Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Wulandari

*kerumitan manusia itu tidak ada taranya di muka bumi, dia lebih rumit dari makhluk apa selengkapnya

Sosok [Guru] pada Iklan Komersial

REP | 12 April 2013 | 00:44 Dibaca: 232   Komentar: 0   0

Berawal dari keprihatin seorang teman yang berprofesi sebagai seorang pendidik (dosen) yang melihat sinetron dan iklan dengan memposisikan peran guru sebagai sosok lelucon untuk humor yang kurang mendidik, dan kemudian beliau mengangkat penelitian tersebut.
Berikut sedikit ulasan mengenai seminar yang diadakan secara internal, mengenai Melek Media: Profesi Guru pada Iklan Televisi Komersial

1365701903435099801

Melek Media (foto: Wulan)

Guru adalah sosok yang harus digugu dan ditiru, maka guru yang baik harus memberikan contoh yang terbaik dengan cara memberikan atau mencontohkan atas sikap dan perilakunya yang baik.

Banyak diantara iklan komersil mengangkat sosok guru yang tujuannya sebagai upaya mendekatkan produk dengan konsumennya. Sosok guru yang “tampil” dalam pesan-pesan iklan tidak lain adalah usaha tim kreatif untuk membuat pesan dengan menumbuhkan emotional benefit di audiens terhadap pesan yang diterimanya.
Pada dasarnya iklan dibuat untuk merayu atau menarik target audience secara perlahan untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh pengiklan melalui media. Namun idealnya iklan harus memiliki tanggung jawab moral kepada masyarakat, yaitu dengan memberikan pendidikan kepada masyarakat.
Salah satu iklan yang menurut ibu Rina kurang menghargai profesi seorang guru adalah iklan mie instant yang ending dari iklan tersebut memposisikan seekor ayam di atas kepalanya. Iklan tersebut secara pesan bila dilihat diawal sangat kena big ideanya, hanya saja sayangnya ending dari iklan tersebut sangat melecehkan profesi guru.
Bahkan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) sempat meminta stasiun televisi untuk memperbaiki adegan tayangan iklan tersebut sebelum tayang kembali, karena iklan tersebut tidak memperhatikan norma dan nilai yang berlaku dalam lingkungan sekolah, memperolok tenaga pendidik (guru) dan merendahkan sekolah sebagai lembaga pendidikan.

Bagi saya yang juga suka menonton iklan, penempatan profesi guru atau apapun yang tujuannya menarik konsumen sebenarnya dibalik itu semua adalah karena adanya kepentingan pasar. Maka dari itu kita sebagai konsumen haruslah melek media, artinya bisa lebih kritis dalam melakukan pembacaan terhadap pesan iklan sehingga makna-makna yang ditransfer melalui iklan dapat disikapi dan dimaknai dengan tepat, cerdas dan bijaksana.

Sumber: Makalah Seminar Dosen DKV Unindra, penulis Dra. Rina Wahyu Winarni, MSi

Tags: guru iklan media

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meredakan Kepala Pening dengan Membelah …

Agung Sw | | 04 March 2015 | 16:18

Hantu KPK Adalah …. …

Dean Ridone | | 04 March 2015 | 09:50

Angkringan Jogja: Bukan Masalah Harga, tapi …

Hendra Wardhana | | 04 March 2015 | 16:36

Belajarlah Mencintai Istri Lewat Preman …

Suci Handayani | | 04 March 2015 | 10:05

Kompasiana - SKK Migas-Kontraktor KKS Blog …

Kompasiana | | 14 February 2015 | 13:45


TRENDING ARTICLES

‘Rehabilitasi’ Nama Fatin di X …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

Sesat Pikir Ahok dan Peran DPRD DKI tentang …

Ibnu Dawam Aziz | 9 jam lalu

Amien Rais Memang Berbeda Kelas dengan …

Analgin Ginting | 9 jam lalu

Prioritas Jokowi, Konservasi Burung dan …

Felix | 10 jam lalu

Maaf, Kami Juga Muak, Mister Abbot …

Aji Maulana | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: