Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Titin Murtakhamah

Merayakan kehidupan dengan riang gembira

Saat Memergoki Si Remaja Bermasturbasi

OPINI | 16 April 2013 | 15:46 Dibaca: 817   Komentar: 6   1

Kita berpikir bahwa anak kita, si remaja sedang berada di ruang sebelah mengerjakan sesuatu dengan tugas sekolahnya atau bermain komputer sementara kita sedang sibuk menyiapkan pekerjaan kita sendiri. Lalu tiba-tiba kita ingat bahwa kita butuh lem dan gunting untuk menyelesaikan pekerjaan kita. Tanpa berpikir panjang kita lari ke kamar si remaja kita, brakk, dan ups, remaja kita sedang bermasturbasi.

Mengetahui bahwa si remaja kita sudah melakukan praktik-praktik ekspresi seksual, meskipun dalam bentuk masturbasi mungkin akan mengguncang perasaan kita sebagai orangtua. Cobalah cari tahu apa yang mengganggu perasaan kita? Apakah kita kecewa bahwa ternyata remaja kita telah melakukan perilaku-perilaku untuk memuaskan hasrat seksual tanpa kita ketahui sebelumnya? Ataukah kita kecewa karena ia tidak mengindahkan nasehat dan ajaran-ajaran yang kita tanamkan kepadanya?

Lalu, cobalah kita menengok ke jaman remaja kita dulu. Mengingat diri kita yang remaja dengan segenap problematikanya. Satu sisi tubuhnya sedang bergejolak dengan hormon-hormon seks yang sedang berkembang yang membutuhkan pengakuan dan penyaluran, rangsangan seksual dari media massa yang cenderung sulit dihindari, sementara orangtua kita bersikap acuh, bahkan mentabukan membicarakan seksualitas. Di sisi lain penyaluran itu tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan maupun norma sosial yang makin lama makin menuntut persyaratan yang tinggi untuk perkawinan dan tata nilai yang tidak membolehkan hubungan seksual sebelum menikah.

Sekarang, setelah mengingat dan memahami itu semua, apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, sebagai orangtua kita harus meminta maaf karena melanggar privasinya, masuk ke kamarnya tanpa ijin, tanpa mengetuk pintu.

Kedua, kita bisa bicara tentang apa yang terjadi. Ada dua alternatif yang bisa dijadikan sebagai pertimbangan:

- Jika kita menerima masturbasi sebagai bentuk ekspresi seksual yang sehat, kita bisa berkata: “ Maaf, karena Ibu/Ayah telah memergokimu. Tentu saja Ibu/Ayah malu, dan kamu pasti juga malu. Tetapi masturbasi adalah hal alami dan tidak perlu membuatmu malu karena itu adalah hak pribadimu. Selagi tubuhmu tumbuh, bermasturbasi adalah adalah cara yang aman untuk mengeksplorasi tubuhmu dan belajar tentang apa yang menimbulkan kenikmatan seksual bagimu. Sekali lagi Ibu/Ayah minta maaf karena telah masuk begitu saja ke kamarmu. Lain kali, Ibu/Ayah akan mengetuk pintu dulu.

- Jika kita melihat masturbasi sebagai sesuatu hal yang salah, melanggar tata nilai tertentu, maka biarkan emosi kita untuk tenang terlebih dahulu, tarik napas panjang, lepaskan pelan-pelan, baru setelah kita merasa lebih baik, mulailah  bicara kepada remaja kita. Tetaplah untuk meminta maaf karena telah memergokinya,  setelahnya  kita bisa mengatakan “Ibu/Ayah kurang mengerti apa yang baru saja kamu lakukan, mungkin kamu akan mengatakan bahwa masturbasi itu tidak apa-apa tetapi menurut Ibu/Ayah itu bukan hal yang baik karena hasrat seksual akan datang dan pergi dan masturbasi bukan cara untuk melepaskannya. Masih banyak cara yang lain yang bisa kamu tempuh misalnya olahraga atau bergabung dalam kegiatan kepramukaan…  (atau katakan alasan kita yang lain secara jujur tanpa menyalahkan si remaja)

Bagi sebagian orang, masturbasi adalah salah satu hal yang sulit dibicarakan, terlebih antara orangtua dan anak. Informasi yang keliru tentang masturbasi menyebutkan bahwa masturbasi dapat menyebabkan telapak tangan berbulu, kutil, kebutaan, pertumbuhan terhambat, alat kelamin mengecil, jalan tidak lurus bahkan gila. Beberapa agama juga melarang masturbasi.

Namun sebenarnya masturbasi bisa menjadi cara yang normal dan sehat bagi remaja (dan orang dewasa) untuk mengespresikan seksualitas mereka, mempelajari respon seksual mereka sendiri dan melepaskan ketegangan seksual. Sepanjang masturbasi tidak mengekang dirinya dari lingkungan keluarga dan temannya-temannya, sekolahnya, tugas-tugasnya, si remaja akan baik-baik saja. Beberapa remaja memang tidak melakukan masturbasi, ini pun tidak apa-apa. Masturbasi adalah sesuatu yang sifatnya pribadi. Tetapi masturbasi mungkin juga bisa menjadi pilihan sehat dibandingkan harus melepaskan ketegangan seksual saat remaja dengan pacarnya atau PSK yang risikonya jauh lebih besar.

Sebagian informasi ini bersumber dari buku How to Talk with Teens about Love, Relationships and Sex, Amy G Miron, MS

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 8 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 8 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 8 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: