Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Indria

Pekerja lepas yang suka membaca, menulis, dan menikmati secangkir kopi

Cerita (Misteri) yang Sesuai untuk Anak

OPINI | 05 April 2013 | 22:40 Dibaca: 1309   Komentar: 5   2

Belakangan ini, anak-anak di rumah – Selda (10) dan Sellyn (9) sering ketakutan sendiri dengan bayangan-bayangan buruk di benak mereka. Mereka tidak berani ke kamar mandi sendiri, tidak berani pergi ke dapur tanpa ditemani atau pada suatu kesempatan mereka ada di kamar sendiri, tiba-tiba menjerit sambil lari terbirit-birit mencari teman. Usut punya usut, mereka bilang takut karena ada hantu seperti diceritakan di sebuah cerpen misteri di sebuah edisi terbaru majalah anak ternama di tanah air.

Setelah saya baca kisah seperti yang mereka tunjukkan, saya jelaskan bahwa “itu hanya cerita rekaan atau fantasi pengarangnya. Maka semua yang ditulis itu tidak terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya.

Anak-anak serempak bilang, “Memang, ternyata yang selama ini mengetuk villa di tempat keluarga yang sedang berlibur itu bukan hantu, tapi tetangga villa yang tidak mau ada villa baru di bangun di dekat lahannya. Tapi kenapa kalimat terakhir di tulisan itu dikatakan kalau Tukang Kebon hanya mengetuk pintu. Nah, yang bersuara ‘Jangan ganggu kami’ itu siapa?  Berarti memang hantunya ada beneran, khan?”

Saya berusaha menjelaskan bahwa semuanya rekaan. Mereka terus protes, “Tapi kalimat terakhirnya bilang, yang “bohongan” itu kisah gangguan Tukang kebon. Sedangkan hantunya ada beneran, ya yang bilang ‘Jangan ganggu aku’ itu.”

Itulah sekilas contoh kasus tentang perlunya bimbingan terhadap materi bacaan anak yang tidak merugikan proses pemikiran dan perkembangan anak. Anak-anak yang sama tadi sebelumnya sudah membaca buku “Midnight Stories”, yang diklaim sebagai kumpulan kisah nyata pengalaman horor.

Mereka anak-anak kutu buku. Mereka sudah beberapa kali membaca buku-buku petualangan remaja, meskipun umur mereka masih dalam kategori anak-anak. Mereka sendiri suka menulis, sebagai kegiatan favorit di waktu santai. Maka saat saya tunjukkan buku kumpulan kisah misteri “Midnight Sories”, mereka mencoba membaca sedikit, tapi kemudian tidak bisa berhenti membaca. Meskipun menjadi takut, mereka terus ingin menyelesaikan buku itu. Mereka berkomentar, ada cerita yang sangat bikin takut dan “menjijikkan”, ada yang sedang-sedang saja tingkat kengeriannya, dan ada satu cerita yang sebenarnya menakutkan, tapi akhirnya bikin “adem”.

“Jadi hantu-hantu itu memang sungguh mengerikan, ya? Itu benar ada khan? Sergah anak-anak.

Agar menghindari efek paranoid ataupun fobia, saya katakan bahwa semua kisah dalam buku itu hanya karangan. Mereka saya yakinkan bahwa ceritanya tidak benar-benar terjadi dalam hidup sehari-hari.

“Nah, tapi di judulnya kan dicantumkan keterangan Based on True Stories,” bantah mereka.

“Itu agar bukunya terasa lebih seru dan membuat orang penasaran dan ingin membacanya,” jawab saya mencoba diplomatis.

Kebetulan salah satu tulisan  yang mereka maksudkan itu saya baca juga. Anak-anak tidak takut membacanya karena, khususnya untuk tulisan yang “seru tapi akhirnya menenteramkan” itu. Anak-anak menunjukkan bagian penutupan kisahnya, yang menurut mereka jadi tidak takut lagi membaca buku misteri tersebut, bunyinya: “Namun percayalah, Tuhan Maha Melindungi bagi siapa yang mengandalkan kehidupan ini hanya kepada KuasaNya.”

Anak-anak tetaplah anak-anak. Otak mereka mempunyai cara khusus dalam menganalisis sesuatu yang mereka jumpai, yang mungkin tidak pernah terlintas di pikiran orang tua. Mereka sering mengejutkan kita dengan pertanyaan tentang sesuatu hal khusus yang bahkan lepas dari perhatian kita, sebagai orang tua maupun orang dewasa.

Kesimpulan saya, agar anak-anak yang suka membaca diberikan bahan bacaan yang beragam, memberi wawasan luas, pengalaman baru, asalkan semua ada penjelasan yang jujur dan proporsional.

Khusus untuk cerita yang dimuat di majalah atau buku dengan target audience anak-anak, seyogyanya tidak membuat anak menjadi bingung hanya karena mengejar daya tarik tulisan semata. Lebih baik “penafian” dicantumkan secara bijaksana, agar anak bisa berlatih dan belajar membedakan cerita mana yang benar, kisah mana yang rekaan atau fantasi.

Selain itu, ada bagian cerita yang perlu memasukkan saran yang membuat mereka mendapatkan penjelasan yang masuk akal sesuai perkembangan usia kejiwaan dan daya pikir mereka. Tentu, hal seperti itu tidak harus selalu disajikan secara “kaku”, seperti halnya buku yang “menggurui”.

Last but not least, saya ingin menyampaikan apresiasi saya kepada para penulis yang mendedikasikan karya-karya mereka buat memperkaya cakrawala pemikiran dan peningkatan daya kreatif anak-anak, khususnya anak-anak Indonesia.

Saya juga berharap agar ada lebih banyak lagi penerbit yang memberi perhatian besar kepada ketersedian buku atau majalah bacaan anak yang beragam, menarik, mencerdaskan dan bermutu.

Buku remaja yang menarik minat anak kelas 4 SD. Bimbingan orang  tua itu perlu!

Buku remaja yang sempat menarik minat anak kelas 4 SD. Bimbingan orang tua itu perlu, agar anak tetap suka membaca beragam jenis bahan bacaan, sekaligus terhidar dari efek ketakutan berlebihan, dan pemikiran mistis.

1365155178709066354

Alinea terkahir sebuah cerita misteri di majalah anak-anak. Idealnya memuat bagian yang menegaskan bahwa misteri dalam kisah tersebut tidak terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Salam Kompasiana!

@indria_tweet

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | | 23 October 2014 | 20:42


TRENDING ARTICLES

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 7 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 9 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 9 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Wih, Sekarang Abdi Rakyat Bakalan Keteteran …

Ridha Harwan | 9 jam lalu

Antara Aku, Kompasiana dan Keindahan …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu

Sejarah Qatar, Juara Piala Asia U-19! …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Makna Kegagalan …

Hanif Amin | 10 jam lalu

Ketika Islam Dianaktirikan Penganutnya …

Anni Muhammad | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: