Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Yohanes Wempi

Aktifis bermasyarakat, fokus bergerak dibidang budaya minangkabau

Mendikbud Gagap, Ujian Nasional 2013 Bermasalah

OPINI | 16 April 2013 | 22:13 Dibaca: 1636   Komentar: 5   0

Carut marut serta gagalnya dunia pendidikan nasional saat ini sudah terlihat nyata, Situasi ini terjadi di awali gagapnya Kementirian Pendidikan Kebudayan Nasional menerapkan kurikulum baru 2013 di sekolah. Hambisi Mentri M. Nuh yang didukung Presiden SBY untuk menerapkan kurikulum 2013 dengan anggaran Rp. 2,49 Triliun mendatangkan pro dan kontra di tengah dunia pendidikan nasional. Ada pengamat pendidikan menilai bahwa lahirnya kurikulum 2013 ini penuh dengan muatan kepentingan bagaimana Mendikbud bisa henghabiskan dana APBN (dua puluh persen) yang dialokasikan oleh parlemen untuk pendidikan.

Kondisi gagapnya mentri M. Nuh menerapakan kurikulum 2013 ini berimbas terhadap tidak siapnya sumber daya manusia (SDM) pendidikan untuk menjalankannya, baik SDM pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia, ada beberapa daerah kabupaten/kota yang terang-terang meminta Kementrian menunda dulu penerapan kurikulum 2013 tersebut, dan ada yang meminta kurikulum 2013 tersebut dibatalkan.

Belum selesai permasalahan gagapnya Mendikbud melaksanakan kurikulum 2013. Saat ini ada lagi kasus yang memalukan terjadi dilakukan oleh jajaran Kementrian yang dipimpin oleh M. Nuh ini, yaitu gagalnya pelaksanaan ujian nasional SMU serentak dilakukan tanggal 15 April 2013 yang lalu. Dari penyampaian Mendikbud melalui jumpa pers ada 11 (sebelas) provinsi yang tidak bisa melaksanakan ujian pada jadwal tersebut dikarnakn gagalnya PT Ghalia Indonesia Printing mencetak soal, situasi ini baru diketahu H-2 sebelum ujian dilaksanakan.

PT Ghalia Indonesia Printing yang gagal mencetak soal ujian ini merupakan perusahan yang tidak menang tender, tetapi dengan adanya campur tangan dari pihak-pihak Kementrian akhirnya PT Ghalia ini ditunjuk melaksanakan percetakan soal ujian tersebut. Ini perlu ada penjelasan dan pengusutan dari pihak penegak hukum, apakah mekanisme seperti diatas bisa mendapatkan pengerjaan tersebut, merupakan hal yang wajar atau melanggar hukum, jawabanya di tunggu dari gerakan penegak hukum itu sendiri nanti.

Dalam catatan pemberitan yang ada, PT Ghalia ini pernah dipercayakan mencetak surat suara Pilpres 2009, namun pada waktu itu Bawaslu melakukan sidak ke pabrik PT Ghalia di Bogor dan hal hasil menemukan perusahaan ini tidak menyediakan tempat khusus untuk mengepak surat suara Pilpres hingga bercampur dengan pengepakan barang cetakan lainya seperti buku dan majalah, tidak itu saja, banyak temuan lain Bawaslu pada sidak tersebut, yang pada akhirnya PT Ghalia dianggap bermasalah.

Kegagalan Mendikbud melaksanakan ujian nasional tidak saja terjadi disaat proses tender dan percetakan, dalam pendistribusian soal ujian pun juga terjadi permasalahan, ada beberapa sekolah di Sumatra Utara dan Banten yang tidak mendapatkan soal ujian dikarnakan belum datang kiriman soal ujian tersebut. Begitu juga dalam pelaksanaan ujian, di daerah Bantul, Malang, Padang Pariaman ditemukan soal ujian nasional Bahasa Inggris terselip dalam paket soal ujian Bahasa Indonesia.

Apa bila diuraikan secara detil cukup banyak permasalahan yang terjadi pada UN 2013 khusus untuk SMU itu, namun dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kesalahan UN 2013 yang terjadi, merupakan tanggung jawab mentri M. Nuh dan jajarannya yang tidak profesional dalam mempersiapkan tender soal ujian, pendistribusian dan teknis lainya. Kesalahan ini sangat fatal apabila dilihat dari tanggung jawab dan kewenangan Mendikbud yang dimiliki.

Maka dengan banyaknya kesalahan-kesalahan yang terjadi di dunia Pendidikan Indonesia saat ini, seperti sebahagiannya yang diuraikan diatas. Pertanyaannya, ini salah siapa?, itu pertanyan yang perlu dijawab dalam paparan ini. Sebahagian orang mungkin menilai dan menjawab bahwa ini merupakan kesalahan seorang Mentri dan Presiden. Apabila ini kesalahan Mentri berarti ini kesalahaan M Nuh. Maka wajar sang Mentri dengan hati lapang mengundurkan diri*.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Kejutan Tingkah Polah Remaja di Lokasi …

Dhanang Dhave | | 22 December 2014 | 11:47

Rimba Beton dalam Labirin Kota …

Ratih Purnamasari | | 22 December 2014 | 11:25

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 12 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 12 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 20 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: