Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bosid Rodif

Sedang menempuh pendidikan tinggi di salah satu PTN Tanah Air. Ingin mencintai Tanah Air ini selengkapnya

Diskusi Online tentang Pendidikan

OPINI | 04 April 2013 | 07:19 Dibaca: 286   Komentar: 0   0

Sudah sewajarnya sebagai orang yang terdidik kita berbicara tentang masa depan negeri ini. Apalagi jika melihat kenyataan yang terjadi sekarang ini. Negara kita yang katanya besar kini sedang mengalami krisis yang sangat akut. Khususnya krisis moral. Maka dari itu saya pikir menjadi hal yang penting terutama bagi kaum pergerakan untuk mengintensifkan ruang-ruang pendiskusian sebagai pemupukan nalar kritis kaum muda khususnya.

Teringat sebuah perkataan dari salah satu rekan HMI yang dalam sebuah diskusi menyebutkan bahwa sebenarnya sudah menjadi sebuah keharusan bagi kita sebagai mahasiswa untuk berdiskusi dalam setiap ruang dan waktu. “Diskusi itu alamiah, kalau bisa jangan direncanakan atau dijadwalkan, karena efeknya akan beda,” ujarnya.

Tentu ini sebuah hal yang tidak asing lagi bagi warga pergerakan yang hampir setiap waktunya ketika berkumpul di manapun tempatnya selalu berbicara tentang banyak hal mulai dari kuliah hingga ngomong negara. Benar apa yang disampaikan oleh rekan saya itu, sebagai mahasiswa harusnya kita jangan skeptis jika mendengar kata diskusi. Mau jadi apa bangsa ini jika kaum mudanya saja sudah tidak mau lagi memikirkan nasib bangsanya di masa mendatang.

Status Kritis

Siang ini ketika sedang berselancar di dunia maya, sembari kepo orang-orang yang menarik untuk dikepo lewat Facebook tiba-tiba muncul sebuah status dari seorang senior di PMII yang agaknya melawan arus kebanyakan orang yang aktif update status di Facebook. Di tengah status-status yang cenderung alay seniorku tersebut malah menulis sebuah status yang kritis. Dia bicara tentang permasalahan bangsa ini yang begitu komplek. Begini pernyataannya:

Indonesia ini luas, begitu juga dengan permasalahan yang dihadapinya. Bolehlah berimpian untuk memajukan bangsa ini sebagaimana banyak diceritakan dalam buku-buku pelajaran sekolah dulu. Tetapi minimal ada satu permasalahan yang fokus untuk digarap. Misalnya di bidang pendidikan kah, kesehatan, ekonomi, politik, agama, budaya, atau lainnya. Monggo dipilih…

Berawal dari status tersebut kemudian saya pun langsung mencoba untuk menanggapi. Dan kemudian disusul tanggapan oleh para senior yang lain. Pendiskusian menjadi semakin menarik ketika saya mengerucutkan garapan permasalahan ke salah satu bidang, yakni pendidikan.

Menanggapi apa yang dibahas di ruang maya tersebut pendapat saya pribadi adalah seperti ini.

Bagi saya dari berbagai masalah yang ada yang paling tepat untuk dijadikan sebuah awalan adalah masalah pendidikan. Karena dari pendidikanlah karakter dari manusia akan terbangun. Yang tadinya tidak tahu menjadi tahu.

13650095091848458815

Pendidikan berkarakter yang kini sedang digembar-gemborkan oleh berbagai pihak merupakan sebuah solusi yang harus segera dijalankan. Namun pada kenyataannya penerapan dari pendidikan berbasis karakter tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang lama. Dibutuhkan para pendidik yang memang tahu betul apa itu pendidikan karakter dan bagaimana cara mengideologisasikannya.

Saya ambil contoh di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS. Jargon yang mereka gunakan sungguh sangat gagah, “Berkarakter, Kuat, dan Cerdas.” Sebenarnya dari jargon yang mereka gunakan jika mampu mengimplementasikannya akan sangat cespleng dan tentu akan mengubah pola pikir masyarakat Indonesia secara umum. Tapi apa kenyataannya? Lagi lagi jargon hanya sebatas jargon. Jargon adalah simbol pemanis untuk sebuah institusi di negeri ini.

Move On

Memang benar, pendidikan dan juga bidang-bidang yang lain di negeri ini masih terkena imbas dari rezim orde baru (orba). Berbagai sistem terkait pendidikan masih sangat kentara aroma-aroma orbanya. Kalau boleh meminjam bahasa anak muda sekarang, agaknya pemerintah belum bisa move ondari sistem orba sejak bergulirnya reformasi.

Kita bisa melihat bahwa praktik-praktik KKN masih saja ditemui di mana saja. Di bidang pendidikan praktik kotor tersebut kini sudah tidak lagi dilakukan di bawah meja namun di atas meja. Sungguh ironis. Milyaran dana digelontorkan untuk pendidikan di Tanah Air namun sampai sekarang hasilnya masih diragukan. Malah gelontoran dana yang begitu banyaknya dijadikan sebagai objek untuk berebutan oleh para pemimpin negeri ini.

Dampaknya pendidikan tidak lagi murni untuk mencerdaskan seperti yang tertuang dalam naskah pembukaan UUD 1945. Ki Jliteng, dalang Wayang Kampung Sebelah pernah berujar dalam pentasnya bahwa di negeri ini serbanya dibisniskan, sampai pendidikan pun sekarang juga dibisniskan. Sekali lagi, ini sangat ironis. Kita belum bisa move on.

Peran Pemuda

Kemudian dari permasalahan-permasalahan yang komplek tersebut sudah menjadi keharusan bagi kita sebagai kaum muda yang nantinya akan memegang panji-panji perjuangan di masa mendatang untuk turut memikirkan nasib bangsa ini. Mencurahkan apapun yang barangkali bisa menjadi solusi untuk perbaikan bangsa.

Sejauh ini yang saya lihat mahasiswa pada umumnya masih berkutat pada kesibukan pribadi mereka. Sangat jarang yang mau ikut berpikir secara kritis untuk kemajuan bangsanya. Terlebih lagi bagi mahasiswa calon pendidik, sebenarnya sejak sekarang mereka harus mulai berpikir tentang solusi konkrit terkait pendidikan. Karena pendidikan adalah hal yang paling mendasar yang harus ditanamkan kepada seluruh masyarakat.

Dan sebagai warga pergerakan ini juga menjadi sebuah kritikan keras jika tidak mau ikut andil dalam penyelesaian terkait masalah ini. Ini juga menjadi kritik bagi saya karena saya juga terlibat di dalamnya. Sejauh ini saya pribadi masih heran kenapa seakan-akan para aktivis lebih memilih isu-isu populer serta wacana internasional untuk dijadikan sebagai bahan pendiskusian bagi mereka. Bukankah ada hal yang lebih penting yang sejatinya perlu untuk digarap bersama?

Berbicara tentang kapitalisme, globalisasi, dan terorisme seakan-akan menjadi sebuah kebanggaan bagi warga pergerakan. Tidak salah memang karena itu juga penting akan tetapi terkait penanaman nalar kritis kepada sebagian besar pemuda di negeri ini untuk sadar akan pentingnya pendidikan berkarakter saya pikir jauh lebih tepat dan bermanfaat.

Sebagai warga pergerakan hendaknya kita bisa merefleksikan diri bahwa terkadang dalam berpikir dan bertindak kita sudah terlalu jauh tanpa melihat kebutuhan yang ada.

Dewasa ini mahasiswa semakin kering akan nilai-nilai. Ini merupakan satu hal yang mau tidak mau harus digarap. Penanaman nilai-nilai kepada mahasiswa secara umum harus diintensifkan. Ideologisasi terkait nasionalisme harus terus dilakukan. Dan jangan sampai sebagai mahasiswa hanya berkutat pada terori-teori di dalam kelas, sebuah tindakan nyata ke lapangan juga harus mereka ketahui.

Pendiskusian

Tugas yang bisa dilakukan oleh kaum pergerakan adalah menebar virus berpikir secara kritis. Ini mungkin bisa dibilang sebagai langkah paling sederhana. Dijalankan lewat diskusi-diskusi dengan mengundang semua pihak yang terkait untuk berpikir bersama tentang kondisi bangsa yang sudah semakin mengkhawatirkan ini. Dari situlah kita bisa mengharapkan munculnya kesadaran-kesadaran untuk bergerak. Untuk urusan efek nantinya mereka tersadarkan atau tidak, saya pikir setidaknya langkah nyata ini sudah kita lakukan.

Dan semoga beberapa langkah solutif yang sudah saya upayakan untuk dilaksanakan ini  bisa segera terlaksana. Karena dirasa penting untuk semakin mengintensifkan ruang-ruang diskusi di dalam kampus bersama semua kalangan.

Epilog

Panjang lebar penjabaran pernyataan tentang pendidikan di atas berawal dari sebuah pendiskusian kecil di dunia maya. Diskusi online yang mungkin terjadi secara alamiah. Inilah yang seharusnya harus kita biasakan terlebih bagi kaum pergerakan yang memang sudah menjadi tanggung jawab untuk kita memikirkannya dan bertindak secara nyata.

Saya jadi teringat sebuah pernyataan dari Tan Malaka. “Kalau ditinjau secara teliti, kemerdekaan Indonesia ini lebih didominasi oleh pemikiran yakni 60 persen. Dan 40 persen yang lain oleh peperangan.”

Dari pernyataan tersebut sudah jelas bahwa bagaimanapun kondisinya kaum muda bangsa ini jangan sampai mati nalar kritisnya jika ingin bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Karena jika itu sudah mati, maka tamatlah sudah riwayat bangsa ini. Dengan pendidikan yang murni atas dasar untuk mencerdaskan Indonesia akan menjadi besar.

Tulisan ini juga diterbitkan di rodivbosid.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Reportase Festival Reyog Nasional XXI Hari …

Nanang Diyanto | | 21 October 2014 | 17:45

Rodhi, Pelukis Tunadaksa Ibu Negara, Titisan …

Maulana Ahmad Nuren... | | 21 October 2014 | 17:36

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Kok, Jokowi Lari di Panggung? …

Gatot Swandito | | 21 October 2014 | 10:26

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 9 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 9 jam lalu

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengenal Festival Ancak dari Desa Jeladri, …

Cak Uloemz | 7 jam lalu

Liga Tarkam, Rusuh Kok Budaya? …

Aprillia Lita | 7 jam lalu

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Sri Mulyani Jadi Mentri Jokowi dapat …

Alfons Meliala | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: