Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Adi Sumanto

Saya adalah pensiunan dan saat ini masih aktip sebgai konsultan dibidang design dan engineering untuk selengkapnya

Waktu Kerja yang Seimbang

REP | 04 April 2013 | 16:16 Dibaca: 158   Komentar: 0   1

Pertama kali saya bekerja sebagai engineer di sebuah perusahaan asing dibidang project management consultant , sering menjumpai rekan-2 yang bekerja nyaris 14 jam sehari, 6 hari dalam seminggu.Mereka melakukan hal tersebut karena harus menyelesaikan design engineering dan dikejar oleh schedule.

Sebagian dari mereka melaksanakan itu hanyalah bersifat sewaktu-waktu saja,namun ada yang menjalani jam-jam panjang dalam hari-hari mereka dan selama bertahun-tahun.
Entah karena orang-orang ini merasa telah mengabdikan diri sepenuhnya kepada pekerjaan, atau bisa juga disebut workaholic.

Bekerja melebihi dari jam kerja yang sebenarnya dalam rentang waktu yang lama, bisa menimbulkan potensi yang cukup besar bagi yang menjalaninya dan tidak jarang membuat kesalahan.

Setelah saya amati cukup lama,akhirnya saya membuat sebuah kesimpulan bahwa rekan-rekan yang saya kenal sering bekerja lembur, ternyata sering membuat kesalahan kecil namun berakibat fatal.

Itu terjadi karena faktor kelelahan dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu tentu saja membutuhkan dana,waktu dan tenaga yang tidak sedikit, disamping adanya claim backcharge dari pihak pemilik project.


Masalah lain adalah rekan-2 yang bekerja melebihi jam kerja itu ternyata sangat sensitip sekali,mereka menjadi mudah tersinggung serta mudah marah. Sehingga kadang menimbulkan friksi yang tidak sehat.

Perilaku karyawan semacam itu tentunya merupakan masalah untuk perusahaan.

Hasil positip akan dicapai oleh sebuah perusahaan apabila ada jalinan harmonis dan kerja sama yang baik antara karyawan, bukannya bekerja sendiri-sendiri atau individu.

Saat saya mendapatkan promosi sebagai manajer di tahun 1981,langkah pertama dan terpenting saya adalah memberi contoh datang kekantor lebih pagi dan pulang ke rumah tepat waktu.

Sebelum memulai aktivitas,seluruh staff saya kumpulkan sekitar 10 menit,breifing kecil dan membuat summary tugas masing-2 dan setelah itu berdoa bersama,breifing saya usahakan dipimpin bergiliran,sambil menjajagi potensi dari masing-2 individu di team saya,tidak ada senioritas.

Saya sering disindir oleh manajer lain yang kadang pulang jam 11 malam,sindirannya menjadi kehilangan makna ketika saya buktikan,bahwa team work saya ternyata mampu menyelesaikan project enam bulan lebih cepat dari overall project schedule.

Banyak hal yang saya lakukan,mengoptimalkan waktu dan job description yang jelas kepada setiap pengawas,dan langkah terpenting adalah memberi contoh dengan saya melakukannya sendiri,saya tidak menganggap para staff itu bawahan,namun saya rangkul sebagai teman sekerja.

Langkah kedua adalah mengajak teman-2 tadi untuk menjalani hidup yang seimbang. Sebagai contoh, ini adalah langkah-langkah yang menurut saya cukup membantu:

Bekerja dengan penuh tanggung jawab selama 8 atau 9 jam sehari,dan jangan menunda pekerjaan.

Langkah saya yang lain adalah selalu membuat milestone atau acuan target untuk team work,semisal mengerjakan langkah 1,2, 3, 4, dan 5 akan memungkinkan langkah 2 dilakukan secara efektif dan seimbang. Dengan membuat milestone saya mampu mengantipasi adanya constraint  dan backlog.

Bekerja secara normal dan menjalankan ibadah serta mempertahankan hidup yang seimbang adalah konsep yang sederhana.

Sebenarnya langkah-langkah ini memungkinkan untuk dilakukan oleh setiap orang, karena kita memiliki kekuatan untuk memilih apa yang akan kita lakukan.

Dengan menjaga keseimbangan emosi,kita akan mendapatkan:
kesegaran jiwa dan rohani,lebih produktif.


Dan yang terpeting adalah tidak akan kehilangan momen berharga dalam kehidupan bersama keluarga,waktu kita tidak tersita oleh tugas dan pekerjaan saja.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 17 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 18 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 8 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Mauliah Mulkin | 8 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: