Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sapto Rini Budi Mumpuni

serius, santai...semoga sukses..manfaat dan melegenda

Kartini (Masa Kini)

REP | 16 April 2013 | 22:04 Dibaca: 279   Komentar: 2   0

Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya…”

Sebait syair ini mengenangkan kita pada sesosok tokoh yang bernama R.A. Kartini yang lahir di Jepara 21 April 1789.  Kartini memberikan pemikiran bahwa wanita bukanlah obyek yang harus selalu berada di bawah kekuasaan laki-laki.

Barangkali, Kartini bukan wanita pertama yang memiliki pemikiran tentang hal tersebut, banyak wanita-wanita masa lalu yang berpikiran maju, seperti Tjut Nya’ Dhien,  Kristina Marta Tiahahu  serta masih banyak lagi tokoh-tokoh pejuang, pembaharu dan pemimpin pada masanya.

R.A. Kartini bukanlah seorang pemimpin, bahkan belum pernah mengangkat senjata untuk berperang melawan penjajah.  R.A. Kartini hanyalah wanita yang dengan rajin menuliskan pemikirannya melalui surat-surat kepada sahabatnya Ny. Abendanon.  R.A. Kartini pula yang mengajak wanita-wanita disekitarnya untuk belajar mandiri, dengan membuka sekolah di rumahnya.

Tanpa harus kita ceritakan bagaimana kisah yang lengkap, yang jelas setelah R.A. Kartini wafat, sahabatnya Ny. Abendanon memberanikan diri menerbitkan isi surat yang tidak lain adalah ungkapan R.A. Kartini tentang kemandirian wanita, keterbatasan wanita dan bagaimana sakitnya hati R.A. Kartini karena dalam hidup wanita selalu dikalahkan, baik dari segi hak maupun dari segi kehidupan secara luas.

Surat-surat itulah yang kemudian membuka mata hati kita, bahwa wanita perlu memiliki kemandirian dan harus membebaskan diri dari kodrat alam, kodrat tradisi sebagai  sekedar “ kanca wingking” bagi laki-laki.  Pada perkembangannya pemikiran Kartini ini kemudian diteriakkan oleh seluruh wanita Indonesia dengan istilah emansipasi.

Emansipasi secara harfiah dapat diartikan sebagai proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinannya untuk berkembang dan maju.  Sering juga diartikan dengan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan. Kemudian Kartini dijadikan tokoh emansipasi wanita Indonesia. Kita semua memperingati hari kelahirannya sebagai hari Kartini.

Pada  masa perjuangan kita bangga dengan Herlina “ si pending emas “, kita bangga dengan Fatmawati, si wanita sejati yang menjadi pendamping Bung Karno pada masa revolusi.  Ada juga kita bangga dengan perjuangan H.R. Rasuna Said mendirikan sekolah untuk wanita di daerah Padang.  Semua tokoh ini wanita yang memiliki kepandaian dan kelebihan masing-masing.

Membicarakan “ Kartini masa kini”,  pantaslah kita bangga.  Kartini-Kartini masa kini adalah Kartini yang memiliki semangat pembaharu, dalam istilahnya disebut inovatif. Kartini masa kini adalah Kartini yang dengan semangat majunya, tidak mau dikekang kekebasan berpikir, tidak mau terkungkung oleh adat dan tradisi yang menghambat karirnya, menghambat aspirasinya, kreatifitasnya dan semua yang menjadi hak asasi manusia.  Kita sering melihat Kartini-Kartini meneriakkan aksi pembelaan perempuan, bahkan saat ini di Indonesia terdapat perkumpulan yang terdiri para aktifis, praktisi hukum dengan nama Koalisi Perempuan Indonesia.

Banyak sekali Kartini masa kini yang mampu membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia dengan prestasinya di dunia Internasional.  Kita mungkin masih ingat bagaimana terharunya kita menyaksikan Susi Susanti, saat sang juara Olimpiade di Barcelona Spanyol menitikkan air mata kebanggaan, bahkan seluruh Indonesia turut merasakan keharuan pada saat itu. Atau kita ikut bangga ketika calon astronot Indonesia ternyata adalah seorang wanita yaitu Dr. Pratiwi Sudharmono, meskipun sampai saat ini belum pernah terbang ke antariksa.

Ternyata “Kartini” sekarang telah menjadikan kita tahu bahwa wanita sejati Indonesia adalah wanita yang dapat berada di posisi samping pria, bukan di belakangnya. Wanita sejati Indonesia bukan sekedar mendampingi suami untuk sukses berkarir, tetapi juga teman untuk berpikir bagaimana memajukan karir, atau dengan kata lain wanita sejatipun harus pandai. Wanita sejati pun harus ikut menentukan bagaimana untuk memajukan bangsa, memajukan masyarakat dan memajukan rumah tangga.  Untuk itu semua diperlukan kepandaian, pendidikan, pembinaan dan kesadaran sebagai bagian dari bangsa.

Disisi lain ada juga keprihatinan kita atas beberapa wanita yang justru memilih untuk memasuki lembah hitam, terlibat dalam Narkoba, terlibat dalam kasus-kasus moral yang kurang layak.  Bahkan keprihatinan juga perlu kita ungkapkan, karena banyak wanita yang juga disebut “Kartini” memilih menjadi TKW, meskipun tidak tertutup hal ini karena faktor ekonomi, tetapi mereka yang menjadi TKW tidak semua memiliki tujuan murni mencari nafkah, kita mendengar ada sebagian yang akhirnya menjual diri.  Ini sama saja dengan menjual bangsa.  Di bagian lain banyak wanita masa kini yang lebih ingin kaya dengan jalan pintas yaitu menjadi bandar Miras, atau Mimuman keras.  Dan masih banyak lagim perilaku yang tidak terpuji.  Barangkali mereka yang seperti ini mengartikan emansipasi secara kebablasan.

Namun demikian terlepas dari itu semua, kita tahu bahwa Kartini masa kini adalah Kartini yang menjadi pembaharu, menjadikan dirinya maju agar dapat menjadi mitra sejajar para laki-laki.  Ikut berdiri di barisan terdepan sebagai pasukan “Garda” menjaga bangsa ini agar tetap utuh berdiri tegak dan kokoh tidak tergoyahkan oleh apapun.  Kalau perlu kita pinjam satu ungkapan, bahwa suatu bangsa maju atau tidak bergantung pada wanita, wanita adalah tiang agama dan tiang negara.  Jika wanita itu beriman dan baik, maka akan baiklah negara ini, tetapi jika wanita tersebut tidak beriman dan tidak baik, runtuhlah negara ini.

Kartini-Kartini muda adalah Kartini yang tahu betul kodrat, harkat wanita tetap harus dijunjung tinggi sebagai kerangka kewanitaannya.  Mereka tetap mempertahankan diri sebagai wanita yang harus menghormati suami, menghormati laki-laki sebagai pemimpin.  Inilah emansipasi yang sebenarnya ingin dimunculkan oleh R.A. Kartini pada masa itu.  Jadi dari lubuk hati terdalam, kita harus bangga dengan Kartini muda masa kini yang secara modern telah membuktikan diri mampu menghadapi tantangan jaman, juga secara tradisional mampu menempatkan diri sebagai “sahabat” laki-laki untuk membangun bangsa ini.  Mewakili Kartini masa lalu saya ucapkan majulah wanita Indonesia, majulah Kartini muda, bangunlah bangsa ini dengan keimanan dan kepandaian yang engkau miliki, jangan sia-siakan bangsa ini dan jangan runtuhkan bangsa ini. Marilah kita jadikan hari Kartini kali ini sebagai ajang perenungan, sudahkah kita wujudkan impian Kartini dengan benar? Atau sudahkan emansipasi kita laksanakan dengan baik ?.

Kalau mungkin R.A. Kartini dapat kita bangunkan sejenak dan kita  ajak bicara dengan bahasa supranatural skenarionya begini :“Ibu Kartini, bagaimanakah pendapat ibu, setelah pemikiran ibu dijadikan alasan wanita untuk maju ?“.  Dengan tersenyum beliau berkata “ saya bangga dan sangat mendukung wanita Indoesia agar dapat sejajar dengan kaum pria, tapi ingat bukan itu saja yang saya inginkan, saya ingin wanita bukanlah bahan yang harus dijadikan obyek penderita kekerasan di bumi pertiwi ini”.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wisata ke Perbatasan Surga dan Neraka di …

Taufikuieks | | 17 December 2014 | 11:24

Melahirkan Cesar Versi Saya dan Ashanty …

Mariam Umm | | 17 December 2014 | 13:39

Mau Operasi Kanker Tulang Kemaluan Atau …

Posma Siahaan | | 17 December 2014 | 19:17

The Hobbit: The Battle of the Five Armies …

Iman Yusuf | | 17 December 2014 | 21:02

Lima Edisi Klasik 16 Besar Liga Champions …

Choirul Huda | | 17 December 2014 | 21:54


TRENDING ARTICLES

Sadisnya Politik Busuk Masa Pilpres di …

Mawalu | 6 jam lalu

Kalah Judi Bola Fuad Sandera Siswi SD …

Dinda Pertiwi | 6 jam lalu

Mas Ninoy N Karundeng, Jangan Salahkan Motor …

Yayat | 7 jam lalu

Jiwa Nasionalis Menteri yang Satu Ini …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Hanya Butuh 22 Detik Produksi Sebuah Motor …

Ben Baharuddin Nur | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

7 Cara Ajaib! Memenangkan Lomba Vote di …

Giant Sugianto | 10 jam lalu

Aristan : Audit Dinas PU Sigi …

Geni Astika | 10 jam lalu

100 Hari Menuju Sakaratul Maut …

Ivone Dwiratna | 10 jam lalu

Dulu Soekarno Mengusir Penjajah, Sekarang …

Abdul Muis Syam | 10 jam lalu

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Suharyadi | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: