Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ahmad Ilyas S.ag

Penceramah,Pendidik, Presenter, Penulis Mimbar Jum'at Harian Sumut Pos

Jabatan Itu Amanah, Bukan Penghormatan

OPINI | 10 April 2013 | 17:18 Dibaca: 181   Komentar: 0   1

Sesungguhnyakami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, makasemuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akanmengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusiaitu amat zalim dan amat bodoh.

(QS.Al Ahzab: 72).

Amanah yangdibeban Allah kepada hambanya itu bermacam-macam. Di sini amanah sinonim dengankewajiban dan beban seorang pribadi. Secara umum amanah itu dibagi menjadi dua;amanah individu dan sosial. Amanah bersifat individu misalnya amanah fitrah.Dimana Allah menjadikan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada tauhid,kebenaran, dan kebaikan. Tugas manusia adalah menjaga dan melestarikanfitrahnya agar senantiasa selaras dengan syariat Allah dan waspada terhadapdorongan hawa nafsu agar tidak menyimpang. (Al-A’raf: 172). Amanah individulainnya, adalah amanah taklif syar’i, dimana setiap hamba yang sudahmemenuhi syarat tertentu dibebankan menunaikan kewajiban syariat Allah. Selainitu amanah individu ada amanah tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama).Di satu sisi ini bertujuan menjaga agama itu sendiri dari campur tanganmanusia. Di sisi lain ia sebagai rujukan manusia dalam urusan agama.

Tidaklah sepatutnya bagiorang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidakpergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalampengetahuan mereka tentang agama.” (At-Taubah: 122)

Sementaraamanah bersifat sosial adalah amanah dakwah. Setiap Muslim berkewajibanmenyampaikan Islam kepada masyarakat. Tujuannya adalah membangun masyarakatMuslim sesuai dengan aturan Allah. Sehingga ia mampu menunaikan amanah lebihbesar yakni amanah untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Tujuannya agarmanusia tunduk hanya kepada Allah Ta’ala dalam segala aspekkehidupannya.

Menyerahkan Urusan YangBukan Amanah

Menunaikanamanah bukanlah pekerjaan ringan. Bahkan langit, bumi dan gunung-gunung tidak mampu mengembannya. Allah swt berfirman:

Sesungguhnya kami telahmengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya engganuntuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dandipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim danamat bodoh.” (Al Ahzab: 72).

Manusiadiberi beban amanah kerena ia memiliki kemampuan berbeda dengan benda-bendapadat. Manusia memiliki hati dan akal fikiran, keimanan, perasaan kasih sayangempati kepada sesama yang mendukungnya menunaikan amanah. Amanah itu menentukannasib sebuah bangsa. Jika setiap orang menjalankan tugasnya dengan penuh amanahdan tanggungjawab maka selamatlah mereka. Sebaliknya jika diselewengkan makahancurlah sebuah bangsa. Sehingga Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya,

“Bila amanah disia-siakan,maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?.Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidakberkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (Bukhari dan Muslim).

Namun demikianamanah itu memiliki tingkatan dan kadar berat ringannya. Beratnya amanahdipengaruhi oleh faktor kapabilitas dan ruang lingkup dan cakupan penunaiannya.Semakin tinggi kapabilitas, jabatan dan luas ruang lingkup seseorang, makasemakin berat pula amanahnya. Di sini bisa katakan bahwa amanah kepemimpinanadalah paling berat. Tak heran bila ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkanamanah seperti di atas lebih ditujukan kepada para pemimpin, pejabat publik,dan penegak hukum. Karenanya, Islam memiliki perhatian besar terhadap masalahyang satu ini.

Dalam halamanah jabatan (apakah sebagai anggota DPRD, Camat, Bupati/Walikota, Gubernur,Menteri atau  bahkan Presiden) bukanlahsesuatu yang diminta-minta atau dengan mengemis-ngemis apalagi dikejar dengansegala cara tanpa mempedulikan prinsip-prinsip agama. Sebab jabatan melahirkankekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalammenjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang,hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya,digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dansewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dariAllah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia. Karena itupula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi sawbersabda:

Wahai Abu Dzarr, kamulemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan danpenyesalan di hari kemudian, kecuali orang yang memang berhak dan menunaikanamanah itu.” (H. R. Muslim).

Oleh karenanya,para ulama yang memiliki perhatian besar terhadap kepemimpinan dan politikIslam rata-rata memiliki buku khusus menguraikan hal ini. Ibnu Taimiyahmisalnya memiliki buku “Al-ahkam as-sulthaniyah” (hukum-hukum terkaitkekuasaan). Di dalamnya Ibnu Taimiyah menguraikan urgensi kepemimpinan,”Penunjukkan seseorang sebagai pemimpin merupakan salah satu tugas agama yangpaling besar. Bahkan agama tidak akan tegak, begitu juga dunia tidak akan baiktanpa keberadaan pemimpin. Kemaslahatan umat manusia tidak akan terwujudkecuali dengan menata kehidupan sosial, karena sebagian mereka memerlukansebagian yang lain. Dalam konteks ini, kehidupan sosial tidak akan berjalandengan baik dan teratur tanpa keberadaan seorang pemimpin”.

Terkait halyang sama Imam Ghazali menegaskan, “Dunia adalah ladang akhirat. Agamatidak akan sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah kembaran.Agama adalah tiang sedangkan penguasa adalah penjaganya. Bangunan tanpa tiang akanroboh dan apa yang tidak dijaga akan hilang. Keteraturan dan kedisiplinan tidakakan terwujud kecuali dengan keberadaan penguasa”.

Inilah yangmenjadi alasan kenapa pemimpin itu memiliki amanah lebih berat di bandinglainnya. Semakin tinggi cakupan kepemimpinannya semakin berat amanahnya. Itujuga diperjelas dengan sabda Rasulullah Saw: “Setiap kalian adalahpemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelakiadalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawabantentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atasanak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hambaadalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawabantentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentangkepemimpinannya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa memilih seseorang menjadipemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebihdiridlo’i Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepadaAllah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”

Sebagianbesar orang lebih memahami jabatan dan pangkat sebagai penghargaan danpenghormatan serta prestisius ketimbang sebagai amanah dan tanggungjawab.Sehingga di negeri ini amanah kepemimpinan dan jabatan diperebutkan secara massiv.Tokoh dan pemimpin berlomba-lomba memperebutkan amanah itu. Masyarakat tidakmemiliki jalan lain kecuali harus memilih mereka. Namun sebagai muslim tetapharus berperasangka baik kepada mereka bahwa itu dalam rangka kompetisi dalamkebaikan. Tugas kita adalah mengenal dan memiliki informasi watak, trackrecord, moral, visi misi calon-calon pemimpin bangsa itu. Apakah watak danmoralnya diharapkan mampu mengemban amanah atau berpotensi menyimpang. Apakahvisi dan misinya ingin menegakkan syariat Allah di bumi ini sehingga menjadinegeri makmur “Gemah Ripah loh Jinawi” yang diberkahi Allah? Ataukah justrumempersempit ruang penerapan syariat Islam di segala bidang. Semoga tulisan inibermanfaat bagi para caleg yang akag berkompetisi di pemilu legislative 2014yang akan datang. Wallahu a’lam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

“Blocking Time” dalam Kampanye …

Ombrill | | 24 April 2014 | 07:48

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 7 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 8 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 9 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 10 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: