Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mochamad Syafei

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pernah juga mengajar di SMP N 228 Jakarta. Suka Menu selengkapnya

Sepenggal Harapan Seorang Guru kepada Pak Mendikbud

OPINI | 12 April 2013 | 09:39 Dibaca: 310   Komentar: 2   0

Sudah berbulan-bulan, kami disuguhi pemberitaan tentang kurikulum baru. Namun sayangnya, berita yang muncul tentang kurikulum itu lebih banyak yang bersifat negatif. Sehingga, saya sebagai seorang guru yang pada akhirnya harus menyukseskan penerapan sebuah kurikulum menjadi penasaran. Saya, dan beberapa teman sering bertanya jawab tentang kurikulum baru ini, terutama bila ada kesempatan berkumpul di kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Hanya saja, di antara kami, lebih banyak tidak tahunya dari pada tahunya. Karena rata-rata dari guru mengetahui kurikulum baru dari pemberitaan yang bernada negatif itu. Saat kami mencoba mencari sumber-sumber secara daring pun yang kami temui hanya kurikulum dalam garis besarnya. Padahal, kami membutuhkan juga Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dari mata pelajaran yang kami ampu.

Pada waktu kurikulum KTSP, kami sudah mengetahui dan bahkan sudah dilatih, baik oleh pemerintah maupun mandiri melalui MGMP, jauh sebelum kurikulum itu diberlakukan. Bahkan beberapa kali, kami mengunjungi SMP N 73 Jakarta yang pada saat itu dijadikan proyek percontohan pelaksanaan kurikulum baru tertsebut. Kami berdiskusi tentang kurikulum baru itu dengan guru yang sudah melaksanakannya. Kami memahami kelebihan dan kekurangan kurikulum baru itu, jauh sebelum kurikulum itu diberlakukan.

Kurikulum, bukan hanya rangkaian huruf dalam sebuah lembaran kertas. Kami betul-betul meyakini itu. Kurikulum juga mengandung paradigma pemelajaran. Perubahan kurikulum berarti juga perubahan paradigma guru sebagai penerap di lapangan. Tanpa, perubahan pada diri guru, maka perubahan kurikulum hanya akan berhenti pada lembaran kertas belaka. Pendidikan akan berjalan sama seperti tak ada apa-apa.

Oleh karena itulah, Pak Menteri. Jika memang, kurikulum baru belum siap untuk dilaksanakan pada tahun ajaran baru tahun 2013 ini, tak ada salahnya jika penerapan kurikulum ditunda. Persiapkan sebagik mungkin, guru-guru agar mampu menerapkan kurikulum sebagaimana tujuan kurikulum baru ini dibuat. Guru-guru, tidak sepandai mereka yang dengan semangat tinggi membuat kurikulum baru. Ada keterbatasan pemikiran yang ada pada diri kami, sehingga kami ingin memiliki waktu lebih agar bisa betul-betul memahami kurikulum baru, bukan hanya dari bunyi kata-kata yang tertera belaka, tapi juga memahami hingga ke landasan-landasan filosofisnya.

Jangan sampai, nanti pada akhirnya, kami disalahkan lagi sebagai penyebab ketidakberhasilan penerapan kurikulum baru. Sudah lama kami malu, melihat pendidikan yang kami jalani dinilai sebagai belum berhasil. Padahal, kami sudah melakukannya dengan sepenuh hati. Apalagi, kami juga sudah diberi penghargaan oleh pemerintah melalui pemberian uang sertifikasi. Walau pada tiap tahunnya selalu ada saja yang menghambat hingga uang itu tak pernah sampai ke kami sesuai dengan seharusnya. Tapi tetap saja, kami malu kalau pendidikan yang kami lakukan masih belum memenuhi harapan rakyat negeri ini.

Oh, iya, Pak Menteri. Setiap kali saya bertemu dengan guru TIK, selalu saja saya melihat wajah mendung mereka. Ini, gara-gara kurikulum baru menghapus pelajaran yang mereka ampu selama ini. Mereka seperti terbuang begitu saja. Mungkin juga, perasaan serupa dialami oleh teman-teman guru yang mengajarkan bahasa daerah di luar Jakarta. Mereka seakan menjadi tak berguna. Sementara, untuk pelajaran baru, sekolah juga akan bingung mencari gurunya. Sehingga sekolah hanya akan menggunakan guru tanpa jam, misalnya saja guru TIK untuk mengajar mata ajar prakarya. Kalau seperti ini, apakah Bapak masih enak hati melihat dampak kurikulum yang seakan memangkas masa depan mereka?

Pak Menteri, mungkin terlalu lancang perrmintaan saya yang hanya guru SMP ini. Tapi, mohon dipertimbangkan sebaik-baiknya penerapan kurikulum baru ini.

Tulisan ini akan kami akhiri dengan doa. Doa seorang guru yang masih terus optimis. Optimis pada kemajuan pendidikan. Semoga pendidikan negeri ini semakin baik lagi. Amiiin.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 3 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 13 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 13 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Mati Karena Oplosan dan Bola …

Didi Eko Ristanto | 7 jam lalu

Ketika Lonceng Kematian Ponsel Nokia …

Irawan | 7 jam lalu

Catatan Terbuka Buat Mendiknas Baru …

Irwan Thahir Mangga... | 7 jam lalu

Diary vs Dinding Maya - Serupa tapi Tak Sama …

Dita Widodo | 7 jam lalu

Nama Kementerian Kabinet Jokowi yang Rancu …

Francius Matu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: