Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Melant

manusia biasa

Apakah Isu “Eyang Subur” Penting?

OPINI | 14 April 2013 | 10:23 Dibaca: 868   Komentar: 3   0

Akhir- akhir ini banyak media televisi maupun media online nasional rajin memblow-up issue yang beredar tentang kehadiran tokoh “Eyang Subur”. Bahkan media terlihat begitu antusias mengemas dan menempatkan berita kontrofersial tersebut menjadi berita yang begitu hangat dan fenomenal. Tentunya ini sangat menguras energi khalayak banyak untuk sekedar menyimak dan menyaksikan berita pertikaian antar kedua kubu yakniseorang guru dan eks murid. Apa yang menjadi faktor (x) penyebab permasalahan tersebut masih terkesan samar. Setelah menyaksikan episode demi episode, ternyata yang menjadi inti permasalahan adalah pengajaran yang konon menurut sang murid, gurunya adalah seorang penyebar aliran sesat.

Ilmu apa yang diajarkan sang guru tersebut terhadap muridnya sehingga bekas muridnya mengklaim dan memploklamirkan diri bahwa ajaran gurunya adalah sesat. Seperti apakah pengajaran sesat tersebut masih cinderung belum ter exspos dengan jelas dan terlihat masih bias. Kerugian apakah yang menimbulkan mantan murid tersebut hingga nampak begitu terguncang meluapkan amarahnya dengan mengeluarkan steatment yang tak sedap kehadapan publik?? Apakah secara finansial, apakah lebih bersifat privasi pribadi, apakah tidak terpenuhi janji yang diharapkan, entah mimpi buruk apa yang dialami murid sehingga menimbulkan saki hati yang begitu mendalam.

Anehnya kenapa sang guru tersebut terlihat begitu diam seribu bahasa tanpa ada pembelaan sedikitpun untuk sekedar mengcounter balik steatmen negatif yang dilontarkan bertubi-tubid dan meskipun terwakili oleh pengacara tapi cinderung kurang agresif, hanya sekedar memberi steatment balik kehadapan publik sehingga kedudukannya menjadi seimbang.

Jadi siapa yang tersakiti dan siapa yang menyakiti?? Sang gurukah atau muridkah. Suguhan ini tentunya tidak memberikan edukasi yang baik. Dimana sikap saling mengasihi, rendah hati, menghargai lebih ditonjolkan daripada sikap, permusuhan, benci, amarah. Sampai kapan drama ini berakhir hingga menimbulkan ending yang cantik?? kita lihat saja halaman berikutnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 10 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 11 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: