Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Melant

manusia biasa

Apakah Isu “Eyang Subur” Penting?

OPINI | 14 April 2013 | 10:23 Dibaca: 867   Komentar: 3   0

Akhir- akhir ini banyak media televisi maupun media online nasional rajin memblow-up issue yang beredar tentang kehadiran tokoh “Eyang Subur”. Bahkan media terlihat begitu antusias mengemas dan menempatkan berita kontrofersial tersebut menjadi berita yang begitu hangat dan fenomenal. Tentunya ini sangat menguras energi khalayak banyak untuk sekedar menyimak dan menyaksikan berita pertikaian antar kedua kubu yakniseorang guru dan eks murid. Apa yang menjadi faktor (x) penyebab permasalahan tersebut masih terkesan samar. Setelah menyaksikan episode demi episode, ternyata yang menjadi inti permasalahan adalah pengajaran yang konon menurut sang murid, gurunya adalah seorang penyebar aliran sesat.

Ilmu apa yang diajarkan sang guru tersebut terhadap muridnya sehingga bekas muridnya mengklaim dan memploklamirkan diri bahwa ajaran gurunya adalah sesat. Seperti apakah pengajaran sesat tersebut masih cinderung belum ter exspos dengan jelas dan terlihat masih bias. Kerugian apakah yang menimbulkan mantan murid tersebut hingga nampak begitu terguncang meluapkan amarahnya dengan mengeluarkan steatment yang tak sedap kehadapan publik?? Apakah secara finansial, apakah lebih bersifat privasi pribadi, apakah tidak terpenuhi janji yang diharapkan, entah mimpi buruk apa yang dialami murid sehingga menimbulkan saki hati yang begitu mendalam.

Anehnya kenapa sang guru tersebut terlihat begitu diam seribu bahasa tanpa ada pembelaan sedikitpun untuk sekedar mengcounter balik steatmen negatif yang dilontarkan bertubi-tubid dan meskipun terwakili oleh pengacara tapi cinderung kurang agresif, hanya sekedar memberi steatment balik kehadapan publik sehingga kedudukannya menjadi seimbang.

Jadi siapa yang tersakiti dan siapa yang menyakiti?? Sang gurukah atau muridkah. Suguhan ini tentunya tidak memberikan edukasi yang baik. Dimana sikap saling mengasihi, rendah hati, menghargai lebih ditonjolkan daripada sikap, permusuhan, benci, amarah. Sampai kapan drama ini berakhir hingga menimbulkan ending yang cantik?? kita lihat saja halaman berikutnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Real Madrid 1 – 0 Bayern Muenchen …

Arnold Adoe | | 24 April 2014 | 04:37

Pojok Ngoprek: Tablet Sebagai Pengganti Head …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Rp 8,6 Milyar Menuju Senayan. Untuk Menjadi …

Pecel Tempe | | 24 April 2014 | 03:28

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 3 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 4 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 4 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 8 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: