Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bung Kusan

Penyuka jalan-jalan, sejarah, dan budaya - penikmat kuliner, buku, dan transportasi umum - pemerhati tv, selengkapnya

Tayangan “Khazanah” di Trans7 Diprotes

REP | 14 April 2013 | 11:36 Dibaca: 6463   Komentar: 37   1

Khazanah adalah salah satu program di Trans 7 yang ditayangkan stripping dari Senin sampai Jum’at pkl 5.30 WIB. Konsep program ini berisi permasalahan maupun fakta seputar dunia Islam. Terus terang, saya tidak setiap hari menyaksikan program ini. Namun percayalah, buat Kompasieners yang beragama Islam, tayangan ini wajib ditonton. Selain konsepnya menarik, tidak sekadar tausyiah yang kebanyakan televisi lakukan, tetapi topik dan kemasannya sangat menarik.

Namun, setelah episode tanggal 12 April 2013 ditayangkan, sebagian umat Muslim gerah. Mereka menuduh Khazanah tidak digarap dengan serius. Produser program ini dianggap tidak memperhatikan validitas konten tayangan, tetapi hanya berpikir tayangan itu menarik pemirsa. Bahkan situs Thariqat Sarkubiyah via situsnya www.sarkub.com memprovokasi agar umat Islam di Indonesia secara serentak tidak lagi menonton tayangan Khazanah di Trans 7.

Ayo bergerak bersatu! Kirimkan pengaduan terkait acara KHAZANAH TRANS 7 yang meresahkan, langsung diadukan pengaduannya ke www.kpi.go.id dan via SMS KPI ke nomor….

Apa sebenarnya isi tayangan Khazanah 12 April 2013 itu sehingga diprotes segelintir umat Islam? Ternyata episode pagi itu menjelaskan tentang macam-macam sholawat yang diamalkan oleh umat Islam. Tim riset Khazanah mendapatkan fakta, bahwa sholawat merupakan bid’ah yang diliputi khurafat dan takhayul yang sesat, karena tidak sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Tambah Khazanah yang diucapkan melalui voice over (VO), sholawat yang dibaca dalam khasidah-khasidah apalagi dengan iringan rebana dan goyangan badan orang-orang yang bersholawat, adalah bid’ah dlolalah yang potensial musyrik.

Kompasianers, saya bukan karyawan Trans 7, pun dibayar untuk membuat tulisan ini. Saya pun tidak memihak pada Muhammadyah, NU, juga Wahabi, tetapi memihak pada al-Qur’an dan Hadist. Oleh karena itu, dengan keyakinan saya, tim Khazanah tidak ceroboh dalam membuat naskah. Sebab, setelah saya cek dan ricek, ternyata ada sejumlah tim Ustaz yang berada di belakang program tersebut. Bukan Ustaz Wahabi yang dituduhkan segelintir umat Islam yang protes atas tayangan ini.

Inti episode Khazanah tentang cara bersholawat yang berlebihan, bukan melarang umat Islam untuk bersholawat kepada Rasulullah SAW. Sebab, bersholawat memang diperintahkan dalam al-Qur’an sebagaimana terkandung dalam surat Al-Ahzab ayat 56, yakni:

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Dalam tafsir al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 56, Allah swt hanya memerintahkan untuk bersholawat dengan cara yang diperintahkan-Nya. Shalawat dari Allah berarti memberikan rahmat, dari malaikat memohonkan ampunan. Kalau dari orang-orang mukmin, berarti berdoa agar diberikan rahmat, seperti dengan perkataan Allahuma salli ‘ala Muhammad. Tidak ada kata sayidina, atau menambah-nambahkan dengan musik, bahkan sampai menggunakan kemenyan ala upacara ritual agama Hindu segala. Sungguh aneh, bukan? Yang bersholawat orang Islam atau orang Hindu? Kenapa dicampuraduk, sehingga mendekatkan pada ke-syirik-kan? Itulah yang hendak dikritisi Khazanah sebagai program yang coba membuka wawasan umat Islam tentang Islam yang sesungguhnya, yang sesuai al-Qur’an dan Hadist.

Menurut Ustaz Taufiqurrahman, sholawat badar itu karya para tabi’iin atau ulama setelah Rasulullah SAW. “Karena ungkapan ekspresi kecintaan mereka pada Rasulullah SAW,” ujar Ustaz yang biasa mengisi acara di Suara Anak Negeri di JakTV ini. “Al-Qur’an dan hadist memerintahkan dan menganjurkan pada kita untuk memperbanyak sholawat, hanya memang sholawat badar bukan bersumber dari Rasulullah SAW.”

“Sholawat yang diajarkan Nabi sesuai hadist-hadist sahih adalah sholawat ibrahimyah yang kita baca tasyahud awal dan akhir. Lainnya ditulis ulama,” ujar Ustaz Fahmi Salim Zubair, MA.

Tambah Ustaz Haikal Hassan, sholawat Badar adalah karya anak negeri alias hanya ada di Indonesia ini. Sholawat ini muncul sekitar tahun 1960-an. Sejarah mencatat hal ini, meski banyak yang menutup-nutupi dan menolak sebagai hasil karya ulama Indonesia, tetapi itulah fakta. Yang dipersoalkan sesungguhnya adalah sholawat dengan cara-cara yang berlebihan. Saking “kreatif”-nya, penulis punya kenalan seorang yang mengaku sufi, membuat kelompok band dan melakukan sholawat di gereja dengan berkolaborasi dengan paduan suara gereja.

“Bakalan banyak ‘ulama kemenyan’ yang kehilangan job, kuburan bakal sepi pengunjung (jika sholawat dengan cara-cara mereka dikatakan bid’ah),” komentar salah penggemar program Khazanah, yang penulis kutip dari situs www.sarkub.com tertanggal 12 April 2013.

Agar supaya umat Islam kembali kepada perintah Allah swt dan ajaran Rasulullah SAW agar tidak berlebihan, Ustaz Fahmi  mengirimkan himbauan kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk terus mendukung program Khazanah yang menguliti aktivitas syirik akbar. Ustaz yang saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini mengirimkan broadcast massage ke Blackberry saya. Ini dia pesannya:

Yth Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Kami mendukung program Khazanah di Trans7 sebagai bentuk pencerahan dan edukasi bagi masyarakat awam yang selama ini mudah tertipu oleh trik-trik dan penampilan yang menyesatkan.”

Semoga saya dan teman-teman saya di Kompasianers juga tidak mudah tertipu dengan ritual yang kelihatannya baik, tetapi ternyata jauh dari perintah Allah swt maupun ajaran Rasulullah SAW. Jika Kompasianers, terutama umat Islam, yang mendukung Khazanah sebagai program pencerahan Islam, mohon dukungannya dengan mengirimkan SMS ke KPI di no: 0812-1307000. Jika nomor tadi sulit, bisa memberikan dukungan melalui faksimili dengan nomor 021-6340679 atau via akun twitter: @kpi_pusat. Semoga Allah membalas kebaikan Kompasianers dan tonton terus Khazanah di Trans 7 untuk Islam yang beradab. Aamiiiin!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Real Madrid 1 – 0 Bayern Muenchen …

Arnold Adoe | | 24 April 2014 | 04:37

Pojok Ngoprek: Tablet Sebagai Pengganti Head …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Rp 8,6 Milyar Menuju Senayan. Untuk Menjadi …

Pecel Tempe | | 24 April 2014 | 03:28

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 3 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 4 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 4 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 8 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: