Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Puji Nurhidayati

Seorang yang suka membaca

Indonesia Mengajar VS 100 CLC di Sabah

OPINI | 11 April 2013 | 12:25 Dibaca: 365   Komentar: 5   2

Indonesia Mengajar VS 100 CLC di Sabah

Saya mengetahui Indonesia Mengajar, dari media. Sebuah gebrakan yang sangat hebat dari salah satu putra bangsa di negeri ini.Bp Anies Baswedan.Selanjutnya untuk mengetahui lebih jelas mengenai Indonesia Mengajar, Saya membeli bukunya di Gramedia. Gerakan yang sangat keren menurut saya, ditengah hiruk pikuk Pemerintahan yang kian tidak jelas, ternyata ada satu Gerakan anak bangsa yang masih peduli dng Siswa2 Penerus bangsa di pelosok Negeri.
Saya mengetahui bahwa Anak TKI di Malaysia tidak bisa bersekolah di Sekolah Malaysia, secara tidak sengaja ketika saya melakukan perjalanan pribadi (Liburan) ke sebuah wilayah di Kota Kinabalu (Sabah ) Malaysia. Selama ini saya kemana saja ya..?hehe.dari KJRI Kinabalu saya memperoleh informasi, bahwa banyak anak TKI yang tidak mampu sekolah di Sekolah Malaysia karena ketiadaan biaya.Sedangkan Sekolah Indonesia yang ada di Sabah itu jumlahnya terbatas.Setelah saya searc di Mbah gugle, ternyata informasi itu benar adanya.Bahwa banyak anak TKI di Sabah yang tidak memperoleh pendidikan karena ketiadaan biaya dan terbatasnya Sekolah Indonesia di Sabah.KJRI Kinabalu akhirnya mempelopori pendirian CLC-CLC di Sabah demi memberikan akses pendidikan dasar bagi anak-anak Indonesia di Sabah yang jumlahnya lebih dari 40.000 siswa.Bahkan KJRI Kota Kinabalu mentargetkan pendirian 100 Community Learning Centre (CLC) di pusat-pusat perladangan sawit di seluruh pelosok Sabah di tahun 2012 ini.

Dari kedua kasus tersebut, Kedua Gerakan dan Gebrakan yang sama2 mulia, Saya (dan Kemungkinan Masyarakat )cenderung lebih mengetahui Gerakan Indonesia Mengajar daripada Gerakan 100 CLC di seluruh Pelosok Sabah. Gerakan Indonesia Mengajar di Pelopori oleh Non Pemerintahan dan Gerakan 100 CLC d Seluruh Pelosok Sabah di Pelopori oleh Pemerintah (dalam hal ini di wakili oleh KJRI Kinabalu).
Gerakan Indonesia mengajar, Gaungnya sangat terdengar karena di Twitter Pelopor dan Pendirinya juga rajin men tweet informasi2 yang berhubungan dengan indonesia mengajar.Bahkan Indonesia mengajar memiliki Account tersendiri. Para pengajar Muda juga banyak yang suka men Tweet informasi mengenai IM. Selain itu IM juga menerbitkan buku yang berisi kumpulan cerita dari Pengajar IM.dari buku tersebut kita bisa mendapat gambaran yang sangat jelas mengenai keberadaan sekolah di seluruh pelosok negeri ini ( Sekolah yang ada IM nya ), Kondisi sekolah dan Murid. Dari buku tsbt kita menjadi tahu, Bahwa masih banyak Sekolah di pelosok negeri ini yang keadaannya sangat memprihatinkan, dari segi fasilitas (Buku, Tenaga Pengajar dan Akses transportasi serta informasi yang sangat terbatas).Dari buku tsbt kita bisa terbuka, bahwa masih banyak pe er yang harus diselesaikan oleh negara ini yang sebelumnya tidak kita ketahui secara gamblang.Pendidikan masih belum merata bagi seluruh rakyat indonesia.Jempol seribu buat para pahlawan tanpa tanda jasa yang sudah mau berkecimpung, mendidik anak2 bangsa dengan gaji alakadarnya, Fasilitas alakadarnya, Wilayah yang juga alakadarnya (Wilayah terpencil, Akses jalanan banyak yang rusak bahkan kadng sinyal HP tidak ada).
Gerakan 100 CLC yang di pelopori oleh KJRI.yang secara umum gambaran gerakannya hampir sama dng IM.Sama2 bergerak dibidang pendidikan. Secara fasilitas juga sama2 terbatas, Tempatnya juga banyak yang terpencil (ditengah2 ladang sawit).Muridnya juga sama2 dari kalangan tidak berada (anak dari Pekerja TKI yang mjd buruh di Ladang sawit).Hanya sayangnya utk Gambaran lebih jelasnya kita tidak akan pernah tau karena tidak ter dokumentasi didalam sebuah buku seperti yang dilakukan oleh IM. Gaungnya di Twitter dan di Media massa juga kurang.Mungkin sebagian orang berpikir, itu sudah kewajiban pemerintah untuk memfasilitasi bahkan menyediakan Pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat indonesia. di Sabah juga banyak dibantu oleh LSM asing , Humana salah satunya.Secara detailnya saya juga kurang tau, siapa lagi selain Humana dan Pemerintah yang membantu memfasilitasi sekolah2 anak TKI.
Kalau membaca buku IM, cerita mengenai sekolah, murid2nya dan lingkungannya.Jujur sangat trenyuh dan sangat mengapresiasi para guru yang mendedikasikan hidupnya untk anak bangsa. dari cerita teman saya guru di Sabah dan se penglihatan saya waktu berkunjung ke Kota Kinabalu bertepatan dng acara di KJRI Kinabalu yang mengadakan Pengenalan Permainan tradisional dengan mengundang komunitas wong. Bayangan saya ttg murid2 di IM hampir sama dng murid2 di CLC Sabah.bahkan di CLC itu saya lihat anak yang sudah besar2 itu masih kelas satu or dua SD.karena sebelumnya mungkin blm ada sekolahan.Hanya sayangnya kita tidak mendapat gambaran mengenai Gerakan ini karena guru2 yang ada disana membuat satu cerita mengenai masing2 sekolah dan murid tempat mengajar seperti yang dilakukan oleh IM.yang sudah menerbitkan Buku Indonesia mengajar dan Indonesia Mengajar 2.
Dari Gerakan IM dan 100 CLC utk WNI di Sabah, ternyata Pendidikan masih belum merata.jangankan di tempat terpencil atau di LN yang akses sekolah utk WNI susah , Di tempat yang tidak terpencilpun ( seperti yang tertulis di Kompasiana Maila Al Ja’Far yang menulis Sekolah Bagus di Indonesia Harganya Selangit ).Indonesia lebih liberal dari Negara yang liberal itu sendiri.karena untuk mendapatkan sekolah yang bagus itu hanya lah orang2 yang berkantong bagus (utk lebih jelasnya bisa dibaca sendiri tulisan tsbt di Kompasiana yang sangat inspiratif ). Saya berharap kedepannya Pemerintah lebih Aware masalah pendidikan bagi seluruh rakyat indonesia. yang mampu memutus mata rantai kemiskinan itu adalah Pendidikan. Betapa hebatnya indonesia kalau bisa meniru Pemerintah Jerman dalam hal memberikan kesempatan sekolah kepada anak bangsanya.dengan SDM yang banyak, berkualitas dan SDA yang melimpah bisa dikelola sendiri dengan baik dan disalurkan secara benar.Selain Pendidikan, Gerakan Menulis dan Membaca juga bisa dilakukan untuk mentransfer Ilmu, Pengetahuan dan Pengalaman yang tidak bisa dimiliki oleh semua orang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

PKS Pecundang Menolak Pilkada Langsung …

Damang Averroes Al-... | 4 jam lalu

Jusuf Kalla Sebaiknya Belajar dari Ahok …

Relly Jehato | 6 jam lalu

Wanda Hamidah Bukan Ahok …

Mawalu | 8 jam lalu

Ini Kepemimpinan Ala Jokowi …

Sjahrir Hannanu | 8 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: