Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Herdian Armandhani

Kalau Tidak Mampu untuk Menjadi Pohon Beringin yang Kuat untuk Berteduh, Jadilah Saja Semak Belukar selengkapnya

Menyikapi Ritual Doa Bersama Sebelum Ujian Nasional 2013

HL | 09 April 2013 | 19:26 Dibaca: 1130   Komentar: 0   2

1365519690211772794

Ilustrasi/Admin (kompas.com)

Ujian Nasional (UN) 2013 sudah di depan mata. Sebuah sekolah khususnya siswa-siswi di Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah jauh-jauh hari mempersiapkan strategi agar dapat lulus dengan nilai yang memuaskan. Guru-guru dan staff yang mengajar di SMA menggenjot siswanya dengan tambahan jam pelajaran atau les yang diadakan di sekolah setiap hari dalam seminggu. Siswa-siswi yang duduk di bangku sma ini juga ikut bergabung di lembaga pendidikan di luar sekolah agar lebih memantapkan nilai UN yang akan di gelar nanti. Jam bermain para pelajar sma ini juga mulai dikurangi, dan meningkatkan jam belajar mata pelajaran yang akan diujikan secara serentak di seluruh Indonesia ini.

Ada ritual khusus yang kebanyakan sering dilakukan oleh pihak sekolah selain yang disebutkan di awal mula tulisan ini yakni kegiatan doa bersama. Doa bersama pada umumnya merupakan wujud permohonan para siswa-siswi sma di sekolah kepada Tuhan Yang Maha Esa agar nantinya saat ujian nasional berlangsung diberikan kemudahan untuk menjawab, pikiran menjadi fokus, segala rintangan soal yang dirasa cukup berat untuk dijawab menjadi ringan serta menambah semnagat untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Namun, sangat disayangkan di sekolah-sekolah yang mengadakan doa bersama dari hasil pengamatan menulis saat menyaksikan tayangan di televisi sangat bertolak belakang. Para siswa-siswi yang melakukan doa bersama oleh penceramah yang diundang oleh pihak sekolah malahan membuat para anak didik di sma menangis meraung-raung bak kerasukan mahkluk gaib dan pingsan tak kuasa menahan kesedihan.

Miris juga melihat kegiatan doa bersama seperti menjatuhkan mental para pelajar ini. Sedikit membagi pengalaman saja saaat dahulu duduk di bangku kelas 3 sma, sebelum menjelang ujian nasional para siswa memang diadakan doa bersama tetapi tidak ada cerita para siswa di sma penulis sampai meraung-raung seperti adegan sinetron televisi. Di Bali siswa-siswi yang menganut keyakinan Hindhu secara bersama-sama melakukan kegiatan sembahyang di Pura yang ada di sekolah ataupun Pura-Pura besar yang ada di Bali. Sedangkan bagi yang menganut keyakinan islam, nasrani, atau Budha melakukan doa bersama sederhana.

Seharusnya doa bersama yang dilakukan pihak sekolah lebih menitikberatkan dengan memotivasi siswa-siswa yang akan “berperang” diujian nasional agar mental mereka tidak down dan siap menyongsong masa depan yang cerah selepas lulus di masa-masa putih-abu ini. Pihak sekolah harusnya menceretikan orang-orang sukses di luar sana yang selepas lulus dari sma bisa berkiprah danbermanfaat bagi orang banyak. Misalnya saja cerita tentang kesuksesan Merry Rianna dengan mimpi sejuta dollarnya atau pengusaha muda sukses yang berhasil menciptakan lapangan kerja. Jangan sampai ritual doa bersama memperkerdil jiwa para peserta didik kita. Salam

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Naik Mule di Grand Canyon …

Bonekpalsu | | 26 July 2014 | 08:46

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Gaya Menjual ala Jokowi …

Abeka | 7 jam lalu

Jenderal Politisi? …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Tuduhan Kecurangan Pilpres dan Konsekuensi …

Amirsyah | 7 jam lalu

Gugatan Prabowo-Hatta Tak Akan Jadi Apa-apa …

Badridduja Badriddu... | 8 jam lalu

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: