Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Tyo Mokoagow

Haus ilmu. Saya bisa sakit bila tak memahami apa-apa dalam sehari

Pendidikan Seks di Usia Dini

REP | 07 April 2013 | 17:50 Dibaca: 677   Komentar: 0   0

Penanaman paham tentang seks telah lama menjadi pembicaraan hangat yang tidak ada habis-habisnya karena sering berbenturan dengan perkembangan zaman yang lalu menimbulkan pro dan kontra. Karena saya melihat ukuran moral bangsa ini bergantung pada bibit-bibit generasi muda sebagai generasi penerus cita-cita bangsa, maka saya menyatakan bahwa education sex di usia dini perlu dilakukan.
Idealnya, pendidikan tentang seks di usia dini harus dimulai sejak kelas 2 SMP karena pada masa itu rata-rata laki-laki dan perempuan telah mengalami masa akil balik dan menandai matangnya factor biologis manusia.  Pemikiran ini berangkat dari pendapat bahwasanya ketika seorang anak mengalami proses akil balik, ia akan kebingungan dan terkaget-kaget dengan perubahan fisik yang terjadi pada dirinya sehingga masuknya education sex pada anak di tingkat pendidikan kelas 2 SMP ini akan menetralisir ketakutan anak.
Berkaca pada realita, yang membuat saya semakin setuju pendidikan ini perlu ada sejak kelas 2 SMP karena tidak sedikit kita mendapati banyak video porno dan kehamilan diluar nikah yang terjadi pada masa ini. Ini tentunya menimbulkan keprihatinan terhadap masa depan moral bangsa kita. Tidak siapnya anak pada masa ini untuk menghadapi dunia perkawinan akibat hamil diluar nikah berdampak besar terhadap psikologis anak meskipun secara biologis anak sudah bisa dikatakan matang tapi dalam pembentukan mental belum utuh.  Selain itu dari segi pemikiran dan perasaan, anak pada masa ini terlalu hijau untuk menggeluti lika-liku dunia perkawinan yang bahkan oleh orang dewasapun susah untuk dijalani. Education sex berguna untuk membuka mata anak dan menciptakan sikap protektif terhadap dunia sex.
Dalam perjalanannya , tak bisa dipungkiri juga bahwa anak-anak pada usia ini adalah tahap dimana anak sedang mengarungi masa pubertas. Pada masa ini rasa penasaran anak pada dunia mulai berkembang besar. Ego yang bertumbuh subur ini terbentur dengan gaya social yang telah dirombak oleh arus globalisasi. Konsekuensinya apabila anak tidak merokok atau tidak pacaran maka dianggap tidak memiliki eksistensi dalam wilayah social. Inilah yang harusnya kita tepis. Ketika anak mencoba merokok dia telah membuka pntu masuk kea rah hal-hal negatif lain dari perilaku menyimpang kecil ke perilaku menyimpang yang lebih besar. Begitupula dengan dunia pacaran yang seharusnya tidak kita cicipi pada masa SMP. Rasa keingintahuan anak yang besar dapat berpotensi hubungan pacaran itu melangkah lebih jauh ke arah yang negative.
Fenomena ini tidak terlepas dari peran media massa yang lebih mementingkan “penjualan” daripada konten yang termuat dalam produk-produk mereka. Sebuah survey menunjukan bahwa sebagian besar pengunjung situs porno merupakan remaja. Sngat memprihatinkan apabila remaja sejak SMP tidak dibekali dengan sex education maka ditakutkan remaja tidak akan siap ketika nantinya masuk ke dunia informasi.
Ini perlu diperhatikan oleh pemerintah terutama dari dinas pendidikan dan dinas kesehatan yang perlu mengadakan sosialisasi secara terus menerus terhadap penyimpangan-penyimpangan yang umumnya terjadi pada masa remaja.
Pengawasan dan control terhadap education sex tidak lepas sampai disitu, diperlukan juga covering dari orang tua sebagai subjek lingkungan  yang paling dekat dengan anak agar terbentuk pola education sex yang berwujud eksternal dan internal social. Karena kesalahan yang sering terhadi adalah meskipun anak mempelajari education sex di lingkungan luar, orang tua ternyata tidak membangun komunikasi dalam hal ini.
Dengan adanya integrasi antara peran orangtua sebagi keluarga dan lingkungan social terkecil bersama peran pemerintah sebagai mediator pendidikan, maka akan terbangun benteng yang kuat yang melindungi pengaruh negative baik dari luar ataupun dari dalam. Diharapkan masa depan moral melalui education sex ini akan menjadi lebih baik, karena generasi muda merupakan generasi penerus cita-cita bangsa dan Negara. Dipundak merekalah Negara ini akan dibawa, maka mari besama-sama kita bentuk moral dan mental mereka sejak dini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 5 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 9 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 8 jam lalu

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 8 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 9 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 10 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: