Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ikhwan Muhammad

Dokter dan Praktisi K3/OH&S (Occupational Health & Safety). Awardee beasiswa ADS (Australian Development Scholarship). Menempuh selengkapnya

Aku dan Kamu, yang Tidak Pernah Merasa Cukup

OPINI | 16 April 2013 | 06:25 Dibaca: 187   Komentar: 2   0

oleh: dr. Ikhwan Muhammad

“..ga perlu iri dengan rejeki orang lain..”, ia menghela nafas, “..setiap orang punya rejeki nya masing-masing, kita ga perlu iri kalau ada orang-orang yang dengan mudah bisa ngedapetin sesuatu, sementara kita harus banyak berusaha..itu jalan Tuhan buat dia, kita punya jalan kita sendiri..”, “..setiap kali kita menyimpan rasa iri terhadap orang lain, itu akan jadi penyakit buat kita, yang membuat kita jadi ga tenang, kepikiran, sementara di sisi lain rasa iri kita ga mengubah apapun–dia tetap bahagia dengan rejekinya..dan kita tidak mendapat apa-apa..”, sesekali mata nya mengernyit, bibir nya tersenyum.

Lantunan kata-kata dokter ahli anastesi RSUDZA Banda Aceh di sela-sela morning report pagi itu menohok hati kebanyakan audiens. betapa tidak di rimba per-koas-an ini kita sering sekali bermain hati. “..dia enak ujian sama dr.yang bonam..”, “..sial banget aku..kena baca sama dia pula..”, “..qe enak, bawaan badan ga da pasien..”, istilahnya..’sedih melihat kawan susah, tapi lebih sediiiiihhh lagi kalau melihat kawan senang’ ..padahal, kalau saja kita bisa lebih rajin melihat ke bawah, dan membandingkan dengan apa yang ada di diri kita hari ini..sungguh, akan kita temukan betapa Tuhan telah memberi kita cukup.

“..beberapa orang harus 10x membaca sesuatu baru bisa paham, sementara beberapa orang lain hanya cukup dengan membaca 1x, lalu kenapa?, itu kemudahan yang dikasih untuk dia, kita ga perlu iri, ga perlu jadi rendah diri, kita cuma harus berusaha lebih keras sesuai dengan kemampuan yang kita punya, kalau memang harus 10x kita membacanya-maka kita akan 10x membaca nya..” (kata-kata dokter ahli  anak, satu sore di poli anak)

“..Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: Ini adalah hakku..” (QS. Fushshilat: 50)

“..Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa..” (QS. Fushshilat: 51)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nasib Petani Teh Rakyat Tidak Senikmat Rasa …

Fadil Kirom | | 28 March 2015 | 12:38

Telaah Psikologi Olga, Ahok, Lulung, Sarpin: …

Ninoy N Karundeng | | 28 March 2015 | 10:15

Masih Terasa Berat Berasuransi? Bagikan …

Kompasiana | | 19 March 2015 | 18:31

Pilot Memakai Palu untuk Mendobrak Pintu …

Gustaaf Kusno | | 28 March 2015 | 13:33

Blog Competition: Peningkatan Peran SDM dan …

Kompasiana | | 26 March 2015 | 16:37


TRENDING ARTICLES

Ahok Insyaf, Ini Baru Ahok! …

Syaripudin Zuhri | 8 jam lalu

Airin, Ahok, dan Kinerja DPR/D …

Susy Haryawan | 10 jam lalu

Ahok Selingkuh Ketahuan …

Axtea 99 | 16 jam lalu

BBM Naik, Rakyat Menjerit …

Asmari Rahman | 16 jam lalu

“Wow, Mati Juga Akhirnya” …

Muhammad Armand | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: