Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Novi Amaliyah

Learning from Life....

Belajar “Bermain”

HL | 03 April 2013 | 18:12 Dibaca: 254   Komentar: 0   2

13649616871613743461

Kalo di Indonesia ini seperti permainan engrang

Hari itu saya menerima undangan dari Yuzuki Shogakko (Yuzuki Elementary School), tempat anak-anak saya bersekolah setelah kami menetap di Kota Matsuyama, Ehime Perfecture, Jepang. Undangan untuk menghadiri sebuah acara “Sankambi” di sekolah.  Sankambi atau kunjungan orang tua ke sekolah rupanya adalah kegiatan rutin di sekolah dasar di Jepang. Sejak dua bulan anak-anak bersekolah di sana, ini adalah undangan Sankambi yang kedua.  Sankambi pertama waktu itu diadakan hari minggu, sehingga orang tua siswa yang bekerja bisa hadir. Para orang tua akan berdiri di belakang melihat proses belajar anak-anak selama dua jam pelajaran, berhubung anak saya dua orang yang bersekolah di ditu, maka saya harus bolak-balik antara dua kelas tersebut.

Di Sankambi pertama, kami melihat anak-anak belajar “Sansu” atau matematika, waktu itu topiknya tentang nilai mata uang. Di setiap meja anak-anak ada pecahan-pecahan  mata uang yen dalam versi plastik, lalu sensei akan bertanya, misalnya “Jika sensei mau membeli sesuatu dengan harga 120 yen, coba kumpulkan uang sebanyak 120 Yen”, lalu anak-anak akan mengelompokkan pecahan-pecahan yen itu sehingga mencapai 120 Yen. Setelah itu beberapa anak diminta naik ke papan tulis dan menggunakan alat peraga berupa gambar pecahan uang Yen untuk di tempel di papan tulis. Menarik…sambil saya berusaha mengingat-ingat, kira-kira di Indonesia dulu, pada kelas berapa saya belajar tentang nilai mata uang ya?? Walhasil saya tidak bisa mengingatnya, sepertinya di Indonesia, anak-anak belajar tentang nilai mata uang ketika sedang jajan di sekolah. Berbeda dengan di Jepang, anak-anak tidak terbiasa untuk jajan, sebab sehari-hari di sekolah mereka makan bersama, atau bagi kami yang muslim, jika ada makanan yang tidak boleh dimakan, maka harus membawa “bento” atau bekal.

Setelah itu anak-anak belajar tentang “ofuro” atau mandi ala Jepang, dilanjutkan dengan pelajaran tentang menghadapi situasi  jika terjadi Gempa. Pelajaran tentang gempa di Jepang, bahkan di mulai sejak anak-anak di yoicien (Taman kanak-kanak), sehingga anak-anak sudah tahu apa yang harus mereka lakukan saat terjadi gempa.

Di sankambi kedua ini, temanya adalah “bermain”. Senang mengetahui bahwa “bermain” juga bagian dari pelajaran yang diterima anak-anak disini, pantas saja setiap hari anak-anak saya selalu riang dan semangat pergi ke sekolah, bahkan di saat awal-awal  sekolah dan tak mengerti bagaimana berkomunikasi dengan teman-temannya, mereka tetap bersemangat.

Permainannya kali itu adalah permainan tradisional Jepang, yah..beberapa ada yang mirip dengan permainan tradisional di Negara kita sih…

1364962037831862098

seperti bermain badminton, tapi raket dan bolanya terbuat dari kayu

Dan masih banyak permainan lain yang sedikit mirip dengan permainan tradisional Indonesia, seperti yoyo, gasing dan lainnya.

Saya masih mengingat banyak permainan tradisonal yang sering saya mainkan saat masih kecil, yang mungkin tidak lagi dikenali olah anak-anak saya sekarang. Yah, gempuran teknologi dan keterbatasan lahan yang tak lagi membuat anak-anak bebas bermain dengan permainan yang bisa melibatkan seluruh aspek motorik mereka.

Meskipun Jepang adalah Negara yang memproduksi Playstation namun mereka tetap concern untuk tetap mengenalkan anak-anak sejak dini kepada permainan-permainan tradisional mereka, saat ini betapa kecanggihan teknologi telah membuat anak-anak kita hanya bermain melalui gerakan jari-jari mereka di tombol stick game, atau yang sedang ngetren saat ini adalah main game di layar tablet. Pemerintah Jepang pun sangat memfasilitasi lahan bermain bagi anak-anak di taman, tempat bermain yang sangat menyenangkan bagi anak-anak saya sekarang. Ingatan saya melayang ke kota saya, sangat sulit menemukan taman yang memadai untuk bermain, kalau ada lahan kosong sedikit saja, tak lama lagi akan berubah menjadi Mall atau pertokoan.

Betapa menyenangkan, bisa menjadi bagian dari proses anak-anak belajar di sekolah.  Saya yakin belajar “bermain” ini pun mengajarkan banyak hal buat mereka, bahwa dunia mereka adalah dunia bermain, dan dengan bermain mereka pun belajar, sehingga mereka bisa menikmati setiap langkah dan proses dalam jenjang pendidikannya. Semoga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 9 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 10 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 16 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 12 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 12 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 12 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 12 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: