Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

M. Syukur Salman

Seorang Guru Sekolah Dasar di Parepare, Sul-Sel. Telah menerbitkan 6 buah buku dengan genre berbeda.

Kurikulum 2013, Guru Siap

OPINI | 06 April 2013 | 03:24 Dibaca: 676   Komentar: 0   0

Pro dan kontra terhadap kurikulum 2013 terus berlanjut. Keseriusan pemerintah untuk tetap mengimplementasikan kurikulum tersebut pada bulan Juli ini semakin intens. Hal tersebut ternyata diikuti oleh penolakan yang semakin masif dari beberapa pihak. Kondisi ini sangat memengaruhi secara psikis para guru yang menjadi ujung tombak penerapan kurikulum ini nantinya.

A. Pihak Kontra Kurikulum 2013

Beberapa alasan dikemukakan pihak-pihak yang kontra terhadap implementasi kurikulum 2013 saat ini. Kekhawatiran akan nasib kurikulum ini sama dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sampai sekarang belum terlaksana secara keseluruhan sejak diluncurkan pada 2006 yang lalu, sempat terlontar. Banyaknya kekhawatiran terhadap kompetensi guru yang masih kurang untuk melaksanakan kurikulum 2013 ini yang diyakini membutuhkan tenaga-tenaga pendidikan yang kreatif dan inovatif. Ada pula yang menyasar pada konten kurikulum 2013 yang belum jelas sampai saat ini. Begitu pula, ketidakpercayaan pada pemerintah dalam berbagai hal terutama rencana pelatihan guru secara besar-besaran. Bahkan, ada yang melirik kejanggalan program ini hanya sebatas program proyek yang ujungnya adalah anggaran negara yang sangat besar, dan kemungkinan dikorup juga besar.

Semua hal tersebut lebih banyak diutarakan dengan panjang lebar oleh ahli, pengamat, dan politisi. Tentu hal tersebut baik untuk menjadi bahan pertimbangan oleh pemerintah. Dan, pemerintah terlihat serius terhadap kritikan dan penolakan dengan berbagai alasannya tersebut. Uji publik terhadap kurikulum 2013 telah dilaksanakan secara formal oleh pemerintah secara terbuka dengan berbagai cara dan masih berlanjut sampai sekarang meski tidak formal. Bahkan, menyentuh sampai level masyarakat bawah dengan sarana yang mampu diakses dengan mudah. Usaha yang semakin giat dilakukan oleh pemerintah sudah semestinya mendapat respon positif pula dari mereka yang kontra kurikulum ini.

Jika kita mau jujur, beberapa hal yang menjadi sorotan terhadap kurikulum 2013 ini memang benar adanya, namun tidak berarti kurikulum ini harus ditolak. Unsur-unsur yang masih kurang itulah yang semestinya dicarikan solusi. Dan, hal itu telah diusahakan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengatasinya. Banyaknya kekhawatiran terhadap penerapan kurikulum ini dari pihak-pihak yang bukan guru, semestinya disikapi dengan tidak terlalu mengiyakan kebenaran kekhawatiran tersebut. Mengapa? Guru adalah manusia yang akan mengimplementasikan kurikulum tersebut secara langsung kepada peserta didik sebagai objek dari kurikulum tersebut.

B. Pendapat Guru terhadap Kurikulum 2013

KTSP sampai saat ini belum terlaksana dengan baik karena lebih banyak yang diutamakan adalah administrasi guru. Bayangkan jika guru harus membuat perangkat pembelajaran yang sangat banyak dengan detail yang rumit. Ironisnya lagi, pelatihan guru lebih mengacu kepada bagaimana membuat perangkat pembelajaran tersebut dan selalu terjadi perubahan. Tidak mengherankan, jika sampai sekarang masih banyak guru yang belum memahami pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ala KTSP dengan di dalamnya mencakup elaborasi, eksplorasi, dan konfirmasi. Itu, salah satu bagian kecil dari kerumitan KTSP. Kerumitan itu akan dipermudah pada kurikulum 2013 ini dengan meminimalkan pekerjaan guru pada bagian administrasi (perangkat pembelajaran).

Kurangnya kompetensi guru saat ini tentu bukanlah disebabkan oleh guru itu sendiri. Suntuknya guru dalam persiapan pembelajaran membuatnya kurang waktu untuk belajar. Penilaian terhadap guru juga banyak dinilai dari hal-hal administratif belaka. Apalagi, hal ini menjadi suatu sistem pemantapan kurikulum yang lalu. Guru sangat jarang, bahkan banyak di antara mereka yang tidak pernah mendapat pelatihan teknik pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Hal inilah yang menjadikan guru terindikasi banyak yang memunyai kompetensi yang minim. Hal ini akan diatasi oleh pemerintah dengan rencana pelatihan guru secara berjenjang dan terus menerus bahkan adanya istilah pendampingan. Terutama sekali pada pelatihan tersebut akan fokus kepada menjadikan guru kreatif dan inovatif tadi. Lebih meyakinkan lagi, karena yang dilatih adalah guru. Bukan orang yang akan menjadi guru. Hal ini tentu akan sangat mudah merealisasikan tujuan tadi. Bahkan, dapat dikatakan bahwa sebenarnya guru telah memunyai kompetensi didaktik metodik yang meyakinkan, tinggal motivasi dan sedikit arahan untuk mengaplikasikan potensi tersebut. Pada bagian lain, penerapan Penilaian Kinerja Guru (PKG) dalam proses kenaikan pangkat guru akan semakin memuluskan implementasi kurikulum 2013 ini.

Permasalahan konten kurikulum 2013 yang sampai saat ini belum ada yang utuh, tentu menjadi permasalahan tersendiri. Namun, adanya usaha pemerintah menyinkronkan antara kurikulum dengan isi buku yang akan diterbitkan justru mempermudah bagi implementasi kurikulum tersebut bagi guru. Materi yang ada pada buku merupakan penjabaran yang pas terhadap kurikulum tersebut. Pada bagian inilah guru harus kreatif dan inovatif, baik dalam mengikuti alur buku yang telah sesuai dengan kurikulum tersebut, maupun memberikan nuansa-nuansa lebih dan mendalam terhadap materi tersebut. Kekhawatiran tematik integratif pada kurikulum 2013 juga akan teratasi dengan adanya buku paket dengan materi per tema, bukan per mata pelajaran.

Kesiapan guru untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 haruslah mendapat dukungan dari semua pihak. Kekhawatiran-kekhawatiran yang kurang mendasar terhadap keraguan akan unsur guru dalam pengimplementasian tersebut haruslah disingkirkan. Apalagi, yang khawatir adalah orang-orang yang mayoritas bukan guru. Keberadaan guru sebagai profesi yang dilandasi dengan kemampuan atau kompetensi terhadap didaktik dan metodik dalam mengajar dan mendidik serta melatih, sejatinya tidak akan kesulitan mengimplementasi kurikulum 2013, apalagi ditambah dengan pelatihan-pelatihan yang massif dilakukan oleh pemerintah. SEKIAN.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kejanggalan Hasil Laboratorium Klinik …

Wahyu Triasmara | | 19 September 2014 | 12:58

“Kita Nikah Yuk” Ternyata …

Samandayu | | 19 September 2014 | 08:02

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Seram tapi Keren, Makam Belanda di Kebun …

Mawan Sidarta | | 19 September 2014 | 11:04

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 5 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 6 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 13 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 7 jam lalu

“Apartemen” untuk Penyandang …

Arman Fauzi | 8 jam lalu

Janji Demokrasi Kita …

Ahmad Fauzi | 8 jam lalu

Kacau Sistem, Warga Ilegal …

Imas Siti Liawati | 8 jam lalu

Perekayasaan Sosial: Bensin Premium Perlu …

Destin Dhito | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: