Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aryni Ayu

Hanya membawa segudang mimpi.. sejengkal harapan.. dan segenggam ideologi kebebasan..

Skripsi, Penulisan Ilmiah atau Simbolisme Gelar?

REP | 06 April 2013 | 15:41 Dibaca: 229   Komentar: 0   0

Sebuah skripsi memang tidak akan mengguncang dunia. Tapi paling tidak, selesaikanlah dengan hati..

Serius, bisakah Anda membayangkan berapa banyak pengorbanan yang kita lakukan untuk sebuah gelar? Jika dulu orang – orang Indonesia Kuno menganugerahi orang – orang ‘pintar’ dengan gelar kyai, brahmana, dukun. Cina kuno dengan sebutan tabib, sinshei, kaisar. Barat kuno, dengan sebutan pastur, ilmuwan, atau dewa dewi kosmologi. Kini, dunia modern punya sebutannya sendiri. Tak lagi harus bercampur jadi satu seperti jaman kuno, dimana orang yang mampu berbuat dan berkemampuan lebih dari orang lain dianggap bisa segalanya. Seperti kata Yatimin Abdullah (dalam Pengantar Studi Etika), “dulu orang pintar agama, dikatakan juga pintar matematika, juga pintar dalam ilmu mengeluarkan bayi kandungan. Begitu seterusnya, selalu menjadi satu.”

Tentu hal ini membutuhkan spesifikasi. Hingga akhirnya gelar – gelar itu bertemu dengan jaman modern. Kepintaran seseorang tak lagi diukur oleh gelar – gelar adat istiadat, melainkan dengan gelar modern. Tak hanya butuh kecakapan tradisi, tapi juga kecakapan ilmiah. Seorang manusia yang ingin mendapatkannya, harus bersekolah dulu di sekolah – sekolah tinggi modern, paling tidak empat sampai enam tahun. Gelar yang hanya didapat dengan sebuah tugas akhir. Jika itu gelar pertama, maka akan akrab disapa ‘skripsi. Sebuah tulisan ilmiah, yang benar – benar harus ilmiah dan dibuat agar bermanfaat bagi orang lain. Hanya yang menjadi pertanyaan, sudahkah hal itu dilakukan?

Di sebuah kampus, atau paling tidak di kampus – kampus lain. Mahasiswa yang kini tengah duduk di semester akhir sangat sibuk berpikir dan bertindak agar skripsinya cepat selesai. Tidak sedikit pula diantara mereka yang terlihat santai, sangat santai, atau malah ‘menggeletakkan’ begitu saja al – kitab yang disebut skripsi itu. Ada juga yang masih tergopoh – gopoh menyelesaikan kuliahnya, atau baru mengajukan sebuah judul. Ya, sangat bermacam – macam keadaan mereka. Toh, itulah pengorbanan seorang mahasiswa yang tak lagi dididik dengan ‘perhatian lebih’, seperti dulu waktu masih remaja.

Skripsi memang penuh pengorbanan. Ada kalanya dilakukan tak semestinya. Pencarian judul yang semestinya benar – benar selektif, bagi sebagian mereka hanya mencarinya atau bahkan hampir sama dengan judul terdahulu. Ada pula kasus – kasus plagiasi untuk pembuatan skripsi karena memiliki ‘jalinan khusus’ dengan salah satu tenaga pengajar. Benarkah itu yang disebut ilmiah?

Kadang pula, skripsi hanya dibuat atas dasar ingin cepat selesai dan sekedar ingin mendapatkan gelar. Gian misalnya, mengaku “Aku memang ingin menyelesaikan skripsi dengan cepat, gampang, dan tidak perlu repot – repot menguras tenaga. Aku lebih memilih bahan yang mudah, gak peduli dengan berguna atau tidak bagi masyarakat”. Satu lagi berkata “aku memang sangat peduli dengan skripsiku, untuk gelar juga. Tapi aku berusaha keras menyelesaikannya, meski topik yang aku angkat mudah”.

Pengakuan dari beberapa mahasiswa, sekiranya cukup mewakili suara kebanyakan. Toh, identitas sebuah skripsi harusnya lebih mendasar pada idealisme untuk mengangkat ide – ide yang sekiranya ‘berbeda’ dan ‘berguna’ bagi siapa saja. Mungkin juga kita bisa berpikir bahwa nantinya skripsi itu akan berguna bagi pengembangan penelitian di masa depan. Apakah membutuhkan waktu lama untuk melakukan semua itu?

Benarkah tak ada lagi idealisme untuk sebuah tugas akhir? Notabene, mahasiswa adalah agent of change (agen perubahan) masa depan. Memang terlihat ‘muluk – muluk’. Tapi bukankah sebuah cita – cita itu harus tinggi agar yang didapatpun tidak sedikit? Sebuah skripsi memang tidak akan mengguncang dunia. Tapi paling tidak, selesaikanlah dengan hati.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: