Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ujian Nasional: Cerminan Sistem Pendidikan yang Gagal

REP | 15 April 2013 | 11:33 Dibaca: 800   Komentar: 3   0

Tulisan ini saya buat penuh dengan rasa kesal di tengah-tengah penyelenggaraan hari pertama UN SMA tahun 2013. Tulisan ini saya buat semata-mata karena jengah melihat ketidakbecusan Kementerian Pendidikan khususnya Menteri Muhammad Nuh dalam mengelola pendidikan di Indonesia yang seharusnya dikelola secara profesional ini.

Sebelumnya, saya cukup memerhatikan dunia pendidikan di Indonesia karena ibu saya yang seorang guru SMA, dan ayah yang juga seorang tenaga pengajar. Jadi latar belakang keluarga pendidik membuat saya cukup melek terhadap kacaunya perkembangan pedidikan di NKRI ini. Saya sendiri saat ini masih tercatat sebagai tutor di salah satu bimbel di Jakarta.

Menggugat Penyelenggaran UN

Penyelenggaraan UN selalu dijadikan patokan bagi kelulusan siswa baik SD, SMP, maupun SMA. Padahal menurut evaluasi PGRI, penyelenggaraan UN tidak berkembang lebih baik dari tahun ke tahunnya.

Evaluasi penyelenggaran UN dilakukan atas berbagai aspek. Dari aspek pembelajaran, sangat tidak adil menentukan lulus atau tidaknya seorang siswa hanya dari seminggu ujian. UN hanya menjatuhkan mental siswa, mengingat ketidaklulusan siswa dalam UN akan membuat moril siswa menjadi jeblok, dan akan menjadi bahan pergunjingan di masyarakat.

Selain itu ketidaklulusan siswa dalam UN juga acapkali disebabkan karena hal-hal yang bersifat teknis, seperti sakit, mengalami kecelakaan di perjalanan ke sekolah, dan lain-lain. Bahkan siswi hamil juga tidak boleh ikut UN, hal yang sangat diskriminatif menurut saya karena pada dasarnya meski hamil seorang siswi memiliki kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan.

Selain itu dalam pelaksanaannya UN hanya menghabiskan anggaran negara yang hampir bernilai triliunan. Saya tidak tahu bagaimana hasil audit terhadap dana untuk UN tersebut apakah ada indikasi korupsi atau tidak.

Dengan dana sebesar itu pun kebocoran masih sangat rentan terjadi dimana-mana, meski M. Nuh berkali-kali juga mengatakan tidak ada sama sekali kebocoran. Saya dan ibu yang terlibat langsung dalam pelaksanaan UN sangat mengetahui adanya kebocoran ini. Bukan tidak tau adanya kebocoran, tetapi M. Nuh tidak ingin tau tentang kebocoran tersebut agar pelaksanaan UN ini terkesan berjalan dengan lancar.

Selain itu UN semakin menimbulkan kesenjangan yang amat tinggi di NKRI. Dilihat dari nama, Ujian Nasional, atau Ujian yang diselenggarakan secara Nasional, atau dengan kata lain merupakan ujian yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia untuk mengukur seberapa cerdas masyarakat Indonesia di tiap-tiap propinsinya. Apakah ini adil menyamaratakan ujian di Indonesia, atau Jogjakarta dengan NTT atau Papua yang notabenenya mendapat akses pendidikan lebih sedikit dari dua propinsi tersebut?

Selain itu jika dilihat dari distribusi anggaran, guru, dan fasilitas yang masih jauh tertinggal, apakah bisa kita menyamaratakan pendidikan di DKI Jakarta dengan di NTT? UN ini hanya membuat propinsi terbelakang semakin terlihat bodoh.

Saya curiga UN hanya sebatas dijadikan proyek pemerintah semata. Sebagaimana kita ketahui, penyelenggaraan UN yang memakan dana hingga trilyunan melibatkan berbagai macam pihak. Contoh kecil saja, dalam urusan percetakan naskah UN, melibatkan belasan perusahaan percetakan. Berapa keuntungan yang didapat oleh perusahaan percetakan tersebut?

Lalu bisnis bimbel juga menjadi salah satu yang paling diuntungkan dari penyelenggaraan UN. Ketakutan akan ketidaklulusan membuat siswa menambah jam pelajaran dengan mengambil kursus bimbel di luar jam sekolah. Saya sendiri merasakan sebagai pengajar bimbel, bagaimana ketakutan siswa yang tidak ingin tidak lulus di UN nanti. Bahkan banyak diantara para siswa yang mengambil kursus di dua tempat bimbel berbeda saking takutnya ia dalam menghadapi UN. Sangat buang-buang uang menurut saya.

Ujian Nasional Hanya Ajang Buang Buang Uang

Saya rasa UN hanya proyek memanfaatkan besarnya anggaran pendidikan yang diamanatkan dalam UUD 1945 sebesar 20%. Pemerintah seakan-akan bingung bagaimana menghabiskan dana sebesar ini agar tidak bersisa. UN adalah salah satu solusi untuk membuang-buang uang tersebut. Dengan dana sebesar itu pemerintah harusnya tidak menghambur-hamburkan untuk proyek gagal seperti UN ini.

Belum lagi akan diterapkannya kurikulum 2013 yang sangat absurd menyampuradukkan sanins, bahasa, religi, dalam satu rangkaian pelajaran. Menurut evaluasi PGRI sendiri, kurikulum 2009 masih sangat relevan untuk digunakan saat ini. Guru pun masih harus beradaptasi lagi jika kurikulum 2013 ini jadi diterapkan jadi sulit untuk segera efektif dijalankan. Kurikulum 2013 itu sendiri juga memakan biaya hingga trilyunan, suatu pemborosan yang sangat besar.

Seharunya dengan alokasi APBN sebesar 20%, pemerintah lebih fokus kepada perbaikan infrastruktur sekolah-sekolah di pelosok Indonesia. Dana sebesar itu juga seharusnya dipakai untuk menunjang kesejahteraan guru. Guru di Indonesia sebagaimana kita tau sejauh ini hanya dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bergengsi, kalah jauh dengan profesi lain seperti insinyur atau dokter.

Saya rasa Kemendiknas khususnya M. Nuh hanya kebingungan bagaimana ia menghabiskan anggaran yang sedemikian besarnya tersebut.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 10 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 10 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 10 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: