Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Poernamasyae

dibilang panasbung sama pasukan nasi bungkus (beneran) yang tak terverifikasi di kompasiana hahahahaha

Beberapa Penelitian tentang Modal Sosial dan Pendidikan (2)

REP | 02 April 2013 | 16:15 Dibaca: 514   Komentar: 0   0

Israel et al. (2001) dengan menggunakan data longitudinal menemukan bahwa proses modal sosial dan struktur modal sosial (dua atribut modal sosial) merupakan dua faktor kunci yang mempengaruhi prestasi pendidikan siswa sekolah menengah (Fullarton, 2002). Sandefur et al., (1999) melaporkan bahwa bentuk-bentuk modal sosial mempengaruhi pencapaian sekolah pada pengukuran mutu hubungan sosial dan dukungan – dukungan yang berhubungan dengan beragam bentuk modal sosial. Lamanya bersekolah juga mengakibatkan tingginya modal sosial. (Milligan et al., 2004, Helliwell and Putnam, 2007, Gleaser et al., 2007 seperti dikutip oleh Alghan (2011). Lamanya bersekolah juga memiliki manfaat lain yang dibutuhkan siswa yaitu manfaat yang selain berkenaan dengan keuangan (Oreopoulos and Salvanes, 2011). Cueto et al. dengan penelitian di Amerika Latin (2005) juga menemukan bukti pendukung tesis adanya kaitan antara modal sosial dengan prestasi pendidikan.

Menahem (2011:1101) dalam meneliti modal sosial dan penampilan pendidikan memiliki bukti-bukti yang terkait dengan hubungan positif antara modal sosial di keluarga – yang dioperasionalisasikan sebagai hubungan suportif di dalam keluarga – dengan berbagai aspek dari prestasi sekolah.

Lingkungan sekolah (yang diukur sebagai iklim positif sekolah, guru-guru yang berkualitas, dan disiplin yang efektif) meningkatkan tingkat keterlibatan siswa (Fullarton, 2002). Siswa yang memiliki sikap positif terhadap sekolahnya (diukur dengan kepuasan umum siswa terhadap sekolah, sikap terhadap guru-guru, pandangan terhadap pemberian kesempatan-kesempatan oleh sekolah, dan perasaan berprestasi) memiliki tujuan pendidikan yang lebih tinggi dan aspirasi serta berkorespondensi dengan peningkatan partisipasi pendidikan dan pelatihan.

Aghion et al (2010) and Guiso et al (2010) as cited by Algan et. al., mencatat bahwa sekolah lebih baik daripada keluarga dalam berkontribusi terhadap penyebaran modal sosial. Catts and Ozga (2005) menemukan beberapa indikator modal sosial di sekolah diturunkan dari keluarga, tetangga, organisasi komunitas dan sekolah. Leana (2010) menyatakan bahwa iklim kepercayaan – bagian dari modal sosial – lebih penting daripada tingkat pendidikan guru, sertifikasi guru atau pengukuran sumber daya manusia lainnya, dalam meramalkan prestasi siswa.

Karena itu, jangan berharap banyak bahwa mutu pendidikan akan meningkat pesat, setelah guru atau dosen menyandang predikat Guru/Dosen Bersertifikasi, apabila trusting climate tidak dibangun dengan terrencana pada lembaga pendidikan tersebut : )

Penelitian Helliwell and study (1999) menyatakan bahwa peningkatan rata-rata tingkat pendidikan akan meningkatkan kepercayaan dan tidak mengurangi tingkat partisipasi.

Penelitian lainnya menghubungkan modal sosial dengan metode pengajaran dan program ekstra kurikuler. Praktik pengajaran horisontal, seperti bekerja kelompok, terlihat mendukung fungsi modal sosial, sementara praktik pengajaran vertikal seperti sistem kuliah umum,

Komunitas manusia juga menjadi penting dalam hubungan pendidikan dan modal sosial seperti dinyatakan pada hasil penelitian berikut ini. Menurut Sun seperti dikutip oleh Menahem, (2001) mengklaim bahwa modal sosial pada tingkat komunitas adalah signifikan karena meskipun jejaring keluarga dapat mempengaruhi penampilan pembelajaran pelajar secara individual, modal sosial pada tingkat komunitas dapat mempengaruhi penampilan semua pelajar yang ada di dalam komunitas.

Untuk para pengajar, modal sosial juga berguna dalam pengembangan kurikulum. Seperti penelitian Sugawara (2009) yang menemukan bahwa konsep koneksi sosial (social linkages) salahsatu dari tiga dimensi dari modal sosial sangat penting bagi pengembangan kurikulum serta dalam memperkuat kapasitas intelektual staf fakultas, dan mendorong mereka menjadi ilmuwan yang lebih baik dan kontributor bagi pengembangan kurikulum.

Selain dikaitkan dengan pendidikan di tingkat sekolah, modal sosial juga menjadi subjek penelitian pada pembelajaran orang dewasa dan kegiatan pembelajaran seumur hidup. Hubungan antara modal sosial dan pembelajaran seumur hidup adalah bermanfaat secara mutualistik (Field 2005 sebagaimana dikutip oleh Harris dan Dalley, 2008). Sementara itu Suellen (2008) menyarankan bahwa guru-guru pada pembelajar dewasa agar secara aktif mengembangkan keluaran modal sosial dengan menghargai para siswanya dan menggunakan aktifitas kelas yang mendorong siswa untuk berinteraksi dan bekerja secara kolaboratif.

Metode Pengajaran Bermain berkontribusi terhadap modal sosial karena memperkaya keterlibatan pembelajaran orang dewasa, kerjasama dan perasaan keterhubungan dengan yang lain seperti juga dengan orang-orang, sumber daya-sumber daya dan informasi di belakang kelompok mereka (Harris dan Dalley. 2008).

Beberapa penelitian menghubungkan modal sosial dengan transformasi/perubahan bentuk sekolah. Penelitian modal sosial Harris (2008) dari empat negara menghasilkan kesimpulan bahwa modal sosial merupakan sumber penting, yang jika disatukan dengan bentuk-bentuk modal lainnya (modal intelektual, modal finansial, dan modal spiritual), dapat mendukung keberhasilan transformasi sekolah.

Dari beberapa penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa modal sosial memiliki kontribusi positif terhadap pendidikan. Modal sosial bisa direkayasa oleh para pengelola pendidikan, agar dapat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya modal sosial. Hal ini tentu tidak mudah, karena akan melibatkan semua komponen pendidikan. Misalnya pada satu sekolah, maka semua guru harus mengikuti skenario pembentukan iklim pendidikan yang diharapkan. Kalau ada guru yang ‘genit’, ‘matre’, ‘egois’, ‘apatis’ dan sejenisnya maka tujuan tidak akan berhasil sempurna. Begitu pula di perguruan tinggi. Ini contoh kecil rekayasa modal sosial dengan intervensi lingkungan. Masih banyak lagi yang bisa dilakukan. Selama ini penelitian di bidang pendidikan hanya berkutat pada cara mengajar, ataupun penelitian tindakan kelas. Mungkin mengadopsi konsep-konsep sosiologi seperti modal sosial bagi penelitian pendidikan merupakan salahsatu terobosan untuk membuka wacana pendidikan secara lebih luas.

Wuhan, 2013-04-02

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-Keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

“Account Suspended @Kompasiana Diburu …

Tarjo Binangun | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: