Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Jonny Hutahaean

Sarjana Strata 1, hobby membaca

Kurikulum 2013 dan Pemilu 2014, Apakah Berkaitan?

OPINI | 09 April 2013 | 00:05 Dibaca: 282   Komentar: 2   1

Kurikulum Pendidikan 2013, dengan Pemilu tahun 2014, adakah kaitannya?

Kurikulum 2013 terkesan sangat terburu-buru dan dipaksakan. Kurikulum 2013 sampai kini belum dapat diakses umum, dan para guru yang menjadi ujung tombak pelaksanaan malahan masih dalam keadaan bingung dan linglung. Majelis guru besar ITB protes, pemerhati pendidikan protes, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan ngotot dan ngeyel.

Doni Koesoema A pada harian KOMPAS mengungkapkan bahwa Kurikulum 2013 disusun berlandaskan filosofi ekletik (dari bahasa Yunani, eklektikos). Filosofi eklektik itu menggabungkan beberapa hal yang berbeda yang sebenarnya belum tentu cocok satu sama lainnya, menjadi mosaik tersendiri.

Maka salah satu bunyi KD (Kompetensi Dasar) Matematika adalah sebagai berikut : “Menunjukkan perilaku patuh, tertib, dan mengikuti aturan dalam melakukan penjumlahan atau pengurangan sesuai secara efektif dengan memperhatikan nilai tempat ratusan, puluhan, dan satuan”. Ini adalah contoh integrasi pendidikan karakter dengan matematika. Kompetensi Dasar Bahasa berbunyi seperti ini : “.. sehingga melalui bahasa siswa mampu merawat tanaman dan hewan”.

Perilaku patuh dan tertib itu memang perlu, terutama dalam tatanan kehidupan sosial agar interaksi sosial dapat berlangsung dengan baik. Tetapi dalam matematika, lebih luas lagi dalam ilmu pengetahuan terutama sains, perilaku patuh dan tertib akan memasung kreatifitas anak. Kalau anak mampu membuat aturan di luar aturan yang sudah baku dalam menjumlahkan atau mengurangkan, maka menurut penilaian kurikulum 2013 anak itu tidak menunjukkan perilaku patuh dan tertib, aneh sekali.

Kita mengetahui, dan contohnya sangat banyak, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang menjadi seperti sekarang adalah hasil kontribusi dari sejumlah orang yang tidak mau terpaku pada aturan yang sudah baku. Galileo tidak mau terpaku pada aturan geosentris yang sudah baku selama ribuan tahun, Einstein mengembangkan relativitas khusus dengan membuang aturan baku tentang kemutlakan waktu, de Broglie melahirkan ilmu kuantum dengan mencampakkan aturan yang sudah baku mengenai keterpisahan sifat partikel dengan gelombang. Ian Wright menciptakan pesawat terbang dengan tidak mempercayai bahwa hanya burung yang dapat terbang.

Galileo, Einstein, de Broglie, Ian Wright, adalah orang-orang yang tidak menunjukkan perilaku patuh dan tertib, menurut penilaian kurikulum 2013. Kurikulum 2013 tidak menginginkan manusia pendobrak, hanya ingin menghasilkan manusia penurut yang manut.

Tetapi menteri pendidikan tetap bersikeras bahwa kurikulum 2013 sudah sangat baik, dan sudah sangat siap diimplementasikan, meski sejumlah data dan analisis ahli menunjukkan sebaliknya. Ada apa?.

Apakah kengototan ini berkaitan dengan jumlah anggaran perubahan kurikulum yang sebesar Rp 2,4 triliun, jumlah yang sangat besar tentunya. Jika demikian halnya, kurikulum 2013 hanya sebuah proyek untuk mengeruk uang rakyat.

Dan adakah hubungannya dengan kebutuhan dana yang sangat besar dalam rangka menghadapi Pemilu 2014?

Astagafirullah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Transjakarta vs Kopaja AC, Pengguna Jasa …

Firda Puri Agustine | | 31 October 2014 | 12:36

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | | 30 October 2014 | 22:57

Juru Masak Rimba Papua Ini Pernah Melayani …

Eko Sulistyanto | | 31 October 2014 | 11:39

Green Bay dan Red Island Beach, Dua Pesona …

Endah Lestariati | | 31 October 2014 | 11:47

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 4 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 5 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 5 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Demokrasi Pasar Loak …

Budhi Wiryawan | 7 jam lalu

Pak Jokowi Tolong Fokus pada Potensi, Sambil …

Thomson Cyrus | 7 jam lalu

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | 7 jam lalu

Transjakarta VS Kopaja AC, Pengguna Jasa …

Firda Puri Agustine | 8 jam lalu

Kasus MA, Pornografi dan Siapa Para …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: