Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mengapa Kurikulum 2013 Tidak Akan Berhasil Membawa Perubahan?

OPINI | 07 April 2013 | 17:16 Dibaca: 1606   Komentar: 0   4

1365304792634789057

Siswa SD di Pedalaman Kalimantan

Saat ini, sedang marak memang isu perubahan kurikulum dari KTSP ke kurikulum 2013. Jika kurikulum 2006 adalah KTSP, Entahlah apa namanya nanti untuk kurikulum 2013. Atau mungkin sudah ada namanya namun saya tidak tahu! Alasan perubahan ini tentu karena ingin melakukan perbaikan di semua sisi. Sebuah program, apapun itu, tentu ada evaluasi berkepanjangan yang kemudian akan menelurkan perbaikan, seperti sekarang, kurikulum 2013 yang akan digunakan tahun ini pasti juga (mungkin) karena evaluasi mendalam dari orang-orang pintar di atas sana.

Lumrah juga jika kemudian banyak warga yang protes dan menolak kurikulum ini. Dana anggaran yang cukup besar, menjadi sasaran empuk penguasa untuk di korupsi menjadi alasan utama penolakan. Belum lagi, kekhawatiran-kekhawatiran lainnya. Semisal apa jaminannya bahwa kurikulum baru ini jauh lebih baik dari kurikulum KTSP? Jangan sampai anak-anak didik dan guru-guru serta stake holder lainnya dijadikan korban kurikulum yang tak jelas. Atau, kurikulum KTSP saja belum maksimal diterapkan, eh malah mau diubah ke kurikulum 2013.

Secara garis besar, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diterbitkan 2006 menyerahkan ke sekolah untuk mengelola pembelajaran sesuai khasanah daerah masing-masing. Di dalam kurikulum ini ada pelajaran muatan lokal dan pengembangan diri atau mungkin pengembangan karakter. Karena memang tujuan utama kurikulum ini adalah membentuk generasi bangsa yang tidak hanya cerdas intelektualnya, tapi juga harus bermoral dan berkarakter.

Yang jadi masalah selama ini adalah, pendidikan karakter hanya dijadikan sebuah mata pelajaran wajib dan dijalankan hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahkan yang saya alami saat meninjau beberapa sekolah di pedalaman, ketika pelajaran pendidikan karakter, anak-anak diminta masuk ke kelas, mencatat buku panduan pendidikan karakter, sedangkan gurunya ngerumpi di kantor.

Atau, banyak guru yang hanya omdo, omong doang! Guru agama Islam misalnya, di depan kelas berkoar-koar menganjurkan agar anak-anak didiknya shalat dan berbuat baik, tapi gurunya di luar jauh sekali dari apa yang ia bicarakan di depan kelas. Atau guru yang bicara tentang sukses hidup adalah dengan bekerja keras, tapi guru itu hidup sengsara dan menderita karena kemalasannya. Hidup hanya mengandalkan gaji guru dan tak kreatif!

Bagaimana bisa pendidikan karakter berhasil jika di lapangan yang terjadi malah demikian?

Lalu apa perbaikan yang dilakukan di kurikulum 2013?

Perbedaan mendasarnya adalah :

  1. Untuk SD, yang mulanya ada 10 mata pelajaran, di kurikulum 2013 hanya ada 6 mata pelajaran. Tapi ingat, turunnya jumlah mata pelajaran bukan berarti turun juga beban belajarnya, tidak! Karena jam belajar SD harus ditambah 4 jam pelajaran setiap minggunya.
  2. Untuk SD, IPA akan diintegrasikan dengan matematika dan bahasa Indonesia. Sedangkan IPS akan diintegrasikan dengan PKn dan Bahasa Indonesia.
  3. Untuk SMP jumlah mata pelajaran yang mulanya 12, di kurikulum 2013 akan menjadi 10 mata pelajaran.
  4. Untuk SMP, pelajaran TIK yang mulanya berdiri sendiri akan diintegrasikan ke semua pelajaran. Muatan lokal akan dimasukkan ke dalam seni budaya dan prakarya. Sedangkan pengembangan diri akan diintegrasikan ke semua mata pelajaran.

Menurut saya, kurikulum 2013 tidak akan memberikan perubahan maksimal. Mengapa? Sesuai yang saya alami selama mengabdi di pedalaman Kalimantan, ketika meninjau beberapa sekolah, permasalahan utama bukan pada kurikulumnya, tapi lebih kepada kualitas pengajar yang kurang kompeten dan tidak berkarakter. Okelah, ada sertifikasi guru yang mulanya dirancang agar guru bisa termotivasi dalam meningkatkan kompetensinya, tapi di lapangan tidak demikian. Banyak guru sertifikasi yang mengajarnya asal-asalan.

Jadi, mau sebagus apapun kurikulum yang diberikan, tapi jika yang menjalankan tidak bisa mengoperasikannya, maka akan sia-sia saja. Seperti seorang bayi yang di berikan gadget speks tinggi, tidak akan memberikan hasil dan kerja maksimal.

Syaiful Hadi

Aktivis Sekolah Guru Indonesia

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | | 30 October 2014 | 20:35

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | | 31 October 2014 | 11:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 4 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 9 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Pantaskah Menteri Susi Dibela atau Dicerca? …

Abdullah Sammy | 8 jam lalu

Selaksa Abstraksi …

Ade Subagio | 8 jam lalu

Jangan Lupakan Kasus Obor Rakyat untuk …

Tian Bugi | 8 jam lalu

Belajar dari Krisis Demi Kestabilan Keuangan …

Arif L Hakim | 8 jam lalu

Mengapa Jokowi Memilih Susi? …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: