Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Melant

manusia biasa

Apakah Isu “Eyang Subur” Penting?

OPINI | 14 April 2013 | 10:23 Dibaca: 870   Komentar: 3   0

Akhir- akhir ini banyak media televisi maupun media online nasional rajin memblow-up issue yang beredar tentang kehadiran tokoh “Eyang Subur”. Bahkan media terlihat begitu antusias mengemas dan menempatkan berita kontrofersial tersebut menjadi berita yang begitu hangat dan fenomenal. Tentunya ini sangat menguras energi khalayak banyak untuk sekedar menyimak dan menyaksikan berita pertikaian antar kedua kubu yakniseorang guru dan eks murid. Apa yang menjadi faktor (x) penyebab permasalahan tersebut masih terkesan samar. Setelah menyaksikan episode demi episode, ternyata yang menjadi inti permasalahan adalah pengajaran yang konon menurut sang murid, gurunya adalah seorang penyebar aliran sesat.

Ilmu apa yang diajarkan sang guru tersebut terhadap muridnya sehingga bekas muridnya mengklaim dan memploklamirkan diri bahwa ajaran gurunya adalah sesat. Seperti apakah pengajaran sesat tersebut masih cinderung belum ter exspos dengan jelas dan terlihat masih bias. Kerugian apakah yang menimbulkan mantan murid tersebut hingga nampak begitu terguncang meluapkan amarahnya dengan mengeluarkan steatment yang tak sedap kehadapan publik?? Apakah secara finansial, apakah lebih bersifat privasi pribadi, apakah tidak terpenuhi janji yang diharapkan, entah mimpi buruk apa yang dialami murid sehingga menimbulkan saki hati yang begitu mendalam.

Anehnya kenapa sang guru tersebut terlihat begitu diam seribu bahasa tanpa ada pembelaan sedikitpun untuk sekedar mengcounter balik steatmen negatif yang dilontarkan bertubi-tubid dan meskipun terwakili oleh pengacara tapi cinderung kurang agresif, hanya sekedar memberi steatment balik kehadapan publik sehingga kedudukannya menjadi seimbang.

Jadi siapa yang tersakiti dan siapa yang menyakiti?? Sang gurukah atau muridkah. Suguhan ini tentunya tidak memberikan edukasi yang baik. Dimana sikap saling mengasihi, rendah hati, menghargai lebih ditonjolkan daripada sikap, permusuhan, benci, amarah. Sampai kapan drama ini berakhir hingga menimbulkan ending yang cantik?? kita lihat saja halaman berikutnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiat Belanda Urai Kemacetan Lalu Lintas …

Bawah Paras Laut ۞ | | 04 March 2015 | 22:39

Wah, Baru Setahun, BPJS sudah Defisit? …

Ilyani Sudardjat | | 04 March 2015 | 14:35

Tips Menghemat Listrik …

Ika Septi | | 04 March 2015 | 16:05

Selepas Kuliah, Mau Bagaimana? Berikut …

Gama Satria Nugraha | | 04 March 2015 | 19:07

Cerpen: Perempuan yang Menjahit Bibirnya …

Anis Kurniawan | | 04 March 2015 | 23:07


TRENDING ARTICLES

Mencermati Isu “Dana Siluman” dalam …

Amarta Jaya | 5 jam lalu

Ruki, Ketua KPK yang Penuh Kontradiktif …

Daniel H.t. | 5 jam lalu

Ical Dendam, Akan Muncul Golkar Perjuangan …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

‘Rehabilitasi’ Nama Fatin di X …

Arief Firhanusa | 11 jam lalu

Sesat Pikir Ahok dan Peran DPRD DKI tentang …

Ibnu Dawam Aziz | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: