Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Puisi dan Pendidikan Karakter

OPINI | 08 April 2013 | 14:00 Dibaca: 1196   Komentar: 0   0

Ketentuan UUD 1945 mengamanatkan agar  pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang mengarah kepada peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pencapaian amanat ini secara teoretis dapat dicermati secara komprehensif melalui peningkatan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.

Dilihat dari kacamata pendidikan, peningkatan tersebut haruslah diterjemahkan secara operasional dan diimplementasikan melalui proses pembelajaran yang memadai. Pembelajaran yang memadai bukan hanya mengembangkan salah satu kecerdasan, akan tetapi seluruh kecerdasan manusia.  Kecerdasan manusia secara operasional dapat digambarkan melalui tiga dimensi, yakni kognitif, psikomotorik, dan afektif. Melalui pengembangan kognitif, kapasitas berpikir manusia harus berkembang. Melalui pengembangan psikomotorik, kecakapan hidup manusia harus tumbuh. Melalui pengembangan afektif, kapasitas sikap manusia harus mulia. Hal ini sejalan dengan dasar pendidikan Indonesia, yakni mencerdaskan bangsa yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia. Dengan kata lain, peserta didik bersekolah bukan hanya untuk menghadapi bahasan soal-soal ujian; peserta didik bersekolah merupakan strategi untuk mempersiapkan dirinya memasuki kehidupan di masa kini dan masa yang akan datang yang lebih baik.

Secara empiris, pelaksanaan pembelajaran masih diarahkan kepada pencerdasan yang bersifat kognitif. Pada tataran ini pun, kecerdasan intelektual yang bersifat kognitif masih terbatas kepada pengembangan kemampuan menghafal atau transfer pengetahuan dan keterampilan menyelesaikan soal-soal ujian. Pengembangan kognitif yang lainnya masih diabaikan, misalnya, pengembangan kognitif untuk meningkatkan daya kritis. Sebagai gambaran dapatlah dikemukakan hasil studi The International Association for the Evaluation of Education Achievement. Data tersebut menunjukkan bahwa siswa SD Indonesia dalam hal kemampuan bacanya berada pada urutan ke-26 dari 27 negara yang diteliti. Hal yang sama dilaporkan pula oleh World Bank (1998) bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia berada pada urutan kelima dari lima Negara Asia yang diteliti. Data termutakhir dari laporan UNESCO (2003) melalui Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa keterampilan membaca anak-anak Indonesia usia 15 tahun ke atas, berada pada urutan ke-39 dari 41 negara yang diteliti. Berita yang dilansir oleh Harian Umum Pikiran Rakyat (Pikiran Rakyat, 5 Agustus 2005) tentang kondisi ideal surat kabar yang harus dibaca, yakni 1:10 atau satu surat kabar untuk 10 penduduk, belum dicapai oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, masih di bawah Filipina dan Sri Langka dengan rasio sebagai berikut: Indonesia 1:45; Filipina 1:30; dan Sri Langka 1:38.

Kondisi tersebut mencerminkan bahwa kebutuhan dan kemampuan membaca masyarakat Indonesia sebagai fondasi awal bagi pembentukan karakter masih sangat rendah. Oleh karena itu, untuk menciptakan agar masyarakat memiliki kebutuhan akan buku, melek aksara harus terus diciptakan. Penciptaan ini sejalan dengan kesepakatan Dakar (Global Monitoring Report, 2006) tentang Literacy for Life bahwa keberaksaraan merupakan hak seluruh umat manusia tidak hanya karena alasan moral, tetapi juga untuk menghindari hilangnya potensi manusia dan kapasitas ekonomi yang menjadi esensi fundamental dari  pendidikan karakter. Kondisi tersebut juga mencerminkan bahwa berbagai persoalan yang muncul di dalam pendidikan yang belum kuat secara kemanusiaan akan melemahkan kepribadian bangsa. Semangat untuk belajar, berdisiplin, beretika, bekerja keras, dan sebagainya akan menurun. Peserta didik banyak yang tidak siap untuk menghadapi kehidupan sehingga dengan mudah meniru budaya luar yang negatif, terlibat di dalam amuk massa, melakukan kekerasan di sekolah atau kampus, dan sebagainya.

Di sisi lain, tontonan yang dipertunjukkan oleh orangorang dewasa, seperti di “panggung” politik, di dalam birokrasi pemerintahan, di dalam kehidupan kampus, dan di seputar kehidupan masyarakat belumlah dapat dijadikan model kehidupan yang ideal seperti yang diamanatkan oleh UUD 1945. Meningkatnya kemiskinan, menjamurnya budaya korupsi,  menguatnya politik uang, dan sebagainya sebagai cerminan dari kehidupan yang tidak berkarakter kuat untuk menuju bangsa yang berperadaban maju. Fenomena-fenomena empiris tersebut haruslah segera disadari oleh para pendidik  bahasa Indonesia. Dalam ranah praksis pendidikan sehubungan dengan hal itu adalah pendidikan karakter. Hal ini untuk memberikan sentuhan yang menuju kepada keluhuran budi peserta didik supaya dalam kelakuan sehari-hari dan kelak saat terjun di masyarakat diharapkan berperilaku baik.

Menurut saya, salah satu media untuk pengembangan pendidikan karakter itu adalah puisi. minimal ada 4 alasan untuk hal tersebut.  Pertama, secara hakiki puisi merupakan media pencerahan mental dan intelektual yang menjadi bagian terpenting di dalam pendidikan karakter. Kedua, terdapat beragam karya puisi yang harus diapresiasi yang secara hakiki sangat penting bagi pengembangan karakter. Ketiga,  pembelajaran puisi yang relevan untuk pengembangan karakter adalah pembelajaran yang memungkinkan peserta didik tumbuh kesadaran untuk membaca dan menulis sebagai bagian terpenting dari prasyarat pembentukan karakter. Keempat, puisi yang dipandang relevan untuk pembentukan karakter adalah bahasanya indah; mengharukan pembacanya; membawakan nilai-nilai luhur kemanusiaan; serta mendorong pembacanya untuk berbuat baik kepada sesama manusia dan makhluk lainnya.

Mengapa puisi? Karya sastra sebagai simbol verbal mempunyai beberapa peranan. Di antaranya sebagai cara pemahaman (mode of comprehension), cara perhubungan (mode of communication) dan cara penciptaan (mode of creation). Obyek karya sastra adalah realitas.Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mengandung elemen ritme, rima, metafor dan disusun menurut tata korespondensi tertentu. Pada lazimnya puisi didominasi oleh curahan rasa dan ritme. Oleh karena itu puisi disebut juga bahasa rasa. Jenis-jenis puisi dapat dibedakan berdasarkan sudut tinjauan kita terhadap segi-segi puisi itu.

Dari sudut cara pengungkapan penciptanya puisi dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu: puisi lirik, puisi epik dan puisi dramatik.Puisi merupakan kesusastraan yang sangat disenangi oleh masyarakat sejak jaman kuno sampai sekarang. Puisi di aman kuno disebut kekawin karena mempergunakan bahasa kawi. Kekawin dari kata dasar kawi yang artinya syair. Di jaman kuno orang yang pintar membuat kesusastraan kekawin dinamai kavya. Ciri-ciri kekawin itu sebagai berikut: Satu bait terdiri dari empat baris. Tiap baris jumlah suku katanya sama. Pembacaan kekawin itu terikat oleh suara berat yang disebut “guru” dan suara ringan yang disebut “lagu.”

Kesusastraan yang padat berisi dan diolah dengan bahasa indah disebut puisi atau geguritan dalam kesusastraan Jawa. Berdasarkan bentuknya puisi terdiri dari puisi lirik dan puisi epik. Sedangkan berdasarkan isi atau temanya dapat dibedakan menjadi himne, ode, elegi dan satire. Bentuk gabungan antara puisi dan prosa dinamai prosa lirik atau puisi prosais. Karya ini termasuk jenis puisi. Keindahan bahasa puisi Jawa terletak pada tiga macam yaitu: Wilet, yaitu kelak-kelok suara agar ajeg, beruntun dan memiliki makna yang tinggi. Wirama, yaitu panjang pendek, keras liat dan tinggi rendah jatuhnya suara. Dan yang tidak kalah penting yaitu purwakanti atau dhong dhinging suara. Jika dua orang pelukis sama-sama melukiskan suatu bagian dari kota, bisa jadi kejadian yang lukisan satu mengagumkan kita, sedangkan lukisan yang lain kita rasa jelek. Perbedaan bukankah jadinya terletak pada “pokok”, karena di sini pokok adalah sama. Perbedaan terletak dalam perasaan-perasaan yang mengiringi pemandangan di kota tadi, dan dalam cara bagaimana perasaan-perasaan itu mencapai pernyataannya.

Sejarah puisi telah mulai jauh sebelum manusia mengenal tulisan dan bahasa yang sempurna. Puisi bermula dari gumam, suara-suara dan gerak ritmis pada saat manusia purba menyelenggarakan ritus. Hal ini dinamai protipe puisi. Perkembangan puisi selanjutnya sejalan dengan perkembangan bahasa dan kebudayaan manusia. Pada tahap lebih lanjut manusia mengekspresikan rasa dan pengalamannya tidak hanya menggunakan suara dan gerak ritmis, tetapi juga dengan bahasa verbal yang mengandung makna. Pada tahap ini puisi yang lebih sempurna muncul dalam bentuk mantra. Serentak dengan ini puisi dalam bentuk nyanyianpun muncul pula, yang pada mulanya sangat erat dengan perbuatan magis dan kegiatan ritual. Mantra diucapkan dengan irama yang sangat kuat sehingga terdengar seperti nyanyian, sebaliknya nyanyian sebagian besar berbentuk lagu pujaan yang erat kaitannya dengan mantra.Menyusul kemudian lahirlah puisi yang mengandung pujian terhadap alam. Fenomena alam yang menyentuh hati nurani manusia diekspresikan dalam bentuk puisi. Keindahan alam atau fenomena alam lainnya tidak sekedar diekspresikan seperti kenyataan faktualnya, tetapi ditilik sampai ke hakikatnya dan hubungannya dengan kehidupan manusia Karena itu lukisan alam tersebut selain indah dan mengesankan juga terasa hidup dan filosofis. Pada tahap inilah munculnya gaya personifikasi sebagai suatu cara memberi tenaga dan nyawa kepada benda-benda mati dan menjadi salah satu ciri khas puisi.

Sebagai salah satu karya seni puisi terus berkembang mengikuti perkembangan peradaban manusia. Pada tahap lebih lanjut puisi menjadi karya seni sastra yang multidimensi. Semua aspek kehidupan manusia terekam dalam puisi. Puisi tidak lagi sekedar ekspresi emosi dalam bentuk bunyi dan irama, tetapi telah berubah menjadi karya seni bahasa untuk mengucapkan suatu gagasan atau pengalaman.

Sudah barang tentu, pusi hanya media. Tidak pernah ada kata akhir untuk merumuskan definisi pendidikan karakter. Lebih dari 2000 tahun yang lalu, mungkin setelah musim gugur tahun 424 S.M., usaha untuk memberi definisi tentang ‘keberanian’ gagal.  Dalam pertemuan di sebuah palaistra di Athena itu Sokrates dan beberapa orang lain berdebat, mengajukan dan menyoal pendapat, mengusulkan proposisi dan menangkis — terutama  antara dua orang jenderal Athena, Nikias dan Lakhes.  Sekitar seperempat abad setelah itu, atau katakanlah setelah kematian Sokrates di tahun 399 S.M., Platon, muridnya yang termashur itu, menuliskan dialog itu — mungkin merekonstruksi, mungkin  pula menciptakan teksnya dengan separuh imajinasi.  Bagian tentang ‘keberanian’ itu diberinya judul “Lakhes.”

Apresiasi tiap orang terhadap realitas kehidupan tidak bisa dibentuk oleh dunia pendidikan. Ia berurusan dengan keyakinan dan mungkin “ideologi” tiap orang.Orang memperlakukan keyakinan ideologis sebagai benteng biasanya ketika ia merasa keyakinannya sedang diserang dan ia sendiri takut guyah. Dalam ‘posisi benteng’ inilah misalnya ide dari pihak yang –bukan-kita dianggap sebagai [peluru] pistol yang berbahaya karena bisa membunuh atau melumpuhkan ‘iman’. Meskipun sebagaimana tampak dalam sejarah percaturan pendapat, konfrontasi dengan sebuah ide – juga ide yang paling tak kita setujui sekalipun – justru bisa mematangkan kita.

Memperlakukan keyakinan sebagai benteng berarti menutup diri, merasa perlu menjaga kemurnian ajaran. Heterodoksi adalah musuh. Mereka yang tak punya ‘surat kepercayaan’ sebagai sekutu dijauhi, dan tafsir yang datang dari orang luar dicurigai – tentu saja apa dan siapa itu ‘luar’ ditentukan pada saat mundur ke dalam benteng.

Membaca puisi sendiri adalah suatu pengalaman pergulatan manusiawai. Kadang-kadang teks di dalamnya bukanlah realitas itu sendiri. Teks itu kadang-kadang oleh penyusunnya atau dipahami oleh pembacanya sebagai rantai makna yang amat berhubungan dengan perasaan. Lebih jauh barangkali pembenaran atas ragamnya pemahan itu suatu involusi tekstual. Tak jarang ‘involusi tekstual’ adalah cara bekerja para apologis – yang memilih teks yang pas untuk membebaskan sang doktrin dari inkonsistensi (atau ‘kesalahan’) yang terjadi dalam praktek. Di kalangan agama, para apologis ini tak sedikit jumlahnya. Tapi rupanya mereka juga bisa ditemukan di kalangan Marxis, yang menganggap agama sebagai kesalahan.

Secara tak langsung, involusi tekstual mengatakan bahwa satu proposisi benar jika, dan hanya jika, merupakan satu bagian (atau ‘anggota’) dari seperangkat proposisi yang secara maksimal koheren dan konsisten. Ini tak jauh jaraknya dari pemikiran Idealis Jerman dan Ingris abad ke-18.

Idealisme muncul tak terduga dari balik tembok, ketika kebenaran dianggap hanya bisa teguh dengan ide dan teori, dan ide dan teori diperlakukan sebagai sebagi hal-hal yang begitu ampuh dan kuasa.

Saya sendiri sebenarnya belum begitu utuh dalam membayangkan bagaimana pendidikan karakter, puisi, dan realitas kehidupan itu diletakkan dalam satu keranjang pemikiran. Lebih-lebih jika nanti dituntut dengan pertanyaan yang mengiris-iris secara tajam tetapi bersifat teknis seperti bagaimana kurikulum harus dirancang, silabus yang harus dipersiapkan, dan berapa anggaran untuk itu semua. Saya bukan sastrawan yang gemar dan mempunyai rekam jejak meyakinkan dalam persoalan penulisan puisi. Jadi, saya menyerahkan hal kepada yang “ahli” untuk menjawabnya.

Usul ini adalah perspektif penggemar puisi yang mengarngi dunia pendidikan. Dan sepanjang hayat akan selalu dipertanyakan dan diragukan mengenai apa itu pendidikan karakter. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan karakter sesungguhnya?Pertanyaan mengundang filsafat: demikianlah yang terjadi. Ia harus mencari jawab dan menemukan dasar yang kokoh. Tapi dengan demikian filsafat baginva tidak lagi suatu ilmu pengetahuan, melainkan hanya suatu dasar pertanggungan-jawab atas beberapa sikap. Studi filsafatnya tak pemah sistematis, dan pada umumnya tanpa disiplin. Maka yang diperolehnya bukanlah suatu pandangan dasar tentang segala hal ihwal, melainkan beberapa afirmasi terhadap keyakinan-keyakinannya semula, ditambah suatu kecenderungan untuk selalu menyangsikan kepercayaan-kepercayaan di luar itu. Dalam usahanya mencari jawab dan dasar yang kokoh, ia makin sukar untuk bergabung dengan suatu kelompok ideologi.

Jadi, mari kita berpuisi dan nanti akan terbentuk karakter yang baik. Segampang itukah?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah 5 Butir Penting Putusan MK atas …

Rullysyah | | 21 August 2014 | 17:49

MK Nilai Alat Bukti dari Kotak Suara …

Politik14 | | 21 August 2014 | 15:12

Penulis Fiksiana Community Persembahkan …

Benny Rhamdani | | 21 August 2014 | 11:53

Meriahnya Kirab Seni Pembukaan @FKY26 …

Arif L Hakim | | 21 August 2014 | 11:20

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Dahlan Iskan, “Minggir Dulu Mas, Ada …

Ina Purmini | 3 jam lalu

Pelajaran dari Sengketa di MK …

Jusman Dalle | 9 jam lalu

WC Umum Tak Kalah Penting dengan Dapur Umum …

Prabu Bolodowo | 10 jam lalu

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 11 jam lalu

Jangan Sembarangan Pelihara Ayam di Amerika …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: