Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Petrus Pit Supardi Jilung

Saya lahir di Maumere-Flores dan besar di Merauke Irian Jaya (Papua). menyelesaikan pendidikan dasar (SD-SMA) selengkapnya

Hidup, Antara Nafsu dan Cinta

OPINI | 17 April 2013 | 13:00 Dibaca: 208   Komentar: 0   0

Apa(kah) hidup itu? Kita sulit mendefinisikan hidup. Namun, kita mengerti dan menghayati bahwa hidup merupakan anugerah Tuhan. Bagi orang yang belum menerima (memercayai) adanya Tuhan, sekurang-kurangnya memahami bahwa hidup berasal dari ‘Ada’ yang mendahuluinya. Artinya, hidup bukan terjadi karena kemauan kita sendiri, melainkan anugerah dari sang ‘Ada’; yang oleh para penganut agama dinamakan Tuhan.

Anugerah hidup dimulai tatkala terjadi pertemuan antara sperma dan ovum di rahim sang Bunda. Di sanalah awal hidup manusia diretas. Setelah sembilan bulan, ia meninggalkan kenyamanan dalam rahim Bunda dan lahir ke tengah dunia. Tangis mengawali hidupnya di dunia ini.

Kalau kita merenungkan proses perjalanan hidup kita, tentu muncul aneka perasaan sedih, haru, dan gembira. Namun, tidak jarang pula kita menangis karena pengalaman perjumpaan yang menyakitkan. Kita menangis, marah, kecewa karena kita kurang memberi makna pada hidup, atau sebaliknya kita terlalu banyak menanggung beban hidup. Apa pun alasannya hidup harus dijalani seiring bergulirnya waktu.

Beberapa hari ini, kita mengalami dan menyaksikan pereduksian martabat manusia, yang tidak terbendung. Di mana-mana terjadi pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, pelecehan seksual, dan lain sebagainya. Kita juga menyaksikan tindakan balas dendam, yang memakan korban jiwa manusia. Tindakan-tindakan ini jelas merendahkan martabat manusia sebagai makhluk berakal budi dan berhati nurani. Ini semua terjadi karena nafsu mendominasi hidup manusia.

Manusia seyogianya saling mengasihi dan mencintai. Sebagai makhluk sosial sudah sepantasnya manusia saling membutuhkan satu sama lain. Interaksi di antara manusia semestinya terjadi secara hangat dan penuh kekeluargaan, tanpa memandang latar belakang suku, adat-istiadat, budaya, agama dan status sosial. Nilai hidup manusia jauh berada di atas segala-galanya dan harus bisa mengalahkan segala perbedaan.

Manusia perlu mengisi hari-hari hidupnya dengan perbuatan baik: menolong sesama, membantu mereka yang sakit, melarat, dan menderita kelaparan. Hidup perlu diisi dengan perbuatan cinta kasih terhadap sesama, bukan sebaliknya merusak hidup sesama. Kalau cinta mengusai hidup kita, maka dengan mudah kita dapat mencintai sesama. Inilah manusia cinta.

Banyak kali, kita lebih memilih diam. Kita mau cari aman di rumah kita sendiri. Kita buta dan tuli terhadap jerit penderitaan sesama. Padahal, kalau kita merenung sejenak, kita menyadari bahwa dari mana dan dengan cara apa kita memperoleh hidup ini? Kita memperoleh hidup dan rejeki secara gratis dari Tuhan. Karenanya kita pun harus berani berbagi dengan sesama, bukan sebaliknya menumpuk harta kekayaan untuk diri kita sendiri.

Saya mengajak kita untuk senantiasa menghormati hidup: hidup kita dan hidup sesama. Kita perlu mengisi hidup kita dengan perbuatan cinta kasih: menolong sesama yang berkekurangan, sebab kita sudah menerimanya secara cuma-cuma dari Tuhan.

Kita juga perlu bahkan harus menjauhkan diri dari sikap dan perbuatan tidak terpuji lainnya, seperti seks bebas, korupsi, membunuh (termasuk aborsi), dan lain sebagainya. Biarlah cinta mengalahkan segala hawa nafsu dalam diri kita dan menghantar kita kepada keabadian bersama Sang empunya hidup ini.

Mari, kita membangun hidup kita. Kita menghormati hidup kita. Kita mengisi hidup ini dengan perbuatan baik, sehingga pada waktunya kita pun dapat berisitirahat dalam damai bersama Sang Pencipta, yang kita imani.

Arso II, 8 April 2013; pk 07.00 WIT

Peter S. Jilung

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 8 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 9 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 15 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak …

Wahyu Indra Sukma | 8 jam lalu

Gerakan Desa Membangun: Sebuah Paradigma …

Yulio Victory | 8 jam lalu

Berbagai Pandangan “Era Baru Polri Dibawah …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: