Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Arita Gloria Zulkifli

13th years old girl which is really interest in writing.

Keluhan LJUN (Curahan Hati Seorang Pelajar)

OPINI | 15 April 2013 | 14:42 Dibaca: 16088   Komentar: 56   18

Tulisan ini bukan provokasi, bukan intimidasi, hanya bentuk curahan hati penyesalan, dan kekecewaan seorang siswi SMA kelas 12 berumur 16 tahun yang merasa di ‘jahili’.

Hari ini tanggal 15 April 2013 bisa dibilang hari penentu bagi kami siswa/i kelas 12 SMA seluruh Indonesia. Hari ini, rutinitas tahunan Ujian Nasional dilaksanakan secara serempak se-Indonesia (meskipun beberapa daerah, terpaksa diundur).

Rasa takut pasti ada, wajar, kami pelajar biasa, bukan super. Meski seringkali kami mengeluh karena adanya UN dengan segala kecurangan yang sekarang ‘nyaris’ dianggap kebenaran ini yang dilakukan oleh BANYAK oknum, namun inilah negara tercinta kami, mau tak mau harus dijalani.

Tak bisa dipungkiri kecurangan UN memang ada dimana-mana, bahkan aku ditawari secara cuma-cuma, dan bukan munafik teman tercinta pun banyak yang mengandalkannya. Syukur, teman-teman yang ku maksud bukan teman sekolah, kami semua bersih. Sampai mati aku gak bakal pakai ‘contekan’, aku bukan pecundang. Lebih baik aku gagal karena PRINSIP, keteguhan hati, nurani dan akhlak, daripada berhasil karena curang. Bukan idealis, hanya realistis.
Namun, bukan kecurangan itu yang ku maksud, bukan itu masalahku. Hari ini, pada saat ini, aku sangat kecewa dengan LJUN yang digunakan tahun ini. Hanya selembar kertas ’se-level’ kertas HVS yang biasa ku gunakan untuk coret-coret gak jelas. Bahkan ketika bulatan yang kupilih dihapus, cetakan nya ikut terhapus. Bukan itu kualitas yang kami harapkan. Fotokopi 100 perak saja cetakannya susah dihapus bahkan gak bisa. Bayangkan betapa riskan nya LJUN tersebut. Padahal, kami selalu diwanti-wanti agar LJUN tetap rapih dan tidak bolong. Beberapa nomor yang kuhapus nyaris bolong kertasnya ketika hendak dibulatkan kembali (tentu sudah dengan teliti dan sehalus mungkin). Bahkan LJK Try Out kami sehari-hari jauh lebih baik kualitasnya daripada LJUN. Bukan mau sok tahu, namun ini kenyataan yang kami hadapi, siswa/i yang merasa dikadali.
Bukan mau menghakimi, namun hanya ingin tahu. Apa anggaran sejumlah Rp 120.457.937.603,00 tidak cukup untuk memberikan kualitas yang terbaik buat generasi penerus bangsa? Gak muluk-muluk, kami hanya ingin diberikan fasilitas yang selayaknya. Kami merasa kami hanya proyek tahunan dari beberapa oknum nakal yang ingin dapet ‘bonus’ cuma-cuma.
Jangan salahkan kami atas presepsi itu, setiap hari yang kami tonton dan baca cuma berita negatif dan KORUPSI.
Kami hanya berharap, kami siswa/i penerus bangsa, tidak dipandang sebelah mata lagi. Jangan rusak masa depan kami. Jangan terus-terusan jadikan kami ‘kelinci percobaan’, dengan segala proyek baru baik yang sudah dijalankan maupun yang akan dilaksanakan.
Mungkin banyak siswa/i yang gak merasa buruknya kualitas LJUN ketika dihapus, karena mungkin mereka hanya menyalin dan tidak perlu menghapus. Namun, lebih banyak lagi pelajar yang merasa kalau LJUN tersebut memang tidak layak. Aku punya banyak bukti, dari ocehan pelajar-pelajar di sosial media.
Sekali lagi, ini bukan provokasi, cuma curahan hati seorang pelajar dan jutaan pelajar lain, gak lebih. Mohon dimengerti. Saya cuma berharap, UN tahun yang akan datang, bahan kertasnya bukan kualitas tisu, tapi justru dipertebal.

Kecil (pelajar), bukan berarti tidak bisa unjuk rasa. Semua orang berhak menegakkan kebenaran. Saya tidak mau lagi berpura-pura ‘tidur nyenyak’ di ‘rumah sendiri’ yang jelas-jelas dikepung ‘maling’.

Namun, hati kecil ku ini akan terus berusaha percaya, tanah airku akan pulih.

Salam sukses buat semua siswa/i kelas 12 SMA! Jangan jadi pecundang, percaya sama diri sendiri.

Arita Gloria Zulkifli (Arita Kiefl), 16 tahun

SMA Charitas
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hati-Hati Meletakkan Foto Rahasia di …

Pical Gadi | | 02 September 2014 | 15:36

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Plus Minus kalau Birokrat yang Jadi …

Shendy Adam | | 02 September 2014 | 10:03

Mereka Sedang Latihan Perang …

Arimbi Bimoseno | | 02 September 2014 | 10:15

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 5 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 7 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 9 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengenal dan Mengenang IH Doko, Pahlawan …

Blasius Mengkaka | 8 jam lalu

Kenormalan yang Abnormal …

Sofiatri Tito Hiday... | 8 jam lalu

Aku Akan Pulang …

Dias | 8 jam lalu

Terpenuhikah Hak Kami, Hak Anak Indonesia? …

Syifa Aslamiyah | 8 jam lalu

UUD 1945 Tak Sama dengan Jakarta …

Adinda Agustaulima ... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: