Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Wijaya Kusumah

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta selengkapnya

Sejumlah Masalah Dalam Kurikulum 2013

REP | 08 April 2013 | 11:30 Dibaca: 12574   Komentar: 3   5

Begitu banyaknya orang yang bertanya tentang kurikulum baru dan ketidak sempurnaanya untuk diterapkan di bulan Juli 2013, membuat saya harus menuliskan informasinya secara lengkap dan apa adanya. Berikut ini saya sampaikan pemaparan para pembicara seminar nasional “Kesiapan Guru dalam Menghadapi Kurikulum Baru dan Problematika yang Dihadapinya” yang diketikkan secara cepat oleh mbak Dhita Putisari (Direktur Program IGI Pusat). Kegiatan seminar nasional ini sendiri dilaksanakan di perpustakaan UNJ Rawamangun Jakarta Timur, Minggu, 7 April 2013.

Cerita liputannya ada di http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/08/kurikulum-2013-benar-benar-ditelanjangi-di-kampus-unj-oleh-praktisi-pendidikan-549231.html

Sejumlah Masalah dalam Kurikulum 2013

Hartini Nara, M.Si.

Inti pendidikan adalah guru. Guru adalah pemain inti. Masalah kurikulum, tidak meniscayakan bahwa kurikulum tidak harus berubah sama sekali, tidak. Kurikulum harus menjawab tantangan zaman. Iya. Tapi bukan berarti hari ini dikonsep, hari ini harus jalan. 2012 uji publik hanya dari PPT. Buku belum siap, kesiapan guru di lapangan belum siap.

Permasalahan mendasar Kurikulum 2013

  1. 1.       Tidak melalui riset dan evaluasi yang mendalam
  2. 2.       Menitikberatkan siswa
  3. 3.       Ketidaksiapan guru karena terkesan mendadak
  4. 4.       Tematik lebih cocok di kelas dasr
  5. 5.       Tidak memperhatikan konteks sosiologis keIndonesiaan

Untuk mencoba menerapkan model pembelajaran yang sederhana saja, prosesnya panjang, dicoba di kelas kecil dulu, Kurikulum 2013 menyederhanakan persoalan. Evaluasi juga tidak terdengar dengung yang resmi. TIMSS, PISA nilai kita rendah. Kalau hasil dari pendidikan saat TIMSS, PISA rendah apa kita tidak melihat pelaksanaannya di lapangan. Kurikulum kita seperti apa dan budaya belajar di kita belum bisa menandingi budaya belajar, membaca, kesungguh-sungguhan dalam mencari ilmu pengetahuan. Kalau acuannya jepang seperti di PPT. Amerika, korea selatan menambah jam pelajaran. Korea sudah tumbuh sejak kecil membacanya, Jam pelajaran ditambah sampai 36 jam di SD. Perubahan belajar bukan membuat pembelajaran yang lebih menyenangkan.

Perpustakaan sekolah buku yang sudah lawas. Bagaimana mau punya budaya baca, sedangkan sumber bacaannya masih terbatas. Struktur kurikulum, jumlah jam yang teralu banyak bukan pemecahan masalah. Bosan dengan sekolah, Harus belajar terus. Kesukaan terhadap belajar akan menurun. Kalau menghadapi guru yang frustasi, harus mengajarkan banyak hal sekaligus.

….

Jimmy ph. Paat

Sekolah Tanpa Batas & Koalisi Pendidikan

Selamat siang teman-teman. Saya mungkin memulai paparan saya dengan pernyataan saya menolak Kurikulum 2013. Sejak akhir 2012 ketika perancangan kurikulum ini dilemparkan oleh Kemendikbud, perdebatan selalu muncul, formal, informal, tulisan kritis di Kompas, Media Indonesia, dan media elektronik muncul. Tentu saja banyak yang menulis dan dianggapi juga oleh kementerian oleh Pak Mohammad Nuh menanggapi Abduzein, Pak ….,bu Elin,Acep, pak.. dari setiya wacana. Tanggapan saya kutip dikatakan baiknya memahami dulu … kompetensi dalam kurikulum sebelum mengkritik. Dia menunjukkan bahwa penkritik tidak paham kurikulum 2013. Bambang Kaswanti, linguist terkenal dari Indonesia kalau dianggap oleh menteri tidak paham, maaf saya harus katakan menteri kita lebay. Ketika saya diundang panitia untuk membahas ini jangan-jangan saya dianggap yang tidak paham. Terserah, tidak apa-apa. Untuk menghindari kelihatan tidak paham saya hanya akan membahas dari naskah akademiknya saja yang diperoleh Bu Retno dari Fraksi Golkar.

199 halaman terdiri dari dua kata penghantar Chaitril anwar, …

Dari jadi daftar pustaka 17 buku yang menggunakan kata kurikulum (kurang setengah). Dari 187 buku hanya 4 buku saja yang tahun 2000-an. Saya melakukan ini seakan memeriksa skripsi mahasisw. Selebihnya tahun 90-an dan 80-an. Saya tidak punya bukunya, hanya menerka dari judul. Mana buku yang pakai teori kurikulum. Ada tener, dan itu memang dibaca oleh semua orang yang belajar pendidikan, Schubert juga semua orang baca. Tidak ada yang aneh. Saya lohat di bab ini di bagian filosofi ada penjelasan tentang 4 filosofi ada tidak buku yang langsung ebrjudul itu. Dengan kata lain teori itu digunakan dari buku lain, tapi bukan dari buku dengan tema itu. Itu gabaran dari raut wajahnya.
Tulang dan daging naskah akademik. Saya mengulang apa yang dilaukan tanggal 5 Pak Doni Koesoema. Saya sepakat dengan dia bahwa landasan filosofis kurikulum 2013 terdiri dari eksperentialisme,…. dan perenalisme. Oleh Pak Doni, ini filsafat eklektisme, jelas di halaman 47 - 48 disebutkan mengacu kepada    (Ramon) mereka menggunakan kurikulum baru bersifat eklectic. Itu banyak kelemahannya. Banci, atau gado-gado yang sebenarnya banyak kurangnya. Kenaa hanya filsafat ini yang diambil. Mengapa tidak ada rekonseptualis. Ini gado-gado yang biasanya pakai tahu, ini tidak pakai tahu. Saya suka bayem tidak ada bayemnya. Gado-gado yang kurang tapi dikasih mahal 2, 49 triliun. Kalau pedagang, tidak punya etika. Itu bukan pedaagang lagi, penjahat. Dari sisi itu menjadi pertanyaan. Saya melihat di bagain filsafat ini, pad apoin satu di halaman 344 mereka menyebutkan perlunya kurikulum berakar pada budaya lokal dan memanggil nama ki hadjar dewantara, Kenapa tidak yang lain. Filsafat ki hadjar dewantara yang paling pentiing adalah pendidikan yang memerdekakan, dan itu tidak diambil oleh pembuat naskah kurikulum mengambil naskah akdemik ini. Munghkin sangat radikl.
Pemilihan landasan filosofis ini bukan masalah ilmiah atau tidak, ini masalah selera. Kenapa tidak pakai pendidikan yang memerdekakan. Pendidikan yang melarang adanya perintah, paksaan, itu sama sekali tidak dipakai.

Saya mau melihat sedikit karena saya guru bahasa prancis saya mau melihat yang agak praktis, misalnya kompetens dasar. Terus terang, Bu retno juga pernah menulis di facebook kesulitan unuk menurunkan kompetensi dasar ke yang lebih nyata di dalam kelas. Apa alasannya menyebutkan kompetensi dasar bahasa dan sastra prancis. Apa iya? Saya menghitung dari kelas 1 - 3 ada … hanya 1 semester. Mana mungkin belajar sastra. Saya bandingkan dengan brnegara alain.
Saya kembali ke kompetensi dasar. Menampilkan, mencerminkan, menerapkan. Saya bukan guru yang terlalu baik, tapi lumayan 30 tahun mengajar bahasa prancis. Saya tidak mengerti menamilkan prilaku jujur, bertanggung jawb, apa yang harus diajarkan. Ini guru bahasa asing atau tidak:?…

Saya melompat ke 41 dan 42, mengolah informasi lisan berbentuk paparan. Lebay banget, berlebihan kalau say mengajar kata kerjanya memperkenalkan diri. Tidak kompetensi tapi objective. Keterampilan, komunikatif. Memperkenalkan diri dan memperkenalkan atau menyebutkan/ menginformasikan sesuatu. Ini berlebihan dan pasti membingungkan para guru. Itu juga beralaskan pemerintah membuatkannya.
Bambang Akswanti di Kompas, mengatakan mengajar bahasa Indonesia kembali ke masa lampau. Dia menggunakan metafor yang bagus. Yaitu kalau gunung es di laut, di ujungnya. Mengajar bahasa Indonesia dengan menjelaskan. Kalau mengajar bahasa harusnya gunung yang tidak terlihat. Memahami ujaran. Siswa nanti diajarkan dan diterangkan karakteristik bunyi. Itu layaknya saya mengajar fenotik dan phionomologi, itu tidak ada gunanya kalau diajarkan di sekolah. Mengajarkan bahasa bukan untuk menggunakan bahasa.

contoh di Inggris. Di inggris jugua sedang membuat kurikulum baru, mereka sudah mensosialisasikan itu di internet tahun 2011 dan saya yang orang asing bisa membaca itu . beda kan? Sederhana saja.

Murid seharusnya diajarkan mendengar, … sesederhana itu. Lihat lengkapnya di makalah beliau di sini.

Mati lampu, kegiatan seminar dihentikan sementara.

Ihsan :
menarik sekali apa yang ditanggapi bu hartini dan Pak jimmy. Saya akan memberikan kesempatan kepada Bu Dian untuk menuntaskan 10 menit yang tersisa. Tadi dikatakan ini kurikulum akademik tapi tidak berdasarkan riset. Kita ingin tahu kenapa KTSP dikatakan gagal, penyebabnya apa? Kalau tidak terungkap nanti akan terulang sama.
Dian :
Maaf, saya bukan guru kalau saya bicara tidak bisa kencang. Saya sengaja menyisakan 10 menit untuk seperti ini ada beberapa hal yang ingin saya tanggapi. Ini kita dialog dan di pemerintah juga tidak bisa keras kepala. Untuk memperbaiki pelaksanaan kenapa tidak. Kita harus mendengar masukan apalagi bapak ibu merupakan pelaksana di lapangan. Ada prinsip yang memang tidak sampai, jangan sampai gelombang penolakan menjadi kencang karena pemahaman. Kita ingin kita punya warna yang sama.

Di kurikulum 2013 tidak semua tematik. SMP, SMA, tidak tematik tapi pendekatannya bahwa anak-anak itu bagaimana bsa mendengar, menelaah. Memang pendekatan dalam proses pembelajaran bagaimana kita bsia melakukan pendekatan saintific approach. Bagaimana ditingkatkan kreativitas anak-anak nanti. Berdasarkan penelitian dari buku kurikulum tadi krieativitas anak didapatkan 23 5 dari pelaksanaan pendidikan selain intelegensia. Bagaimana meningkatkan kreatifitas anak berdasarkan saintific approach. Materi SD berat di 2013 memang melalui proses evaluasi. Kita evaluasi dari buku yang ada. Di SD sudah ditanyakan tentang struktur pemerintahan. Kita tidak mentah-mentah mengambil dari PISA dan TIMSS….

Pertanyaan dari Ibu guru SMPN 30 Jakarta:
Saya guru di SMP negeri 30 Jakarta. Kurikulum 2013 masih sangat samar, karena itu saya memaksakan diri ke sini. Ada penjelasan tapi masih perlu saya pertanyakan. Guru SMP untuk kurikulum 2013 adalah 20 % se-Indonesia di bulan Juli. Sebagian kecil sekolah sudah akan melaksanakan kurikulum baru. Sekolah saya jadi barometer di Jakarta. Wakil kepala sekolah saja tidak tahu. 2013 dilaksanakan tapi Juli baru disosialisasikan jadi rasanya saya baru mulai paham kenapa teman-teman menolok. Barangkali kita perlu waktu untuk lebih bijaksana. Suami saya tim pengembang kurikulum. Kok guru TIK hilang. Ada alternatif satu ada alternatif 2 belum jelas yang mana. Boleh tidak dalam RPP, katanya mau disiapkan kemendikbud. Boleh tidak guru mengembangkan atau mengubah sesuai kondisi sekolah?

Pertanyaan Pak Hotben :

Saya hotben situmorang mahasiswa di UNJ. Saya tanya bu hartini yang menyatakan persoalan 36 jam bukan hal yang aneh. Justru semakin sulit menempatkan anak ditambah jam padahal jumlah pelajaran semakin sedikit. Karena jumlah pelajaran sedikit alokasi guru untuk berinovasi lebih realistis apa yang disampaikan diknas. Ibu dari teknologi pendidikan. Bukankah teknologi pendidikan yang memilkirkan ini. Agar bisa mendalam perlu alokasi waktu yang banyak?

Pertanyaan Bapak guru dari sukabumi :
Beberapa hari yang lalu di Media waktu belajar di Indonesia banyak. Korea dan Amerika libur 3 bulan, dibandingkan indonesiaa masa belajarnya cukup banyak malah kelamaan, tapi ketika baca yang diuji publik kok malah jadi kurang waktu belajar indonesia sehingga harus ditambah?

Pertanyaan Rismayanti Mahasiswa PGSD 2010 UNJ

Saya sebagai calon guru belum pernah terjun langsung di sekolah. Insya allah tahun 2014 dan akan terjun langsung mengajar tidak adil kalau pelatihan hanya unuk guru dan bukan calon guru.

Jawaba ibu Dian dari Kemdikbud :

Saya ingin menanggapi, pelatihan tidak hanya di bulan Juli. Kita akan melakukan di bulan Mei dan Juli.

Pernyataan M. Ihsan Sekjen IGI :

3 minggu lalu bedah kurikulum di surabaya. Saya membuka dengan pertanyaan. Apakah harus dterapkan 2013? Jawabannya harus sekarang kalau tidak, tidak sempat  2014, kita sibuk politik.  Faktanya kami membuat ini harus diterapkan 2013.

Yang saya ngeri kegagalan di KTSP ketika guru tidak dipersiapkan terulang lagi di 2013.  Kalau menambah jam pelajaran karena materi TIMSS dan PISA tidak jamnya.  Kegagalan matematika karena kita terlalu banyak menggunakan simbol. Dikatakan di indonesia singapore 112 jam per tahun, malaysia 120 per tahun. Indonesia lebih tinggi. Kalau jam dtambah ngajarnya masih membosankan. Masalahnya apa dulu? Politik atau akademis? Kalau akademis kita berdebat di sini..

Ini persoalan politik atau akademik? Tadi ada kenapa kurikulum harus berubah? Filosofinya jelas. Saya juga tidak setuju kalau dikaitkan politik. Tuntutan zaman. Tidak 100 % guru akan melaksanakan kurikulum 2013. Karena kita ingin melihat dulu.

Sesi 2

Itje Chodidah, Retno Listyarti, Laudi M. Nuh (0811280371963, 081594966, @aludeimat )

Moderator :
Assalamualaikum. Ada hukum namanya kasualitas (sebab akibat). Ketika kita memberi sedikit akan mendapat sedikit. Ketika kita memberi banyak akan mendapat banyak.  Bagaimana kabarnya hari ini. Allah masih memberi kenikmatan untuk menuntut suatu ilmu. Untuk menyiapkan diri kita terhadap perubahan kurikulum 2013. Di ses kedua ini saya sangat berterima kasih kepada panitia yang sudah memberi saya kesempatan untuk memoderatori orang hebat. Pakar dalam kurikulum dan dunia pendidikan. Saya pengamat pendidikan yang masih baru.
Laude :

Staf ahli komisi X DPR RI.

Itje Chodidjah (tep, fb, twitter )

Itje :saya di kelas lebih dari 3 dekade. Saya sudah di kelas dari usia balita sampai mengajr di paska sarjana. Hidup saya hanya rumah, dapur, tempat cucian dan kelas. Kelasnya bisa di mana saja. Saya akan mulai dengan puisi. Kit perlu mengucapkan terima kasih kepada Bu Dian. Selama ini sosialisasi kurikulum selalu dibawakan oleh menteri, wamen, dan eselon dua dan setelah pemaparan boleh langsung pulang. Ibu dian ebrsedia tinggal dan acara ini disponsori oleh BEM.

Selama keluarnya kebijakan tentang puisi sepember okober novermber

Kami dengar ia akan hadir

Ia akan membawa banyak martir

Yang siap akan memborardir

Segala macam kendala yang akan hadir

Tujuan mengkritis secar analits bukan karena ingin ebrseberangan dengan pemerintah karena ingi di ujung usia saya memberikan dampak pendidikan. Kenapa saya katakan dmeikian. Apa dunianya punya pengalaman pendidikan begitu lamanya ketika di ujung usia saya tidak berguna. Di mana kebenaran perlunya perubahan kurikulum ini? Semua orang telah membahas yang filosofis. Saya akan melihat kelas di mana ada guru siswa, dan bahan ajar dan ngapain kita mengajar. Apa gunanya menghabiskan waktu di dalam kelas ketika kita hanya mengikuti halaman 1 sampai terakhir. Apa dampaknya kepada anak-anak? Minggu ini, Selasa rabu dan Kamis saya minta anak saya HRD untuk merekam wawanccara dia dengan lulusan SMA dan SMk yang hanya akan bekerja sebagai pramuniaga tapi bekerja di tempat yang punya ketangkasan akrena perusahaan tersebut franchasing, 100 anak mengukuti rekruitment terpilih 6. Dari 100 hanya 6 orang. Setelah 6 orang masih dipilih karena yang punya kemauan melayani orang dalam bahasa inggris dapat dua. Dua dari 100 da ketika saya diceritakan dengar rekamannya tidak tahan air mata saya. Ketika kit menyebutkan diri kita pendidik kita adalah profesi tertinggi di bumi. Tanpa diakui atau tidak kita berkata Tuhan ini aku di sini untuk membantumu. Bertugas memperbaiki kuatas manusia dari akhlaknya, benar tapi tidak cukup itu saja. Karena butuh kemampuan dunia untuk melaksanakan akhlak karimah tadi. Ketika kurikulum 2013 diperkenalkan dengan memborbardir kita semua tanpa dokumen yang bisa diakses siapapun, sangat miris, mengeccilkan hati saya tapi menguatkan semangat saya sehingga masyarakat tahu apa yang terjadi sekaang.

Modern, demokrasi, sistem kita feodal, begitu sampai struktur yang terjadi loyalitas buta. Contihnya untuk tidak menyetujui kurikulu tadi. Forum ini lebih kayak daripada 100 orang diberi diberi preentasi power pont. Saya tahu d i ruangan ini orang yang benar-benar ingin mengabdikan diri untuk pendidikan bukan hanya imej agar kelihatan bagus.

KI memang selayaknya ditujukan guru. Mengacu pad akejujruan spo[pan santun, attitude dan tidak ada pelajarannya seperti ibu hartini tadi. Santun gurunya ngapain> guru adalah ujung tombak. I am for you because I am you. Saya juga pendidik maka saya tidak patut menyalah-nyalahkan. Bagaimana bekerja sama memperbaiki ini semua. Bu Itje jangan nyalahin guru kalau masyarakat rusak. Salahin orang tua. Sebab itu ortu mebayar sekolah pemerintahd dituntut, pendidikan adakah

Tiap kurikulum ada konsep. Kalau mau ambil filsafat eklektik guru besar mana yang menyetui . sudah ada yang mendeskripsikan dalam penelitian bahw filsafat eklektif bisa digunakan dalam …

Apa iya abad 2001 kurikulumnya. Kompetensi guru menunjukkan kualitas yang relatif harus ditingkatkan. Daro 100 ketemu 2 artinya anak-anak belum memperoleh hak pendidikannya secara baik untuk memenuhi kehidupan dalam masyarakat. Bagaimana hanya untuk nilai rapor dan UN. Nanti kan peninaiannya hanya UN. Hanya dibayar soal PG. Itu tidak adil tapi banyak yang menutup mata bagaimana mengukur standar nasional. Ukur standar nasional kepsek dan pengawas baru anak-anak. Kur diulu standar tupoksi kepala sekolah dan pengawas, sudahkah mereka tahu apa yang dikerjakan. Kenapa anak-anak yang dikejar-kejar. Kita bertujuan jangan sampai anak-anak jadi budak abad 21. Karena abad 21 memang licin sekali.  Negara yang lebih siap akan punya tempat untuk menampung orang sekadar teknis.  Jangan sampai kurikulum jadi obrolan seperti ini untuk anak-anak. I think we are being educated for failure. Kita belajar matematika kalau kalkulator rusak. Belajar membaca kalau TV rusak. Mengeja kalau-kalau spelling checker di komputer tidak jalan lagi. Jangan hanya belajar sampai bayas itu saja. 4 hal yang jadi perlu.

4 hal yang perlu jadi pemikiran guru dan pemangku kepentingan :

“menyiapkan anak didik untuk kreatif, inovatif, dan … “

Kompetisi ada yang kalah. Saya lebih suka berpartisipasi. Jangan dalam pendidikan menggunakan kompetisi.

Kalau memang sudah tabrak-tabrak, kudu pokoknya jalan.

  1. Kesadaran aan pentingnya memahami secara tuntas konsep yang mendasari dikembangkannya kurikulum 2013, serta berbagai kekurangannya. Mari berhenti menjadi loyalitas buta yang nantinya anak kit buta.
  2. Pemahaman tentang aspek yang akan berpotensi menimbulkan keraguan, kebingungan atau bahkan kesalatan dalam proses belajar.
  3. Pencarian alternatif-alternatif agar anak didik tidak terkena dampak dari kebingungan, keragguan, atau bahkan kesalahpahaman guru dan pemangku kepentingan lainnya.
  4. Pemahaman akan kebutuhan anak didik untuk hidup di abad 21 yang menuntut penjelasan-penjelasan yang sementara beredar telah dicakup dalam dokumen…

Selama ini hampir semua guru yang saya temui ketika masuk kelas lebih mengutamakan membawa buku tekst dan bukan membawa kurikulum, silabus, atau bahkan RPP

RPP adalah alat untuk akreditasi.

Padahal seharusnya proses pembelajaran bertumpu pada tujuan pembelajaran secata umum.

Banyak yang sudah kita tabrak dalam aturan mengajar. Ke kelas bawa teks book bukan mendidik. Kalaau mengajar 7 80 90 menit yang saya capai apa. Di seluruh dunia. Itu materi ajar adalah alat. The magic with kurikulum 2013 is pemerintah langsung menterjemahkan dalam 1 jenis materi. 1 for alla all 4 one.  Bagaimana kalau buku diterbitkan dengan satu jenis. As if sekoalh swasta modern di jakarta dan sekolah satu atap di kaur bengkulu sama.

Anda juga sama dnegan saya punya pengalaman di kelas. Punya mnurani mendidik yangs ama. Apakah materi ajar yang dibuat oleh pengemabng yang belum tentu memahami konteks sekolah di berbagai daerah.a da yang papan tulisnya bolong, pakai smart board, yang papan tulis sudah terhubung dengan internet, ada yang bangkunya bertiga dan empat dan sendiri-sendir. Bagaimana pengembang membayangkan kelas itu sehingga berani. Kenapa bukan guru yang dimampukan melakukan proses kolaboratif,

RENDAHNA MUTU GURU INDONESIA

Bagaomana mungkin yang mendampingi kepala sekolah dna pengawas yang nilainya lebih rendah dari irta. Apakah kurikulum merupakan sumber permasalahan sampai harus terus diganti. Kita ganti 4 kali dari 2010

Menunjukkan bahwa kualitas pendidikan terus menurun. Kurikulum bukan jawaban. Penyakitnya di mana? Kita salah obat. Benahi dulu guru dan LPTK di Indonesia. Keberatan FSGI di awal, prosesnya sudah berkeberatan, tidak didahului kajian yang medalam, guru tidak siap mengimplementasikan. 6 % guru SD tidak pernah mendapat pelatihan menjelang pensiun. 1980 4 x ganti presiden baru pelatihan satu kali. Guru haya dijadikan operator bukan creator Guru akan terPHK ratusan ribu. Kata pak wamen 27 maret, mereka menempatkan diri. Yangg menolak tidak tahu apa-apa. Kami juga menganggap bapak tidak tahu apa-apa tentang kami pikrikan. Tidak berani. Sudah habis perdebatan, kurikulum 2013 dianggap halal. PHK kalauPNS tinggal ganti pelajaran saja.

Dokumen buruk tap harganya selangit. Guru indonesia rendah bukan salah         guru tapi sistem. Kalau seidikit 1 0 orang yang salah guruny tapi kalau semua dipengaruhi sistem.

Pengawas kepala skeolah yang tidak suka mengajar. Kayak begitu mau mendampingi kita? Ketika kurikulum diterapkan dampaknya banyak guru yang menganggur. Kebijakan menghapus matapelaajaran di beberapa jenjang, guru kehilangan pekerjaan.

TIK rata-rata setiap sekolah guru TIK 2 belm swasta ini masih negeri bagaimana dnegan 33 provinsi. Nant milih mata pelajaran lain yang dia minati.

Ekonomi diganti kewirausahaan kacau. Mata pelajaran yang dikurangi jamnya bahasa inggis 180 menit menjadi 90 menit. Guru yang lain ke mana? Peningkatan kualitas, guru kreatif tapi semuanya dibuatin. Kalau gurunya gak bisa bikin silabus yah diajarkan .

Laude :

Salam cinta untuk bapak ibu seua. Sungguh luar biasa saya diberi kesempatan untuk bapak ibu semua. Dan profesor kita yang menjadi pendidik 30 tahun. Saya juga 30 tahun tapi sebagai siswa. Jadi, mungkin ini kesempatan kita sudah mendengarkan paparan. Yan terakhir cukup melengkapi atau mentup.
Sedikit saya dikenalkan sebagai seorang tenaga staf ahli di komisi X untuk anggota DR RI. Pada prinsipnya saya adalah guru karena belum yakin apa yang saya jalankan selama ini pendidika atau guru.

slide sudah dikirim ke panitia tapi tidak bisa dibuka. Saya akan menyampaikan hal pokok. Kalau melihat dari dinamika yang terjadi, sejak awal disampaikan oleh pemerintah abhwa kemendikbud menganggap kurikulum ada beberap hal pokok menjadi acuan. Dari berbagai survei lembaga intwrnasional. Kalau dinilai dari math science sangat terbelakang. Pemerintah mengembangkan kurikulum untuk menyesuaikan dengan kondisi terkini. Ternyata kenginan baik pemerintah memang tidak cukup sebatas pemaparan ataupun sosialisasi kalau didengarkan kita bisa pulang steelah mendengarkan tapi kondisi kita yang menghadapi itu di apangan akan sangat berat. Satu hal untuk kita, seharusnya ada dan tidaknya kurikulum berubah atau tiak, pendidik harus tetap berubah. Memperbaiki kompetensi dan wawasan keilmuan. Kurikulum bukan momok yangv menakutkan. Apakah kurikulum berubah juga kita berhenti mengajar? Kita tetap akan mengajar. Sejak awal say diceritakan oleg guru saya ada patron dalam pendidikan.s eharusnya endidikan mampu menghasilkan anak didik yang berkualitas. Cara meminum kopi seharusnya sesuai SOP  kopi dulu makan, gula, air baru minum.

Ada manualnya. Kalau mau minum kopi harus meyeduh dulu. Manual handbook tidka jamian seseorang bisa melaksanakan itu sesuai apa yang diharapkan. Tujuan pendidikan untuk seluruh stakeholder pendidikan.

Sampai di sini dulu liputannya, nanti kita akan uploadkan videonya ke youtube. Kalau ingin file pemaparan para nara sumber bisa kirimkan email ke wijayalabs@gmail.com. Nanti akan saya kirimkan ke email anda. Beberapa file sudah saya upload juga di blog saya di http://wijayalabs.com.

1365414471723507845

Ibu Retno dari FSGI dan Ibu Juli dari Igi memberikan kenang-kenangan

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

htttp://wijayalabs.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Menanti Doraemon Menjadi Nyata …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 December 2014 | 11:36

Admin Kompasiana ‘Tertangkap …

Harja Saputra | | 22 December 2014 | 12:45

Mengintip Bali Orchid Garden …

Benny Rhamdani | | 22 December 2014 | 09:36

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 5 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 13 jam lalu

Waspada Komplotan Penipu Mengaku dari …

Fey Down | 15 jam lalu

Dear, Bapak Jonru… …

Wagiman Rahardjo | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: