 19 April 2014 | 01:35

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Araira …

Fandi Sido | | 16 March 2014 | 19:39

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 9 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 10 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: