Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Irfan Teguh Prima

Pembelajar sepanjang hayat

Kurikulum 2013, Pandangan Seorang “Mantan” Siswa

OPINI | 03 April 2013 | 04:10 Dibaca: 363   Komentar: 4   1

Tidak beberapa lama yang lalu, saya melihat sebuah update berita mengenai kurikulum 2013. Isi dari berita itu adalah perintah presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono, kepada jajaran kementerian pendidikan dan kebudayaan agar segera menerapkan kurikulum baru, yang dipersiapkan layaknya sebuah sulap, dimulai dari tahun ajaran baru 2013/2014. http://setkab.go.id/berita-8082-presiden-minta-kurikulum-baru-diterapkan-mulai-tahun-ajaran-baru-20132014.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Sekitar 5 bulan lagi, seluruh stakeholder pendidikan Indonesia, terutama siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah lanjutan baik umum dan kejuruan harus kembali “merevolusikan” dirinya dengan perubahan yang terjadi ini. Penulis sendiri selama bersekolah 12 tahun lamanya sudah berjuang dengan 3 macam kurikulum, yakni kurikulum 1994, kurikulum berbasis kompetensi (KBK 2004), serta kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP 2006). Sebagai seorang murid sewaktu itu saya tidak mengerti, atau bahkan tidak merasakan perbedaan mencolok dari ketiganya, yang saya sempat rasakan adalah bergonta-gantinya buku acuan dikelas bagi tiap-tiap kurikulumnya. Dan kurikulum baru juga berarti membeli buku baru bagi para orang tua, materi pembelajaran baru yang harus disesuaikan, kemampuan tenaga pendidik yang berbeda, dan lainnya. Apakah pendidikan di negeri ini menuju kepada pembentukan “murid super” yang siap menerima berbagai perubahan?

Sungguh menarik di negara yang menjadikan edukasi sebagai amanat pendirian negaranya, pendidikan kini justru menjadi ajang bisnis. Ketika elite politik kementerian pendidikan Indonesia terus-menerus sibuk dengan berbagai proyek baru yang banyak ditentang, minim akuntabilitas, dan terkesan dipaksakan atau bahkan menjadi proyek mercusuar. Seakan-akan kurikulum harus berganti setiap menteri pendidikan juga turut berganti. Arah pembangunan pendidikan Indonesia menjadi semakin tidak jelas, padahal kita tidak mengalami pergantian presiden 2 periode ini, seharusnya jika presiden memang sudah memiliki konsep yang jelas dalam pengembangan pendidikan di negeri ini maka tidak perlulah mengadakan pergantian yang belum terasa penting ini. Apalagi ketika kita membandingkan dengan negara-negara lain yang sudah memiliki sistem pendidikan yang mumpuni, rata-rata dari negara tersebut berganti kurikulum 15 tahun sekali, dan itu hanya dikarenakan perkembangan informasi dan pendekatan pengajaran yang memang dibutuhkan untuk berubah.

Sangat disayangkan jika M.Nuh, menteri pendidikan dan kebudayaan, terus-menerus memaksakan “proyek” ini berlanjut dengan berbagai kekurangannya. Penulis sendiri merasa bahwa penerapan KTSP harusnya dipertahankan dengan selalu mengadakan monitoring dan evaluasi setiap tahun berjalan. KTSP sendiri tidak memiliki banyak permasalahan selama ini, dan memiliki inovasi berupa kurikulum yang bersifat desentralistik. Masih banyak konsep pendidikan lain yang harusnya bisa disempurnakan oleh jajaran kementerian, seperti dualisme pendidikan pasca putusan sidang MK mengenai RSBI, carut-marutnya pelaksanaan UN yang selalu menghasilkan ratusan ribu lulusan pencontek, fasilitas dan keamanan pendidikan yang tidak berpihak kepada peserta didik, sampai pada proses sertifikasi guru yang tidak jelas tujuannya. Alih-alih mencuci baju dengan sabun cuci, beliau justru mencuci dengan *maaf* air seninya sendiri.

Terakhir saya ingin mengutipkan sebuah frasa yang selalu digumamkan oleh dosen saya, tentang penggambaran betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan, bahwasanya belajar bukan hanya menjadi kewajiban bagi manusia, namun juga menjadi hak manusia untuk mengenyam pendidikan yang berkualitas, setara, dan berorientasi kepada peserta didik “Kita semua yang ada di sini mempunyai status yang sama, baik itu anda maupun saya tidak ada yang lebih tinggi, kita sama-sama Pembelajar Sepanjang Hayat”

Salam hangat dari mantan siswa yang selalu akan menjadi siswa dari kehidupan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keluarga Pejabat dan Visa Haji Non Kuota …

Rumahkayu | | 30 September 2014 | 19:11

Me-“Judicial Review” Buku Kurikulum …

Khoeri Abdul Muid | | 29 September 2014 | 22:27

Spongebob dalam Benak Saya …

Ire Rosana Ullail | | 30 September 2014 | 16:48

Sepak Bola Indonesia Kini Jadi Lumbung Gol …

Arief Firhanusa | | 30 September 2014 | 15:58

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 9 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 11 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 14 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Smartphone dan Pribadi Boros Energi …

Dian Savitri | 8 jam lalu

Gerakan Indonesia Menulis; Mencari Nilai …

Rendra Manaba | 8 jam lalu

Pegawai BRI Beraksi Bak Debt Collector …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Tradisi dan Teknologi …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Pisah Sambut Kejari Singaparna …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: