Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Armand

Lahir di Polmas-Sulbar. Penulis Buku: "Remaja & Seks". ILUNI. Mengajar di Universitas Sultan Hasanuddin, Makassar-Sulawesi selengkapnya

4 Fakta Miris di Perguruan Tinggi

OPINI | 11 April 2013 | 10:52 Dibaca: 4871   Komentar: 188   32

INI makna memublikasi aib institusi sendiri, memamerkan ‘kecelakaan-kecelakaan’ di hadapan dunia. Saya tak sanggup lagi mendiamkannya. Gamang saya. Saya mencermatinya berpuluh tahun, terasa saya sesak, menyesal dan nyaris asa terputus.

Dan inilah  4 (empat) fakta stagnannya perguruan tinggi di Indonesia:

Pertama: Orientasi Dosen

Student Centre Learning (SCL) pernah ditabuh sekeras-kerasnya, proyek milyaran dari APBN ini, spartan dihelat di tanah air. Seluruh staf pengajar di PTN di- high recommended- kan untuk mengikuti ‘kursus’ ini secara terpadu, sepenuhnya, integrated. Tugas memformulasi deskriptor per matakuliahpun menjadi titik baliknya pembelajaran dari teknik klasik (Socratik) menjadi metode student centre. Revolusi pembelajaran ini mendaulat peserta didik (mahasiswa/i) di atas segalanya. Mahasiswa yang dimohonkan untuk super aktif dalam/luar ruangan kuliah. Dosen ‘hanyalah’ fasilitator.

Faktanya:

Dosen masih seperti yang dulu, lebih banyak bicaranya, cuap-cuapnya, jualan kecap, berorasi, pidato, ceramah, kuliah tanpa kesimpulan, tanpa bonus motivasi dan tanpa pengungkapan dunia ilmu pengetahuan dan fakta lapangan. Mahasiswa masihlah marginal, tetap pada posisi pasif dan kuliah hanyalah persyaratan administrtatif, formalitas dan yang penting sarjana.

Kedua: Research is money

Sejak saya masih jadi dosen muda, fakta ini terlentang telanjang, bahwa dosen berlomba dan berkompetisi dalam penelitian hanya karena orientasi uang, kompetisi ini tidak ilmiah. Ia ‘alamiah’ dan motif materialism sangat kental di ajang ini. Proposal riset tak lebih dari sebuah persyaratan administratif, selanjutnya teknik yang dioptimalkan bagaimana lobi-lobi di tingkat Lembaga Penelitian, pun LPPM (Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat). Saya sanggup bertaruh dengan siapa saja, jika kegiatan ini murni ‘lolos proposal’ disebabkan keaslian konsep dari calon peneliti. Maka, pantaslah jika ‘bank proposal’ perguruan tinggi tak dilirik dunia internasional.

Ketiga: Profesor tak berdaya

Benar juga satire ini, konon profesor itu GBHN (Guru Besar Hanya Nama), sangat jarang saya temukan profesor memiliki ‘kader’ dalam keilmuan, sungguh langka saya temukan seorang profesor dengan uletnya memindahkan ilmunya kepada juniornya, ia hanya mampu mengungkapkan jibunan teori orang lain dan dipaparkan kepada anak didiknya. Bahkan seorang Habibie pun, tiada pernah saya melihat kekayaan ilmunya telah diwariskan kepada generasi pelanjut. Generasi pelanjut, tinggallah terkagum-kagum atas kecerdasan seorang Habibie. Sementara Habibie belum pernah merasa bangga kepada seseorang yang telah mengambil seluruh ilmunya. Malah yang kerap saya cermati, orang-orang ingin mengadopsi romatisnya Habibie-Ainun, bukan dari sisi keluasan ilmu dan konsep-konsep teknologinya.

Ke-empat: Benchmarking

Konsep ini sangat cerdas, konsep yang menawarkan bagaimana institusi perguruan tinggi mengomparasi dirinya dengan diri orang lain, dengan universitas-universitas yang lebih maju, lebih unggul. Selanjutnya bahan-bahan, metode-metode pembelajaran di perguruan tinggi unggul itu, dibawa pulang ke tanah air dan di try out.

Faktanya: benchmarking itu disulap menjadi ajang rekreasi, refreshing dan ‘jalan-jalan biasa’. Dan ‘cerita’ yang berkembang bukanlah pada sisi science yang telah diperoleh di ajang benchmarking, melainkan candaan bagaimana seksinya gadis-gadis Thailand, uniknya pria-pria India dan mahalnya tiket tempat hiburan malam. Belum lagi kisah aneh bin ajaib, akrobatiknya penari-penari streaptease yang mengeluarkan benda-benda tajam dari alat vitalnya semisal silet dan tutup botol. Ahay….!!!

1367214113825567365


Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 7 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 7 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 13 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Gerakan Desa Membangun: Sebuah Paradigma …

Yulio Victory | 7 jam lalu

Berbagai Pandangan “Era Baru Polri Dibawah …

Imam Kodri | 7 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 7 jam lalu

Pak Anies, “Tolong Selamatkan …

Nur Fatma Juniarti | 7 jam lalu

Resensi Buku Revolusi dari Desa: Saatnya …

Marya Rasnial | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: