Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hukum & Tataruang Alam

OPINI | 12 April 2013 | 16:19 Dibaca: 111   Komentar: 1   0

Alam sebenarnya telah memiliki hukumnya sendiri, kemampuan manusia hanya sebatas merekayasa sebahagian kecil dan bahkan tidak dapat merubah apalagi menghentikan proses yang sudah menjadi hukumnya. Segala perubahan yang terjadi pada alam pada dasarnya adalah proses pembahuruan yang mungkin dapat dikatakan sebagai sebuah proses penyeimbang agar kelangsungan hidup dan kehidupan dialam dapat terus berlangsung dengan baik.

Bila diperhatikan maka dapat ditemukan bukti-bukti bahwa proses alamiah alam adalah proses yang terbaik, segala usaha perubahan yang dilakukan jelas hanya akan mengganggu proses tersebut dan berakibat pada ketidakseimbangan dan mengakibatkan pada perubahan pola dan dapat berdampak pada ancaman bagi umat manusia.

Contoh proses alamiah yang terjadi di alam sebagaimana air mengalir pada sungai yang berhulu dari pegunungan, seluruh pegunungan ditumbuhi oleh pepohonan sebagai perekat tanah pada lapisan padat dibawahnya dan dapat menahan air hujan, dan dengan demikian air yang tertahan di tanah tidak menyebabkan longsor dan dikeluarkan secara berlahan dan membentuk sungai sungai dan bermuara di laut, dan biji-biji pepohonan yang jatuh kesungai terbawa arus sampai ke laut dan diantar oleh ombak hingga mencapai tepi pantai, dan dapat dilihat banyaknya pepohonan yang tumbuh secara alami di pinggiran pantai dan jelas dapat mencegah abrasi pada bibir pantai, dan pada keadaan ekstrim dapat juga berfungsi sebagai tembok penahan gelombang tsunami. Pada pertemuan ahli ekologi dunia di India yang berakhir pada 2 Februari 2005 menyimpulkan bahwa hutan mangrove secara nyata mengurangi dampak tsunami di pesisir pantai Asia. Manfaat lain tumbuhan di pinggir pantai juga untuk mempermudah manusia mengambil manfaat laut seperti ikan untuk untuk kebutuhan konsumsi.

Dari contoh diatas sebenarnya alam telah memiliki cara penyelamatan manusia dari setiap proses alaminya, tetapi karna kerusakan yang telah dibuat oleh manusia sejak zaman purbakala sampai pada saat ini sehingga alam kehilangan keseimbangan yang mengakibatkan pada bencana bagi umat manusia.

Dalam Al-quran telah dituliskan bahwa sesungguhnya bencana itu terjadi karna ulah manusia, mungkin banyak yang berfikir bahwa bencana yang terjadi selama ini diakibatkan oleh manusia dari segi Ilahiyah, bencana terjadi sebagai adzab karna umat telah mengabaikan perintah dan larangan Allah, sungguh ironi membayangkan tuduhan itu dilontarkan kepada anak-anak korban bencana Alam seperti tsunami di Aceh yang terjadi pada tahun 2004 silam, mereka tidak berdosa dan bahkan mereka mungkin belum sempat berbuat apa-apa.

Banyak kalangan dan bahkan ulama sekalipun menyimpulkan bahwa kehidupan masyarakat Aceh pra bencana tsunami sudah melenceng dari syariat islam, sehingga seolah mengisyaratkan bahwa mereka para korban memang layak menerima bencana tersebut.

Memang benar bencana itu terjadi karna ulah manusia, karna itu ungkapan yang tertuang dalam Al Quran, tapi tidaklah sedangkal dan semudah itu mengartikannya, ulah manusia mana yang menyebabkan ini terjadi..? dan ulah yang bagaimana yang telah mendatangkan bencana ini..? Dua pertanyaan ini yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan untuk memutuskan akibat besarnya dampak tsunami di Aceh.

Hasil simulasi dalam penelitian menunjukkan bahwa faktor utama yang berpengaruh terhadap kerusakan bangunan akibat tsunami adalah jarak pemukiman dari pantai. Pada tsunami tahun 2004 jarak aman dari pantai adalah 3,5 km, sehingga pemukiman yang berada pada jarak tersebut atau lebih, terhindar dari bahaya tsunami.

Vegetasi yang berada antara laut dan pemukiman secara nyata membantu mengurangi jumlah korban akibat tsunami antara 3% sampai 5% tergantung jenis vegetasinya. Jumlah korban pada pemukiman yang di depannya masih terdapat hutan, 8% lebih rendah bila dibandingkan dengan yang tidak berhutan. Sementara, pemukiman yang di depannya terdapat kebun campuran atau kebun karet, jumlah korban lebih sedikit sekitar 3% dan 5%. (Bayas, JCL, Marohn, C., Dercon G, Dewi S, Noordwijk, M, Cadisch G. 2011. Influence of coastal vegetation on the 2004 tsunami wave impact in West Aceh).

Pada saat sekarang ini, masyarakat seolah sudah melupakan kejadian tsunami tahun 2004 lalu, pemerintah juga sepertinya melakukan pembiaran atas hal tersebut, ini dapat dilihat dengan kembalinya pemukiman disekitar pantai dan tidak ada usaha untuk menjauhkan pembangunan dari daerah pantai, hasil penelitian yang telah menjelaskan radius aman tsunami juga mungkin tidak menjadi pertimbangan dalam tata ruang untuk Aceh kedepan.

Hasil penelitian tersebut sudah dapat menjelaskan faktor terjadinya bencana tsunami di Aceh, dengan demikian pada saat sekarang ini seharusnya perhatian pemerintah lebih berkonsentrasi pada tata ruang yang berbasis bencana, sehingga diharapkan siklus peristiwa alam yang terjadi tidak lagi menjadi bencana untuk generasi mendatang, selain pembuatan tata ruang yang baik sangat penting juga kiranya mengembalikan tata ruang alam seperti semula, biarlah kawasan hutan tetap menjadi hutan, biarlah kawasan resapan air menjalankan fungsinya, dan biarkanlah pemandangan pantai tetap berdampingan dengan pepohonan yang selalu bergoyang menyambut angin laut. Jangan biarkan hukum alam menjadi bencana dan berharap alam semakin bersahabat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 9 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 13 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: